Sukses dengan Jalan Mentoring

Mentoring merupakan salah satu jalan menuju sukses di bidang kita. Bagian-bagian mentoring, yaitu: direction (arah), coaching (pembinaan), support (dukungan), goal (tujuan), training (pelatihan), motivation (menyemangati), advice (memberikan nasihat), dan success (keberhasilan). Tidak semua orang menyukai dan merasa butuh mentoring. Namun, seseorang yang peduli pada kemajuan pribadinya butuh mentor.

Di bidang pekerjaan saya sebelumnya, saya membutuhkan beberapa mentor, untuk mengarahkan, menegur saya jika saya berbuat kesalahan, serta memonitor progress (kemajuan) saya. Hal ini tidak saya dapatkan jika saya tidak memiliki mentor.

Untuk meraih kesuksesan dengan jalan mentoring, kita wajib kuasai langkah-langkahnya, yaitu:

  1. Pilih 1 bidang yang ingin dimentorkan

Dengan memilih 1 bidang tersebut, energi kita akan fokus ke sana. Bukan berarti kita hanya boleh memilih 1 bidang mentoring saja, namun berkonsentrasi pada 1 urusan akan lebih baik hasilnya. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

  1. Pastikan bidang itu sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani

Jangan menghabiskan energi kita pada hal yang tidak berguna. Pilihan bidang yang dimentorkan itu haruslah merupakan bidang yang sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Mau bertumbuh dan jangan baper

Seseorang yang sedang proses mentoring, membutuhkan masukan. Terkadang, bisa berupa saran atau kritik yang pedas. Untuk menyikapi hal ini, jangan kita mudah baper (bawa perasaan), karena sikap itu akan menghalangi pertumbuhan kita. Imam Syafi’i berkata, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.”

 

  1. Jangan mudah puas, tetap rendah hati jika sudah meraih sukses

Setelah kita belajar dengan mentor, memperbaiki diri, serta melakukan langkah-langkah yang disarankan mentor, maka kita jangan mudah puas. Jangan merasa sombong jika telah berhasil. Tetaplah rendah hati. Karena kita bisa faham hal tersebut atas izin Allah. Rasulullah tidak mengetahui perkara ghaib berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS Al A’raaf [7]:188) “

 

Dikutip dari situs Wikipedia, dalam Islam ada yang disebut dengan mentoring Agama Islam. Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.

Kegiatan ini dianggap menjadi salah satu metode pendekatan pembinaan agama dan moral yang efektif, karena cara dan bentuk pengajarannya yang berbeda dengan pendidikan agama secara formal di kelas-kelas sekolah. Di beberapa sekolah dan daerah, kegiatan ini terbukti dapat mencegah tawuran pelajar sekolah.

Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor (bahasa Inggris: penasehat), sedangkan peserta mentoring disebut mentee (baca: menti).

Mentoring di luar Agama Islam, bisa seperti: mentor menulis, mentor dalam karir atau pekerjaan, mentor dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 28 Oktober 2017 / 8 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator  Academy

Hikmah Kehidupan Desa yang Tenteram

Apa yang ada di pikiran kita membayangkan suasana desa? Jawabannya bisa berbeda-beda. Sebagian akan menjawab hidup di pedesaan itu tenteram, suasananya sangat kekeluargaan, orang-orangnya suka menolong, mereka tidak berpikir macam-macam, alias sederhana. Ada juga yang menjawab, pedesaan adalah lokasi dimana terdapat ketertinggalan dan berlawanan dengan kemajuan zaman. Ini disebabkan karena jangkauan jarak yang jauh dari pusat aktivitas manusia serta kondisi ekonomi masyarakat pedesaan.

Kalau kita bisa menggali, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita peroleh dengan belajar pada kehidupan di desa untuk diterapkan dimana saja kita tinggal. Mengapa demikian?

Banyak orang stres hidup di kota-kota besar. Ini disebabkan oleh tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan hidup di kota besar. Saat ini jasa mindfulness, healer, hipnoterapi, ataupun psikolog-psikiater banyak dibutuhkan di kota-kota besar. Manusia butuh merasa tenteram.

Jika kondisi manusia sudah tenteram, dia akan merasa bahagia dan dan merasa  baik dalam hubungannya dalam kehidupaan ini. Ini bisa didapatkan dengan mencontoh nilai-nilai yang berdasarkan pada nurani, yang jauh dari nafsu-ego berlebihan, dan yang sesuai dengan apa yang Allah cintai serta Rasulullah ajarkan.

Berikut merupakan cara-cara yang bisa dilakukan untuk hidup tenteram:

  1. Qona’ah.

Qona’ah merupakan sikap merasa cukup dengan rezeki Allah. Ini berbeda dengan sikap malas, tidak mau berusaha, ataupun bergantung kepada orang lain. Qona’ah membuat kita tenteram karena kita tidak mengejar ambisi secara berlebihan. Karena pada hakikatnya, semua merupakan urusan dunia. ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qona’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

  1. Rendah hati.

Betapa beruntungnya orang yang dikaruniai sifat rendah hati. Dia mudah bergaul dengan segala kalangan dan orang-orang pun menyukainya. Sifat rendah hati atau low profile merupakan kebalikan dari sifat sombong atau tinggi hati. Kehidupan di pedesaan gotong-royong, mereka saling membutuhkan. Maka tidak heran, jika masyarakatnya memiliki sifat rendah hati.

  1. Peduli pada lingkungan sekitar, sehingga menambah teman dan persaudaraan.

Kepedulian kita pada orang lain merupakan wujud kita menghormati, menghargai, serta berkasih sayang kepada orang lain.

  1. Menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, tidak mengganggu.

Bermasyarakat butuh saling menjaga. Ini berupa kebersihan dan ketertiban lingkungan. Tentu kita tidak suka jika di waktu tidur, ada suara bising yang mengganggu. Begitu pula jika ada tetangga membuang sampah di halaman rumah, tentu semua orang juga tidak suka. Hal-hal inilah yang perlu kita mengerti dan kita jaga.

  1. Budayakan senyum, sapa, salam, sedekah.

Ketika bertemu dengan orang lain, usahakan selalu tersenyum, menyapa, dan mengucapkan salam. Ini sebuah bentuk sopan santun serta menjaga keharmonisan. Juga, jadilah orang yang suka bersedekah. Sedekah ini bisa berupa apa saja, namun prioritaskan yang dekat dan mendesak.

 

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah ada dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya. Lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, hlm. 160.

Kehidupan di pedesaan tidak banyak menuntut. Ini seperti nilai dari hadits Rasulullah tersebut, untuk mudah merasa senang dan puas dengan berkah yang telah diberikan Allah dalam kehidupan kita. Dengan begitu, kita merasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 27 Oktober 2017 / 7 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Sumber Hadits dan Kitab: Meraih Sifat Qana’ah

Sumber Gambar: Brilio