Lepaskan Tuhan Selain ALLAH

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita. Niat seseorang merupakan perkara yang sangat penting. Niat yang salah, maka amal juga bisa rusak. Ketika seseorang hijrah karena wanita, maka ia tidak mendapatkan apa-apa selain wanita. Ketika seseorang hijrah karena harta, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harta. Dan ketika seseorang hijrah karena Allah, maka ridha Allah yang ia dapatkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di hati kita. Apakah ada tuhan-tuhan yang lain di hati kita? Apakah itu suami atau istri kita? Apakah itu pekerjaan kita? Apakah itu harta kita? Apakah itu anak-anak kita? Apakah tuhan kita adalah pujian orang? Apakah tuhan kita adalah dukungan/like/followers/ridho manusia? Allah Maha Mengetahui. Allah Tau bagaimana timbangan tuhan-tuhan di hati kita dibanding Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Subhanallah. Walaupun perbuatan kita secara dzahir itu baik, namun batin kita harus lurus kepada Allah. Apalagi jika perbuatan kita tidak baik atau melanggar aturan Allah, maka kita harus segera bertaubat.

Kemudian, jika kita tidak ikhlas kepada Allah; ternyata mudah bagi Allah untuk menegur kita semata-mata agar kita mengerti esensi penciptaan hidup. Bentuk teguran ini merupakan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin Allah selamatkan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Marilah kita periksa hati kita. Barangkali noda-nodanya terlalu banyak. Barangkali dosa dan hawa nafsu telah menghalangi pandangan hati kita dalam mengenali petunjuk-petunjuk Allah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 12 Februari 2018 / 26 Djumadil Awwal 1439H

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Sukses dengan Jalan Mentoring

Mentoring merupakan salah satu jalan menuju sukses di bidang kita. Bagian-bagian mentoring, yaitu: direction (arah), coaching (pembinaan), support (dukungan), goal (tujuan), training (pelatihan), motivation (menyemangati), advice (memberikan nasihat), dan success (keberhasilan). Tidak semua orang menyukai dan merasa butuh mentoring. Namun, seseorang yang peduli pada kemajuan pribadinya butuh mentor.

Di bidang pekerjaan saya sebelumnya, saya membutuhkan beberapa mentor, untuk mengarahkan, menegur saya jika saya berbuat kesalahan, serta memonitor progress (kemajuan) saya. Hal ini tidak saya dapatkan jika saya tidak memiliki mentor.

Untuk meraih kesuksesan dengan jalan mentoring, kita wajib kuasai langkah-langkahnya, yaitu:

  1. Pilih 1 bidang yang ingin dimentorkan

Dengan memilih 1 bidang tersebut, energi kita akan fokus ke sana. Bukan berarti kita hanya boleh memilih 1 bidang mentoring saja, namun berkonsentrasi pada 1 urusan akan lebih baik hasilnya. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

  1. Pastikan bidang itu sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani

Jangan menghabiskan energi kita pada hal yang tidak berguna. Pilihan bidang yang dimentorkan itu haruslah merupakan bidang yang sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Mau bertumbuh dan jangan baper

Seseorang yang sedang proses mentoring, membutuhkan masukan. Terkadang, bisa berupa saran atau kritik yang pedas. Untuk menyikapi hal ini, jangan kita mudah baper (bawa perasaan), karena sikap itu akan menghalangi pertumbuhan kita. Imam Syafi’i berkata, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.”

 

  1. Jangan mudah puas, tetap rendah hati jika sudah meraih sukses

Setelah kita belajar dengan mentor, memperbaiki diri, serta melakukan langkah-langkah yang disarankan mentor, maka kita jangan mudah puas. Jangan merasa sombong jika telah berhasil. Tetaplah rendah hati. Karena kita bisa faham hal tersebut atas izin Allah. Rasulullah tidak mengetahui perkara ghaib berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS Al A’raaf [7]:188) “

 

Dikutip dari situs Wikipedia, dalam Islam ada yang disebut dengan mentoring Agama Islam. Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.

Kegiatan ini dianggap menjadi salah satu metode pendekatan pembinaan agama dan moral yang efektif, karena cara dan bentuk pengajarannya yang berbeda dengan pendidikan agama secara formal di kelas-kelas sekolah. Di beberapa sekolah dan daerah, kegiatan ini terbukti dapat mencegah tawuran pelajar sekolah.

Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor (bahasa Inggris: penasehat), sedangkan peserta mentoring disebut mentee (baca: menti).

Mentoring di luar Agama Islam, bisa seperti: mentor menulis, mentor dalam karir atau pekerjaan, mentor dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 28 Oktober 2017 / 8 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator  Academy

Hikmah Kehidupan Desa yang Tenteram

Apa yang ada di pikiran kita membayangkan suasana desa? Jawabannya bisa berbeda-beda. Sebagian akan menjawab hidup di pedesaan itu tenteram, suasananya sangat kekeluargaan, orang-orangnya suka menolong, mereka tidak berpikir macam-macam, alias sederhana. Ada juga yang menjawab, pedesaan adalah lokasi dimana terdapat ketertinggalan dan berlawanan dengan kemajuan zaman. Ini disebabkan karena jangkauan jarak yang jauh dari pusat aktivitas manusia serta kondisi ekonomi masyarakat pedesaan.

Kalau kita bisa menggali, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita peroleh dengan belajar pada kehidupan di desa untuk diterapkan dimana saja kita tinggal. Mengapa demikian?

Banyak orang stres hidup di kota-kota besar. Ini disebabkan oleh tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan hidup di kota besar. Saat ini jasa mindfulness, healer, hipnoterapi, ataupun psikolog-psikiater banyak dibutuhkan di kota-kota besar. Manusia butuh merasa tenteram.

Jika kondisi manusia sudah tenteram, dia akan merasa bahagia dan dan merasa  baik dalam hubungannya dalam kehidupaan ini. Ini bisa didapatkan dengan mencontoh nilai-nilai yang berdasarkan pada nurani, yang jauh dari nafsu-ego berlebihan, dan yang sesuai dengan apa yang Allah cintai serta Rasulullah ajarkan.

Berikut merupakan cara-cara yang bisa dilakukan untuk hidup tenteram:

  1. Qona’ah.

Qona’ah merupakan sikap merasa cukup dengan rezeki Allah. Ini berbeda dengan sikap malas, tidak mau berusaha, ataupun bergantung kepada orang lain. Qona’ah membuat kita tenteram karena kita tidak mengejar ambisi secara berlebihan. Karena pada hakikatnya, semua merupakan urusan dunia. ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qona’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

  1. Rendah hati.

Betapa beruntungnya orang yang dikaruniai sifat rendah hati. Dia mudah bergaul dengan segala kalangan dan orang-orang pun menyukainya. Sifat rendah hati atau low profile merupakan kebalikan dari sifat sombong atau tinggi hati. Kehidupan di pedesaan gotong-royong, mereka saling membutuhkan. Maka tidak heran, jika masyarakatnya memiliki sifat rendah hati.

  1. Peduli pada lingkungan sekitar, sehingga menambah teman dan persaudaraan.

Kepedulian kita pada orang lain merupakan wujud kita menghormati, menghargai, serta berkasih sayang kepada orang lain.

  1. Menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, tidak mengganggu.

Bermasyarakat butuh saling menjaga. Ini berupa kebersihan dan ketertiban lingkungan. Tentu kita tidak suka jika di waktu tidur, ada suara bising yang mengganggu. Begitu pula jika ada tetangga membuang sampah di halaman rumah, tentu semua orang juga tidak suka. Hal-hal inilah yang perlu kita mengerti dan kita jaga.

  1. Budayakan senyum, sapa, salam, sedekah.

Ketika bertemu dengan orang lain, usahakan selalu tersenyum, menyapa, dan mengucapkan salam. Ini sebuah bentuk sopan santun serta menjaga keharmonisan. Juga, jadilah orang yang suka bersedekah. Sedekah ini bisa berupa apa saja, namun prioritaskan yang dekat dan mendesak.

 

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah ada dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya. Lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, hlm. 160.

Kehidupan di pedesaan tidak banyak menuntut. Ini seperti nilai dari hadits Rasulullah tersebut, untuk mudah merasa senang dan puas dengan berkah yang telah diberikan Allah dalam kehidupan kita. Dengan begitu, kita merasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 27 Oktober 2017 / 7 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Sumber Hadits dan Kitab: Meraih Sifat Qana’ah

Sumber Gambar: Brilio

Komunitas Insan Qurani

Rasulullah bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Hadits tersebut membuat saya tergugah untuk berbuat sesuatu. Rasanya, amal yang telah saya lakukan selama ini belumlah  cukup. Pasti ada kesalahan dan kesempurnaan. Pasti tercampur dengan noda-noda. Astaghfirullahal adziim…

Seorang praktisi dan pemerhati pendidikan Islam, KH Mohammad Hidayat mengaku prihatin dengan rendahnya kemampuan umat Islam Indonesia dalam baca tulis Alquran. Di kota-kota besar saja, hanya mencapai 70 persen masyarakat yang melek Alquran. “Angka 70 persen itu mereka yang hanya bisa membaca alif, ba, ta, tsa secara terputus. Sementara yang bisa membaca huruf al-Qur`an secara tersambung masih sedikit. Bahkan yang membaca sesuai tajwid hanya beberapa persen saja,” jelas KH Mohammad Hidayat yang juga menjabat Ketua Dewan Pendiri dan Pembina Yayasan Majelis Taklim Al Washiyyah itu.

Kemuliaan Alquran yang luar biasa harus kita jaga. Berikut kutipan dari para guru kita, ulama-ulama klasik mengenal mukjizat Alquran,

Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Alquran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Alquran.”

Berkata Al-Imam Qurtubi:

“Barang siapa yang membaca Alquran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun.”

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah:

“Perbanyaklah membaca Alquran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan dimudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:

“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Alquran,  maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:

“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Alquran”.

Berkata Shaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah Ta’ala”.

“Bergantunglah pada Alquran niscaya kau akan mendapatkan keberkahan”.

Berkata sebagian ahli tafsir:

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Alquran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia.”

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Alquran dan mengamalkan kandungannya.”

Bila Anda cinta pada Alquran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Alquran maka pahala akan mengalir pada anda.

Itulah mengapa, saya lalu membentuk Komunitas Insan Qurani di tahun 2015. Memang hal ini merupakan cita-cita sekaligus passion saya sejak dulu. Komunitas Insan Qurani memilliki kegiatan menyalurkan Iqro’ dan Alquran kepada anak-anak yang membutuhkan. Targetnya kepada anak-anak yang memiliki pendampingan. Artinya, anak-anak tersebut memiliki guru baca Alquran.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Komunitas Insan Qurani, yaitu:

  1. Kolaborasi dengan lembaga amal

Kami bekerja sama dengan TPA, Pondok Pesantren, dan lembaga penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf lainnya. Dari Rumah Zakat, Rumah Buku Ilmi, TPA, Pondok Pesantren, dan masjid-masjid yang membutuhkan.

  1. Memanfaatkan media sosial untuk menggalang bantuan wakaf

Di era media sosial, kami juga menggunakan sarana Facebook, Instagram, dan Path untuk mengumumkan dibukanya donasi wakaf. Biasanya setelah itu, ada saja teman-teman yang tergerak hatinya untuk ikut berdonasi.

  1. Menginformasi amanah wakaf yang sudah disalurkan

Wakaf yang sudah disalurkan, diinformasikan melalui sebuah akun WordPress, termasuk jumlah Iqro’ dan Alquran, lokasi penerimaan wakaf, dan foto-foto kegiatan. Biasanya kami juga sudah update di blog untuk rencana wakaf selanjutnya.

  1. Memperhatikan daerah-daerah terpencil yang membutuhkan

Biasanya, tempat-tempat yang kami pilih memang merupakan tempat-tempat yang layak untuk diberikan wakaf. Tidak hanya di pulau Jawa saja, namun tersebar di seluruh Indonesia.

  1. Saling mendukung dan menyemangati satu sama lain

Ada kalanya relawan kami mengalami kejenuhan. Ada kalanya off untuk berkonsentrasi mengajar TPA, memperkuat hafalan, atau urusan-urusan lain. Namun, kami saling mendukung dan menyemangati agar istiqomah di jalan ini.

Komunitas Insan Qurani memang baru berusia 2 tahun, namun sejauh ini Alhamdulillah dukungan terus mengalir walaupun sedikit. Kami berharap agar komunitas ini istiqomah dalam berkhidmad kepada ummat Islam. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Dirimu Panglimamu


Pernahkah kita mengalami kegamangan dalam menentukan pilihan hidup? Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Bagaimana kita menyikapi kegagalan-kegagalan yang menyertai langkah kita?

Seorang sahabat saya bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu, bahwa ia pindah ke kota kelahirannya dari Jakarta untuk merintis karir dia sebagai notaris dan merawat orang tuanya. Sebelumnya, dia tinggal di Jakarta selama lebih dari 15 tahun. Sahabat saya itu merupakan orang yang berani tegas terhadap apa yang dicita-citakan, namun ia juga melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di dalam perjalanan. Begitulah dia yang berani menjadi panglima dalam diri sendiri. Tentu saja hal itu dilakukan dengan izin dan ridho Allah.

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.

Dalam hadits tersebut, dinyatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab pada apapun pilihan hidup kita. Berani memilih dan berani bertanggung jawab akan membuat kita bahagia dan tidak tertekan. Kita akan menjadi pribadi dewasa karena hal tersebut.

Lalu, bagaimana cara untuk menjadi panglima dalam hidup kita sendiri?

Pertama, tentukanlah goal setting di dunia dan di akhirat.

Kedua, jadikan goal setting tersebut sebagai visi kita. Dan buatlah misi-misi untuk menuju ke sana.

Ketiga, perbaikilah attitude kita. Rendahkanlah hati, jadilah pribadi yang sopan santun, pribadi sabar dan lemah lembut.

Keempat, monitorlah kemajuan kita. Dari situ kita bisa mengerti mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan.

Dalam Riyadhush Shalihin disebutkan tentang kewajiban menegakkan keadilan. Adil dalam dirinya dengan tidak memberatkan pada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah, dia harus memperhatikannya hingga kepada masalah kebaikan, jangan memberatkan dan membebankannya terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.

Panglima artinya dia juga akan memimpin peperangan. Perang di sini merupakan perang terhadap musuh-musuh ataupun tantangan-tantangan yang bisa menghalangi tujuannya. Musuh tidak selalu merupakan orang lain. Misalnya, dia masih malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Maka, dia berperang untuk memotivasi diri, untuk tidak mudah patang arang, dan untuk tidak mudah bosan.

Semua orang di dalam perjalanan hidup akan menghadapi titik jenuh. Di sinilah dia butuh refreshing atau memetakan kembali arah hidup. Ada aspirasi-aspirasi dan kesempatan-kesempatan yang datang juga jangan ditampik, namun dipertimbangkan.  Terkadang, seseorang terlalu fokus pada suatu pekerjaan, sehingga dia lupa apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ini juga bukan hal yang baik. Karena menjadikan seseorang kaku dan egois. Yang terbaik adalah, kita tetap peduli dan tanggap pada lingkungan. Ini menjadikan kita manusia yang efektif, yang tidak hanya mencapai keberhasilan pribadi namun mampu memberdayakan dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Seorang panglima, pasti punya pasukan. Jika kita sudah beres dengan diri kita sendiri dan arah hidup kita, maka akan lebih mudah kita memiliki orang-orang yang mau diajak bahu-membahu dalam membangun visi. Bukankah manusia terbaik merupakan manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 26 Oktober 2017 / 6 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

 

Hijrah dan Keterasingan

Subhanallah. Sudah lazim bahwa di negeri kita; apa yang berbeda sedikit akan disorot. Masih banyak hal-hal yang sesuai tuntunan Rasulullah namun disorot karena berbeda. Misalnya: kebiasaan tidak bersalaman dengan nonmuhrim, memakai hijab di depan ipar-ipar dan kerabat yang nonmuhrim, atau tidak melakukan ritual-ritual yang mengarah pada syirik seperti: perhitungan dan ramalan hari pernikahan, ataupun ritual meminta ke kuburan.

Sebenarnya fenomena keterasingan ini sudah dikatakan oleh Baginda Rasulullah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Maka, jika kebetulan kita merupakan pihak yang merasa asing atau dianggap asing; bersyukurlah. Jangan berkecil hati karena kita sedang mengamalkan Islam dengan kaffah. Islam yang kaffah artinya totalitas dan bersifat holistik terhadap ajaran Islam. Islam yang kaffah berarti menggunakan paradigma Alquran dalam menyikapi kehidupan. Islam yang kaffah berarti mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sebagai junjungan kita.

Masyaa Allah. Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Ternyata Islam memberikan kita solusi untuk berkumpul bersama teman-teman yang sholih. Bukankah teman itu besar pengaruhnya pada kita? Teman-teman yang dengan melihatnya kita bisa ingat kepada Allah Azza wa Jalla itulah yang menolong kita. Bahwa nanti di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan amal masing-masing, namun ada syafa’at dari teman-teman sholih jika kita bersama mereka dalam ketaatan.

Hadir ke majelis ilmu juga merupakan penguat dalam hijrah kita ke jalan Allah. Majelis ilmu akan menuntun keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Ilmu lalu amal. Begitulah alurnya. Setelah kita faham ilmunya, maka ilmu itu hanya akan bermanfaat jika digunakan, dipraktikkan, atau diamalkan.

Lantas, mengapa orang-orang antipati terhadap mereka yang berhijrah? Mari kita renungi dan turunkan ego untuk bermuhasabah. Bisa jadi itu karena akhlak mereka sendiri. Di saat mereka tidak ramah, merasa suci, merasa paling benar, merasa paling baik, hanya mau menolong yang sama atau segolongan dengan mereka; maka itulah kerusakannya. Itulah yang menyebabkan orang-orang tidak simpatik. Astaghfirullahal adziim… Jangan pernah merasa sombong dan angkuh dengan keimanan kita, jangan bersikap melangit karena ketaaatan kita. Karena setitik sifat sombong akan menghalangi kita dari surga. Hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak memiliki kesombongan.

Berhijrah juga membutuhkan doa agar diberikan istiqamah. Karena kita tau bagaimana syaitan menggoda kita dari segala arah. Dan kita wajib berdoa untuk husnul khotimah.

Apabila langkah-langkah tersebut kita jalankan dengan sabar dan ikhlas mengharap pada ridho dan pahala Allah, maka In syaa Allah kita akan mendapati ketenteraman hidup. Kita menjadi lebih tawakkal setelah ikhtiar. Bahwa apapun yang diberikan Allah Azza wa Jalla merupakan nikmat yang sangat indah. Mengenal Islam itu indah.

Semoga kita senantiasa dibantu Allah agar istiqamah dalam hijrah. Aamiin aamiin ya mujibassailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 24 Oktober 2017 / 4 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Memupuk Semangat Kajian

Majelis ilmu merupakan salah satu cara untuk menjaga keistiqamahan kita. Dengan majelis ilmu, iman dan takwa kita terjaga. Dengan majelis ilmu kita diampuni Allah, dibukakan pintu surga, dan dihindarkan dari api neraka. Dengan majelis ilmu kita bisa mendapatkan keberkahan halaqah ilmu dan bertemu dengan orang-orang shaleh.

Dalam menjalani kehidupan harus selalu diwaspadai, akan terjadi hal-hal baru yang baik atau buruk, menguntungkan dan atau merugikan. Semua ini ada yang dapat diatasi dan diatur, ada yang tidak, terjadi secara spontan menurutkan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ada yang dapat diterima dan lebih sering tidak dapat diterima.

Maka, marilah kita bersemangat hadir ke majelis ilmu. Futur merupakan situasi dimana seseorang lemah dalam ibadah. Kita harus melawan rasa malas ini. Dengan cara: berlindung dari godaan setan, istighfar, dan memperkuat azzam untuk hadir ke majelis ilmu.

 

Dalil-dalil mengenai fadhilah tholabul ‘ilmi di antaranya:

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR.Bukhari).

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar [39]: 9)

“Barangsiapa keluar dalam rangka tholabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hadits ini bersanad hasan)

“Barangsiap menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Setiap manusia adalah makhluk pembelajar secara alamiah. Ketika bayi, dia belajar untuk mengenali hidup baru setelah berpindah dari rahim ibunya ke dunia. Setiap tahapan butuh pembelajaran baru, dan seterusnya.

Ayat pertama Al Qur’an menyebutkan; “Bacalah”. Surat Iqro’ atau surat Al ‘Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan pada Rasulullah. Surat tersebut adalah surat Makkiyyah. Di awal-awal surat berisi perintah membaca. Yang dengan membaca dapat diketahui perintah dan larangan Allah.

Allah berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5). Ada hal yang harus bertambah seiring usia kita. Allah berfirman kepada kekasihNya: dan katakanlah (wahai Muhammad); “Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS Thaahaa: 114)\

Maka Allah meminta agar Rasulullah memohon pada Allah agar bertambah ilmu Beliau. Lalu bagaimana kita sebagai umat Rasulullah? Tentu kita meneladaninya.

Imam Syafi’i menegaskan: “Ilmu bukanlah teori yang Anda hafal namun yang bermanfaat (diamalkan) dalam kehidupan Anda.” (Sumber: Baihaqi dalam Al Mad)

Kedudukan ilmu tidak hanya sebatas pengetahuan namun menjadi hal yang bermanfaat bagi kehidupan; membawa kita semakin bertaqwa pada Allah, semakin semangat ibadah, semakin santun dan baik pada sesama. Rezeki pengertian dan kefahaman, tidak hanya sekedar pengetahuan. Juga berupa: hidayah.

Beberapa kiat yang dibutuhkan seorang pembelajar agar mendapatkan tambahan rezeki pengertian dan kefahaman:

  1. Ikhlas

Seorang pembelajar harus memiliki niat ikhlas. Ikhlas juga membuatnya tidak menjadikan ilmu sebagai sarana bermegah-megahan. Ikhlas juga menjadikan sabar terhadap sikap guru yang keras ataupun berbagai cobaan dan gangguan.

  1. Rendah Hati

Seorang pembelajar butuh rendah hati, tidak merasa sudah tau sehingga tidak butuh tambah pengetahuan.

  1. Kesungguhan

Kesungguhan akan membuatnya rajin, tekun, dan menggunakan cara-cara dalam mengikat pengertian dan kefahaman yang dimiliki.

Semoga Allah menambahkan bagi kita rezeki pengertian dan kefahaman.

Semoga Allah tuntun langkah kaki kita untuk menuju rumah-Nya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Palembang, 22 Oktober 2017 / 2 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Seni Bermuamalah

Menghadapi manusia dengan segala jenis latar belakang, watak, dan perilakunya butuh ilmu, keterampilan, pengalaman, dimana semuanya itu merupakan seni bermuamalah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Suatu ketika, Aisyah Radhiyallahu ‘anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah, jawaban Beliau, “Akhlak Rasulullah adalah Alquran.”

Salah satu akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang paling mulia yaitu seorang pemaaf. Rasulullah tidak mudah sakit hati walau diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun.

Diriwayatkan, setiap kali Rasulullah pulang dari masjid beliau diludahi oleh seorang kafir. Suatu hari Rasulullah tidak mendapati orang tersebut, ketika ia mengetahui orang itu ternyata sakit, beliau bergegas menjenguknya. Dan karena sebab itulah orang tersebut masuk Islam.

Dalam perjalanan dakwah ke Taif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam  hadapi. Rasulullah ditolak oleh pemimpin Tsaqiif, bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah.

Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah menolak bahkan mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Diceritakan oleh Anas, salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bahwa ada seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah dengan membawa seekor kambing (bakar) yang telah diracuni. Kemudian beliau memakan sebagian darinya. Lalu Rasulullah mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah segera bertanya kepadanya tentang hal itu.

Wanita itu menjawab, “Saya ingin membunuhmu.”

Para sahabat berkata, “Perlukah kita membunuh wanita ini?”

“Jangan!” jawab Rasulullah.

 

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat bekas racun itu senantiasa berada di langit-langit mulut Rasulullah.” (Hadist Riwayat Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan lainnya). Hadist tersebut menceritakan kejadian setelah Rasulullah mengalahkan yahudi di Madinah pada Perang Khaibar. Wanita yahudi tersebut sangat memusuhi Rasulullah. Ia yakin bahwa dengan meracuni hidangan untuk Rasulullah maka ia akan sukses membalas kekalahan yang dialami oleh Kaum Yahudi.

Saat ditanya alasannya meracuni daging kambing tersebut, ia tidak membantah bahwa ia ingin meracuni Rasulullah dan menjawab, “ Saya pikir jika engkau memang benar seorang nabi, maka racun tersebut tidak akan berbahaya untukmu. Namun apabila engkau seorang raja, maka engkau memang pantas untuk dibunuh”.

Di banyak negara, jika ada seseorang yang tertangkap berusaha membunuh pemimpinnya maka akan ditanggapi secara serius dan akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Namun, reaksi Rasulullah saat mendengar alasan wanita itu justru melarang para sahabat untuk membunuh wanita tersebut.

Walaupun wanita tersebut tidak dihukum mati karena telah meracuni makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak hadist yang mengatakan bahwa ia dikenakan hukum mati karena daging kambing beracun itu sebelum dimakan oleh Rasulullah, dimakan oleh salah satu sahabat nabi, Bishr Ibn Al-Baraa, hingga akhirnya ia wafat. Tindakan ini diambil karena dalam islam pembunuhan tidak dapat ditoleransi. Walaupun Rasulullah akan selalu memaafkan segala perlakuan buruk terhadap dirinya, beliau tetap tidak akan melanggar hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah..

Kisah-kisah tersebut merupakan contoh bagaimana pemaafnya Rasulullah. Beliau merupakan orang yang dermawan, murah senyum, santun, lembut, serta pemaaf. Walaupun air susu dibalas dengan air tuba pun, Beliau tidak mendendam. Justru Beliau membalas dengan doa. Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Dalam bermuamalah, sikap sabar dan memaafkan merupakan hal yang penting. Tanpa kesabaran dan pemaafan, bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan harmonis dan saling menghargai satu sama lain? Allah Azza wa Jalla juga berfirman, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS: As-Syuraa: 43)

Para penghuni surga merupakan orang bertakwa dan akhlak mulia. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam  ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, kemudian Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.”” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Semoga kita bisa meneladani akhlak mulia dari utusan Allah yang termulia ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan membantu kita memperbaiki akhlak. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Palembang, 21 Oktober 2017 / 1 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Referensi:

Sikap Pemaaf Rasulullah dan Seorang Kafir yang Meludahinya

Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga

Menggapai Keberkahan Waktu


Dalam sehari setiap orang memperoleh jatah waktu yang sama oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu: 24 jam. Namun mengapa ada orang yang tujuan-tujuan penting hidupnya tercapai serta urusan-urusan primordial dalam kehidupannya lancar? Jawabannya adalah orang tersebut pandai memanfaatkan waktu sehingga waktu 24 jamnya berkah. Secara bahasa, berkah artinya kebaikan yang bertambah. Menurut bahasa, berkah berasal dari bahasa Arab: barokah, artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79).

Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia.

Ketika umat Islam datang ke Baitullah untuk menunaikan ibadah. Apakah yang sebenarnya disembah? Mengapa semuanya menghadap ka’bah untuk sujud? Ka’bah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS setelah mendapatkan petunjuk dari Allah Azza wa Jalla. Nenek moyang Nabi Ibrahim merupakan penyembah berhala. Ayah dari Nabi Ibrahim merupakan penjual patung berhala. Fondasi dari agama Islam adalah tauhid. Tauhid artinya mengesakan Allah atau menyembah kepada satu Tuhan, yaitu: Allah. Fondasi dalam agama inilah yang dinamakan aqidah. Sebagai mukmin, jangan kita menghabiskan usia kita untuk mendekati syirik besar maupun kecil. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah, karena menyekutukan Allah. Mengenai syirik, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48) Maka seorang mukmin wajib faham hal ini, agar perbuatannya di dunia menjadi tidak sia-sia.

Mukmin membaca Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat sebagai kitabullah yang memberikan petunjuk kepada keselamatan, pembeda yang haq dan yang batil serta mengambil hikmah dari kisah-kisah umat terdahulu. Dalam sehari, apakah kita sudah menyempatkan membaca Alquran? Alquran merupakan bukti cinta Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka, sempatkanlah. Bagilah waktu untuk membaca Alquran. Bacalah Al Qur’an minimal 1 hari 1 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/2 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/4 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 lembar,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 halaman,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 ayat,

Dan jika masih tidak sanggup, bercerminlah dan renungkan, “Ya Allah, apa dosa yang telah ‘ku perbuat sehingga aku tidak sanggup membaca Alquran 1 ayat pun? Salah satu keberkahan ibadah adalah kita diberi kesempatan membaca Alquran tiap hari. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Waktu istirahat terbagi menjadi beberapa waktu. Malam merupakan waktu utama untuk istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”. (QS. Ar Rum: 23).

Dalam sehari, Rasulullah menganjurkan beberapa waktu untuk istirahat. Ada waktu-waktu yang tidak dianjurkan dalam Islam untuk tidur, yaitu:

  1. Tidur selepas makan
  2. Tidur sepanjang hari
  3. Tidur pada waktu Ashar
  4. Tidur selepas Subuh atau waktu pagi
  5. Tidur sebelum waktu Isya’

Waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang berkah untuk aktivitas-aktivitas seperti: mencari rezeki, tholabul ‘ilmu, atau melayani keluarga. Tidur terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh kita, biasanya muncul sinyal-sinyal tubuh berupa pusing jika tidur sudah terlalu banyak. Untuk meraih potensi pahala, kita juga harus mengejarnya. Tidak boleh bermalas-malasan.

Allah berjanji demi masa QS. Al-Ashr 1-3;

  1. Demi massa
  2. Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Maka, manfaatkan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Manfaatkan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Dan manfaatkan waktu hidupmu sebelum datang matimu. Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam ketakwaan dan amal sholeh. Aamiin aamiin yaa mujibas sailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 20 Oktober 2017 / 30 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Referensi:

Apakah Dosa Syirik Dimpuni?

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Tidur Dalam Tatanan Sunnah

 

Beramal Kemudian Lupakan

Setiap hari kita bangun dari tidur, apa yang pertama kali kita ingat dan lakukan? Sebagian dari kita akan langsung bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat. Namun, apa yang bisa kita lakukan sebelum itu? Ustadz Arifin Jayadiningrat, dalam salah satu ceramahnya, Beliau berkata, “Sewaktu membuka mata dari tidur, ucapkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Karena ruh kita telah dikembalikan. Bayangkanlah, jika hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kita.”

Jika seorang mukmin memiliki paradigma bahwa setiap hari bisa saja merupakan hari dimana malaikat maut bisa menjemput ajalnya, maka ia akan bersungguh-sungguh memanfaatkan hari itu sebaik-baiknya. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka akan bersegera melakukan amal sholeh. Kita berazzam untuk bangun tahajud dengan istiqamah, karena kemuliaan tahajud. Kita tunaikan puasa wajib dan sunnah, merapikan shalat dan menambah dengan shalat sunnah, berbakti pada orang tua, sedekah, membaca serta menghafal Alquran, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah jika ada yang meninggal, memenuhi undangan jika ada undangan, kita berikan akhlak mulia kepada siapa saja yang bertemu dengan kita. Masyaa Allah. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.” (QS. As-Sajdah: 16-17).

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka yang kita pikirkan adalah “Sudah cukupkah amalku untuk menghadap Allah?” Inilah yang seharusnya menjadi niat kita dalam beramal. Para salafush shalih dulu berlomba-lomba menyembunyikan amal, sedangkan fenomena yang terjadi pada saat ini kita malah menampakkan amal-amal kita. Al-Imam Ja’far al-Shadiq ‘alaihissalaam berkata, “Kebaikan kepada orang lain itu tidak sempurna kecuali dengan tiga hal, menyegerakannya, menganggapnya kecil dan menutupinya.” (Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya juz 3 halaman 198).

Betapa banyak anjuran untuk beramal lalu menganggap amalan tersebut ringan, menyembunyikan, dan melupakannya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merasa kuatir apabila umatnya terjangkit penyakit riya’. Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi, riya’ merupakan amalan yang tidak ikhlas menghadap wajah Allah atau memurnikan karena Allah karena ingin mendapatkan pandangan, sanjungan, dan pujian dari manusia. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Di dalam bersedekahpun Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“ (QS. Al Baqarah: 264). Ayat tersebut menjelaskan kepada kita mengenai 3 hal yang dapat menghapus pahala sedekah, yaitu:

  1. Menyebut-nyebut pemberian sedekah.
  2. Menyakiti orang yang diberi sedekah.
  3. Perbuatan riya’ terhadap amal.

Sebagai mukmin yang menyadari bahwa tugasnya di dunia adalah beribadah kepada Allah dan senantiasa mengingat kematian, maka in syaa Allah perbuatan tersebut bisa dijauhi. Kita memohon dalam doa agar diberikan amalan yang diterima, maka caranya adalah dengan menganggap amalan kita tersebut belum ada apa-apanya. Di dalam dzikir dan doa pagi, kita berdoa, “Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an wa rizqon thoyyiban wa a’malan mutaqobalan.Ya Allah, aku mohon kepadamu berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima di sisi-Mu.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa kepada kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat, yaitu: ilmu agama berupa Alquran dan Sunnah. Rizki yang baik merupakan rizki yang halal dan bermanfaat, berupa: makanan dan minuman yang halal dan baik, tempat tinggal, kendaraan, dan segala keperluan dalam kehidupan. Amalan yang diterima merupakan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan dilakukan secara ikhlas untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa dikotori dengan riya’ dan sum’ah (catatan: riya’ adalah ingin dilihat, sum’ah adalah ingin didengar). Adanya riya’ dan sum’ah akan membawa seseorang pada sifat ujub atau berbangga diri, dan sifat takabur atau tinggi hati. Naudzubillahi min dzalik.

Kita bisa beramal, sebenarnya karena Allah Azza wa Jalla membuka pintu amal tersebut untuk kita dan mengizinkan kita melakukan amalan tersebut. Jika tidak karena rahmat-Nya, kita tidak bisa melakukan amalan tersebut. Semoga hati kita senantiasa dibimbing oleh Allah untuk mengarah pada hal-hal yang Allah sukai. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 19 Oktober 2017  / 29 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Referensi: