Dirimu Panglimamu


Pernahkah kita mengalami kegamangan dalam menentukan pilihan hidup? Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Bagaimana kita menyikapi kegagalan-kegagalan yang menyertai langkah kita?

Seorang sahabat saya bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu, bahwa ia pindah ke kota kelahirannya dari Jakarta untuk merintis karir dia sebagai notaris dan merawat orang tuanya. Sebelumnya, dia tinggal di Jakarta selama lebih dari 15 tahun. Sahabat saya itu merupakan orang yang berani tegas terhadap apa yang dicita-citakan, namun ia juga melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di dalam perjalanan. Begitulah dia yang berani menjadi panglima dalam diri sendiri. Tentu saja hal itu dilakukan dengan izin dan ridho Allah.

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.

Dalam hadits tersebut, dinyatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab pada apapun pilihan hidup kita. Berani memilih dan berani bertanggung jawab akan membuat kita bahagia dan tidak tertekan. Kita akan menjadi pribadi dewasa karena hal tersebut.

Lalu, bagaimana cara untuk menjadi panglima dalam hidup kita sendiri?

Pertama, tentukanlah goal setting di dunia dan di akhirat.

Kedua, jadikan goal setting tersebut sebagai visi kita. Dan buatlah misi-misi untuk menuju ke sana.

Ketiga, perbaikilah attitude kita. Rendahkanlah hati, jadilah pribadi yang sopan santun, pribadi sabar dan lemah lembut.

Keempat, monitorlah kemajuan kita. Dari situ kita bisa mengerti mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan.

Dalam Riyadhush Shalihin disebutkan tentang kewajiban menegakkan keadilan. Adil dalam dirinya dengan tidak memberatkan pada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah, dia harus memperhatikannya hingga kepada masalah kebaikan, jangan memberatkan dan membebankannya terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.

Panglima artinya dia juga akan memimpin peperangan. Perang di sini merupakan perang terhadap musuh-musuh ataupun tantangan-tantangan yang bisa menghalangi tujuannya. Musuh tidak selalu merupakan orang lain. Misalnya, dia masih malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Maka, dia berperang untuk memotivasi diri, untuk tidak mudah patang arang, dan untuk tidak mudah bosan.

Semua orang di dalam perjalanan hidup akan menghadapi titik jenuh. Di sinilah dia butuh refreshing atau memetakan kembali arah hidup. Ada aspirasi-aspirasi dan kesempatan-kesempatan yang datang juga jangan ditampik, namun dipertimbangkan.  Terkadang, seseorang terlalu fokus pada suatu pekerjaan, sehingga dia lupa apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ini juga bukan hal yang baik. Karena menjadikan seseorang kaku dan egois. Yang terbaik adalah, kita tetap peduli dan tanggap pada lingkungan. Ini menjadikan kita manusia yang efektif, yang tidak hanya mencapai keberhasilan pribadi namun mampu memberdayakan dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Seorang panglima, pasti punya pasukan. Jika kita sudah beres dengan diri kita sendiri dan arah hidup kita, maka akan lebih mudah kita memiliki orang-orang yang mau diajak bahu-membahu dalam membangun visi. Bukankah manusia terbaik merupakan manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 26 Oktober 2017 / 6 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *