Berbuat yang Terbaik dalam Ibadah


Saudaraku yang dicintai Allah,
Pernahkah mendengar atau bahkan terbersit di hati kecil kita pertanyaan-pertanyaan seperti;
“Mengapa begitu ngotot tentang agama?”
“Mengapa begitu ngotot ibadah?”
“Mengapa begitu semangat dengan amalan?”
“Apa tidak capek?”
“Mengapa tidak santai sedikit saja?”

Mari coba kita telaah karena orang yang ringan hisabnya di hari akhirat adalah orang yang menghisab dirinya ketika ada di dunia.
Ketika kita beramal, kita tentu punya salah. Aqidah tauhid kita; apakah tauhid kita bersih atau tercemar. Shalat kita, zakat kita, dan puasa kita; apakah sudah tertunaikan rukun-rukunnya. Ibadah ke tanah suci; bagaimana niat dan perilaku kita. Sedekah kita; apakah sudah dilakukan dengan cara yang ma’ruf. Bagaimana kita hadir ke majelis ilmu; apa sebenarnya niat kita ke majelis. Akhlak-adab kita dan segala perbuatan kita tentu ada salah; baik itu ketika niat sebelum mengerjakan, sewaktu mengerjakan amalan tersebut, maupun sesudah kita mengerjakannya.

Jadi, ngotot atau mengerahkan tenaga dan usaha saja belum tentu diterima jika tidak ikhlas mengharap ridho Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Dalam QS Al Ma’un (107) ayat 4-5 disebutkan;

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,”

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”

Rasulullah SAW pernah melihat sahabat shalat tidak sempurna, lalu Beliau menyuruh sahabat Beliau mengulangi shalatnya lagi. Maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh…

Apalagi jika kita membandingkan dengan dosa-dosa kita…
Padahal saat kita berbuat dosa Allah melihat, malaikat mencatat, kita berbuat di bumi Allah dengan fasilitas Allah… Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih… Betapa malunya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sebagai hambaNya, kita malu jika hanya memberikan yang biasa-biasa saja, padahal Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang sikap Ihsan di ayat berikut.

QS Al Kahfi (18): 7

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

QS Al Mulk (67): 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Maka marilah kita bersemangat dalam kebaikan (catatan: kebajikan = perbuatannya), sebelum hadir masa di mana buku amal kita sudah diberikan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 7 Ramadhan 1438H / 2 Juni 2017

Referensi:

  1. Faedah Istighfar dan Taubat oleh: Ustadz Firanda Andirja
    https://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/388-faedah-istigfar-dan-taubat
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. TafirQ
    https://tafsirq.com
  4. Ilustrasi Gambar
    https://kaahil.wordpress.com/2013/11/20/makalah-makna-dalil-contoh-berlomba-lomba-dalam-kebaikankebajikan-fastabiqul-khoiroot-albaqoroh-148

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *