Penilaian, Penghargaan, dan Pujian

Ibrahim bin Adham berkata,
“Siapa yang ingin tenang, hendaklah dia mengeluarkan (penilaian) makhluk dari hatinya, niscaya dia kan tenang” (Siyar Salaf, al Asbahani)

Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Bagaimana manusia berlaku pada kita seharusnya tidak mempengaruhi kita. Karena Rasulullah mencontohkan demikian. Kepada pengemis buta yang selalu mencela, Beliau menyuapi dengan penuh kelembutan.

Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 22)

Wallahu a’lam bishowab.

Link: Penilaian, Penghargaan, dan Pujian
Wordpress: kajianilma
Instagram: ilmapratidina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *