Kita Tholabul Ilmi

Tatkala kita menulis dan berbagi kebaikan Qurani, sebagian kita sangsi apakah dirinya cukup layak untuk menulis?

Ketika kita mengetahui posisi kita, adab, serta ilmu menulis maka menyampaikan ayat Al-Qur’an menjadi salah satu bentuk taat dan menolong agama Allah

Thilabul ilmi maka akan bersemangat mencari ilmu, meluruskan niat dari segala yang mengotorinya, mengamalkan ilmu yang didapatkan, mengajak sholeh bersama, serta menyebarkan isi kajian. Tidak boleh dilakukan oleh seorang tholabul ilmi, yaitu: ikut serta dalam khilafiyah ulama atau perbedaan pendapat di antara ulama.

Hanya dengan adab-lah, ilmu akan dapat dipahami.
(Imam Yusuf bin Al Hussain Ar Roozi -rahimahullah-, Tholabul ‘Ilmi lidz Dzahabi 52)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc menulis bahwa
samudera ilmu merupakan dunia yang penuh dengan keindahan akhlak dan adab. Mutiara akhlak para ulama dan setiap penuntutnya menjadi kekayaan tak ternilai dalam dunia ilmu. Inilah yang membedakan dunia ilmu dengan sebagian dunia lainnya yang identik dengan sisi gelap atau kerasnya persaingan di dalamnya.
Semua ini dikarenakan hanya dengan akhlak dan adab-lah hakikat ilmu dapat dipahami.

Saudaraku,
Marilah… kita bersama (khususnya penggores pena catatan kecil ini) terus memperbaiki kekurangan adab dan attitude sebagai seorang penuntut ilmu. Karena tanpa adab, sebanyak apapun kajian yang telah kita ikuti, cita untuk meraih ilmu yang bermanfaat hanya menjadi angan belaka.

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 16 Maret 2018