Jauhi Sifat Pendendam


Dalam pergaulan, tidak sedikit kita mengalami gesekan-gesekan. Ketika kita mengucapkan sebuah kalimat namun kalimat tersebut diterima orang lain dengan pesan yang berbeda. Seperti misalnya, “Hari ini saya tidak masuk ke kantor, saya merasa tidak enak badan.” Namun pernyataan tersebut didengar, “Hari ini saya tidak masuk ke kantor, saya merasa tidak enak.” Satu kata yang tidak ditangkap atau dimengerti dengan tepat akan berpotensi timbul kesalahfahaman. Bisa saja, kata tidak enak kemudian diartikan sebagai tidak enak dengan bosnya atau lingkungan kerjanya atau bisa juga tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya. Lalu akan timbul prasangka, dan disinilah setan akan masuk. Setan akan menggoda pada sikap antipati dan rusaknya hubungan. Memang begitulah tugas setan. Naudzubillahi min dzalik.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan (menggoda) kepada anak Adam (manusia) laksana aliran darah.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Kisah gesekan lain, misalnya: kita telah mempercayakan uang kita pada sebuah travel umroh-haji, namun pada saat jadwal keberangkatan tiba ternyata travel tersebut bermasalah. Dana jamaah digunakan untuk keperluan lain atau menutup hutang, sehingga biaya keberangkatan sudah tidak mencukupi lagi. Apa yang dirasakan jamaah tersebut? Mereka akan merasa dibohongi karena janji yang tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka akan merasa bahwa travel tersebut tidak bisa dipercaya karena tidak menepati apa yang dikatakan oleh karyawan travel. Apalagi jika dana ibadah tersebut tidak diberikan, mereka akan merasa didzolimi. “Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR. Bukhori)

Ada juga seseorang yang bercerita kepada kita atau mencurahkan isi hati. Namun, respon yang kita berikan terhadap permasalahannya tidak memuaskan hatinya. Karena kita merespon secara obyektif dan tidak disukai oleh egonya. Alih-alih berterima kasih, orang tersebut malah berubah sikap kepada kita, menempatkan kita di posisi tidak nyaman, dan bahkan berkata-kata kasar terhadap kita. Hal ini disebabkan nafsu amarah yang tidak terkontrol. Muslim yang sejati tidak akan menggunakan lidahnya untuk ucapan yang sia-sia, tidak berkata kasar atau keji, tidak berkata kotor, apalagi sampai melaknat. “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok.” (HR. Bukhori)

Berkenaan dengan masalah lidah, ada sebuah kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Muadz bin Jabal berkata, “Aku berkendara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sampai lututku bersentuhan dengan lututnya, kami berkendara bersama, kemudian aku bertanya kepadanya beberapa pertanyaan tentang shalat, sedekah, dan iman. Wahai Nabi Allah, katakanlah kepadaku tentang amal baik yang akan mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Muadz, sesungguhnya kau telah bertanya tentang sesuatu yang baik. Haruskah aku memberitahumu sesuatu, yang mencakup semua yang kusebutkan?”

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berpikir, “Tentu saja, ya Rasulullah. Amal apakah itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan jarinya yang mulia, menunjuk ke arah lidahnya dan berkata kepada Muadz bin Jabal “Jagalah ini.”

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dipertanggungjawabkan dan ditanyakan perihal lidah kita?” Dia bertanya karena terkejut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda “Wahai Muadz, kupikir kau adalah orang yang paling pintar. Apakah ada sebab yang akan menyebabkan wajah orang-orang terjatuh ke dalam neraka jahannam, selain apa yang lidah mereka ucapkan?” Begitulah baginda Rasulullah menjelaskan mengenai keutamaan menjaga lisan.

Di dalam habluminannas, urusan menjaga lidah berbeda makna dengan membiarkan sebuah permasalahan berlarut-larut. Jangan karena kita takut tidak bisa menjaga lidah, kita kemudian mendiamkan permasalahan. Ada permasalahan yang timbul dengan sendirinya tanpa kita undang, semata-mata sebagai bentuk pengalaman. Allah memberikan permasalahan tersebut agar kita menjadi lebih sabar, dewasa, kuat, serta mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Berikut merupakan langkah-langkah dalam menghindari kesalahfahaman:

  1. Selesaikan masalah, bicarakan, serta jangan ditunda karena akan membawa beban sesak di dada dan bisa menimbulkan perselisihan.
  2. Gunakan kata-kata yang santun, lembut, dan bijak.
  3. Jauhi dari prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat (49): 12)
  4. Lihatlah dari banyak sudut pandang. Apa yang menurut kita cocok, belum tentu itu yang terbaik bagi orang lain. Apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu kita menyadarinya. Apa yang menjadi selera orang lain, belum tentu cocok di kita. Dan sebaliknya. Toleransi dan pengertian akan menjadi solusi dari hal ini.

Sebagai orang yang beriman, janganlah kita menjadi pendendam, karena tidak menerima suatu peristiwa yang telah terjadi atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, jika orang lain memusuhi kita, maka Alquran memberikan petunjuk mengenai hal ini. “Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat (41): 34-35). Walaupun, sebenarnya kita bisa membalas, namun memaafkan lebih utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Apabila seseorang menghina dan melecehkanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada pada dirimu maka jangan engkau balas dengan apa-apa yang engkau ketahui terdapat pada dirinya. Biarlah akibat buruk menjadi tanggungannya.” (Shahih, HR. Abu Daud: 4084; At-Tirmidzi: 2722). Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu orang yang perkataannya keji ataupun orang yang berusaha berkata keji, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa; tetapi beliau memaafkan dan mengampuni kesalahan.” (HR. Ahmad dan Al-Tirmidzi).

Mudahkan orang lain maka akan hidup kita akan dimudahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Memaklumi dan memaafkan merupakan sebuah cara memudahkan orang lain. Dengan memudahkan orang lain, maka aliran rezeki kita juga akan dimudahkan. Ini berkaitan dengan kesehatan, penghidupan yang baik, serta keharmonisan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyandingkan sifat pemaaf ini dengan karakteristik takwa.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).” (QS Ali Imran (3): 133-134).

Begitulah keindahan akhlak seorang mukmin. Semoga kita bisa mengamalkannya di kehidupan sehari-hari hingga menutup mata. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 18 Oktober 2017 / 28 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *