Penilaian, Penghargaan, dan Pujian

Ibrahim bin Adham berkata,
“Siapa yang ingin tenang, hendaklah dia mengeluarkan (penilaian) makhluk dari hatinya, niscaya dia kan tenang” (Siyar Salaf, al Asbahani)

Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Bagaimana manusia berlaku pada kita seharusnya tidak mempengaruhi kita. Karena Rasulullah mencontohkan demikian. Kepada pengemis buta yang selalu mencela, Beliau menyuapi dengan penuh kelembutan.

Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 22)

Wallahu a’lam bishowab.

Link: Penilaian, Penghargaan, dan Pujian
Wordpress: kajianilma
Instagram: ilmapratidina

Perwujudan Shalat dalam Keseharian

Setiap hari berapa banyak shalat yang kita kerjakan? Shalat wajib dan sunnah.

Lalu, apakah kita sudah mengevaluasi shalat kita?

Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan tuma’ninah tentu akan membekas. Shalat sendiri menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 45). Apakah sudah shalat tapi masih kasar dalam mulut, tangan, atau perilaku?
Apakah sudah shalat namun masih sulit meninggalkan dosa?
Apakah sudah shalat masih berzina?
Apakah sudah shalat namun masih gemar berbicara keburukan orang lain?
Apakah sudah shalat namun perilaku pada keluarga, tetangga, dan sesama makhluk Allah masih buruk?

Jika masih demikian, maka segeralah berlari menuju Allah. Pahami syarat sah shalat, rukun-rukun shalat, serta bagaimana pelaksanaan shalat sesuai sunnah.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita tidak hanya dalam menegakkan ibadah shalat namun juga berperilaku shalat. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Wallahu a’lam bishowab.

Link: Perwujudan Shalat dalam Keseharian
Wordpress: kajianilma
Instagram: ilmapratidina

Bersegeralah, Kurangi Banyak Pikiran

Banyak pikiran bisa membawa kita pada panjang angan dan suudzon. Maka, perbanyaklah berdzikir dan action. Olah pikir yang berlebihan juga menimbulkan kita kusut serta gelap pikiran, menghabiskan energi, terjebak dalam galau tidak tentu arah, dan stres. Ini bisa membawa pada penyakit psikosomatis.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah [94]: 7)

Dari Abu Hurairah RA beliau berkata: Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qoddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945).

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim).

Wallahu a’lam bishawab

Baiknya Amal

Ketika kita heran, mengapa ada yang kebaikannya tidak seperti yang selayaknya, lebih baik kita doakan. Mengapa? Muttarif bin Abdillah -rahimahullah- dalam Kitab Tahdzib Al Hilyah (1/359) memaparkan, “Baiknya hati karena baiknya amal; dan baiknya amal karena benarnya niat.” Allah berfirman dalam Alquran mengenai iman dan amal sholeh yang berpasangan. Iman selalu membawa pada amal saleh, amal saleh ada karena iman.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 29)

Maka, sebaliknya perbuatan dosa akan membawa ketidakbahagiaan dan tempat kembali yang buruk.

Jika terasa sempit hati kita, maka istighfarlah atas dosa-dosa yang kita lakukan. Karena Allah telah menjamin bahagia bagi mereka yang saleh.

Wallahu a’lam bishowab.

Sabarlah Dulu

“Bersabarlah dengan segala musibah dunia hingga Allah beserta para penghuni langit sendiri yang malu atas kesabaranmu.” Sudah cukup banyak saya menulis tentang kesabaran. Bagaimana tidak? Sabar adalah akhlak karimah dan dicintai oleh Allah. “Tidak ada rezeki yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang lebih luas dari sabar.” (HR. Al-Hakim 2/414, dishahihkan oleh Al Albani)

Namun Alquran berkata manusia bersifat tergesa-gesa. Hingga mudah marah dan putus asa jika usahanya tidak seperti yang diharapkan ataupun proses orang lain tidak segera.  Padahal, kebaikan itu membutuhkan sifat sabar, tenang, dan hati-hati. Maka, bersabarlah jika sudah mengetahui kecenderungan ini.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’ [17]: 11)

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 37)

Wallahu a’lam bishowab.

Membentuk Jiwa Takwa

Puasa membentuk kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa telah diterangkan Allah Ta’ala dalam QS. Ali-Imran [3]: 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Banyak sedekah, menahan amarah, dan memaafkan. Betapa kita lihat di sekeliling kita orang-orang bertengkar karena kekurangan jiwa takwa.

Memaafkan tidak menjadikan seseorang menjadi hina. Bahkan Allah Ta’ala telah berjanji untuk meningkatkan derajat orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain padanya.

Lalu bagaimana agar kita dapat memiliki jiwa takwa? Tentu diperlukan niat yang kuat, hijrah menuju kebajikan, dan istiqomah. Berteman dengan orang-orang yang sholeh serta menjauhi pertemanan dengan orang-orang jahil.

Mujahadah diperlukan untuk membentuk jiwa takwa. Perjuangan (jihad) dalam memerangi hawa nafsu itulah yang kita jalani di bulan puasa.

Apakah puasa kita sudah membentuk jiwa takwa? Ataukah kita masih terus dalam kubangan dosa dan hawa nafsu yang tidak disukai Allah?

Wallahu a’lam bishowab.

Adab Menerima Berita

Di masyarakat, seringkali terdapat simpang siur berita. Ghibah dan fitnah yang ditujukan kepada seseorang, lalu membuat orang lain ikut menghakimi si korban tanpa mengetahui dengan jelas beritanya. Ini tentu sangat merusak silaturahmi dan kehormatan seorang mukmin.

Adab merupakan respon yang timbul dari pendidikan. Kita sebagai tholabul ‘ilmi wajib untuk belajar adab. Karena kita temui banyak orang berilmu yang adabnya masih kurang baik.
Tatsabbut artinya verifikasi atau pengecekan kebenaran dalam menerima berita. Boleh disebarkan jika memang benar dan mashalat untuk disebarkan. Jika tidak, lebih baik kita menutupinya.

Sedangkan, tabayyun artinya bergerak mencari kebenaran dari suatu berita hingga jelas. Dalam tabayyun ada pertimbangan, apakah ada pihak terdzolimi dalam suatu perkara.

Hal ini merupakan bagian dari adab dalam habluminannas.

Dalam kitab At-Tafsir wa Al-Bayan 4/2064, Syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi hafizhahullah mengatakan,

أمر الله بالتثبت في رواية الأخبار والأقوال، وكلما كان أثر الخبر عظيماً على الناس، كان التثبت فيه أعظم وأوجب، وأوجب الأقوال أن يُتثبّت فيها: هي الأقوال المنقولةُ عن الله ورسوله؛ وذلك أن أعظم الكذب هو الكذب على الله؛ قال تعالى :(انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِث
“Allah memerintahkan untuk melakukan verifikasi ketika menginformasikan suatu berita dan perkataan. Semakin besar pengaruh berita tersebut pada masyarakat, semakin ketat dan wajib untuk melakukan verifikasi. Dan perkataan yang paling wajib diverifikasi adalah perkataan yang dinukil dari Allah dan rasul-Nya, karena kedustaan terbesar adalah kedustaan yang mengatasnamakan Allah.” Semoga kita termasuk orang yang tidak suka melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. InsyaAllah.

Link: https://www.instagram.com/p/BiWIC1EA6Bk/?taken-by=ilmapratidina

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 4 Mei 2018

Satu Ayat, Empat Petunjuk

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Utsman Bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, pastilah hati kalian tidak akan kenyang dengan firman Allah (Alquran).” Di dalam Alquran, Allah telah menyempurnakan segala petunjuk kepada manusia. Petunjuk ini lengkap, sesuai dengan kebutuhan manusia.
Seperti petunjuk di dalam QS. Al-Qashash [28]: 77 ini; menyangkut bagaimana menyikapi dunia-akhirat dan habluminannas.
Jika kita tadabburi ayat tersebut, Allah memberikan kita firman-Nya mengenai 4 hal:
1. Hendaknya sumber daya yang dianugrahi Allah kepada kita digunakan untuk akhirat, yaitu: anugrah waktu, harta, dan tenaga. “Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas)

2. Nikmati apa yang dihalalkan Allah di dunia. Jangan lupakan bahwa kita juga punya bagian di dunia. Banyak perkara halal yang masih bisa kita nikmati bersama orang-orang terkasih. Maka, kata Allah nikmati apa yang diberikan Allah di dunia untuk kita.

3. Berbuat baik. Dalam habluminannas, berbuat baik termasuk bergaul dengan akhlak karim, membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan, serta tolong-menolong dalam kebajikan.

4. Jangan berbuat kerusakan. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas lalu berbuat kerusakan. Kita harus mampu mengontrol hawa nafsu, ego, dan emosi kita agar kita tidak mengarah pada kerusakan. Karena Allah tidak akan suka, tidak ridho, serta tidak akan menghormati mereka yang suka berbuat kerusakan.

MasyaAllah… Luar biasa sekali Allah memberikan ilmu-Nya dengan ayat ini. Semoga kita diberikan taufik dan hidayah untuk mengamalkan firman Allah. Aamiin yaa mujibassailin.

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 13 April 2018

Kita Tholabul Ilmi

Tatkala kita menulis dan berbagi kebaikan Qurani, sebagian kita sangsi apakah dirinya cukup layak untuk menulis?

Ketika kita mengetahui posisi kita, adab, serta ilmu menulis maka menyampaikan ayat Al-Qur’an menjadi salah satu bentuk taat dan menolong agama Allah

Thilabul ilmi maka akan bersemangat mencari ilmu, meluruskan niat dari segala yang mengotorinya, mengamalkan ilmu yang didapatkan, mengajak sholeh bersama, serta menyebarkan isi kajian. Tidak boleh dilakukan oleh seorang tholabul ilmi, yaitu: ikut serta dalam khilafiyah ulama atau perbedaan pendapat di antara ulama.

Hanya dengan adab-lah, ilmu akan dapat dipahami.
(Imam Yusuf bin Al Hussain Ar Roozi -rahimahullah-, Tholabul ‘Ilmi lidz Dzahabi 52)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc menulis bahwa
samudera ilmu merupakan dunia yang penuh dengan keindahan akhlak dan adab. Mutiara akhlak para ulama dan setiap penuntutnya menjadi kekayaan tak ternilai dalam dunia ilmu. Inilah yang membedakan dunia ilmu dengan sebagian dunia lainnya yang identik dengan sisi gelap atau kerasnya persaingan di dalamnya.
Semua ini dikarenakan hanya dengan akhlak dan adab-lah hakikat ilmu dapat dipahami.

Saudaraku,
Marilah… kita bersama (khususnya penggores pena catatan kecil ini) terus memperbaiki kekurangan adab dan attitude sebagai seorang penuntut ilmu. Karena tanpa adab, sebanyak apapun kajian yang telah kita ikuti, cita untuk meraih ilmu yang bermanfaat hanya menjadi angan belaka.

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 16 Maret 2018

Lepaskan Tuhan Selain ALLAH

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita. Niat seseorang merupakan perkara yang sangat penting. Niat yang salah, maka amal juga bisa rusak. Ketika seseorang hijrah karena wanita, maka ia tidak mendapatkan apa-apa selain wanita. Ketika seseorang hijrah karena harta, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harta. Dan ketika seseorang hijrah karena Allah, maka ridha Allah yang ia dapatkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di hati kita. Apakah ada tuhan-tuhan yang lain di hati kita? Apakah itu suami atau istri kita? Apakah itu pekerjaan kita? Apakah itu harta kita? Apakah itu anak-anak kita? Apakah tuhan kita adalah pujian orang? Apakah tuhan kita adalah dukungan/like/followers/ridho manusia? Allah Maha Mengetahui. Allah Tau bagaimana timbangan tuhan-tuhan di hati kita dibanding Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Subhanallah. Walaupun perbuatan kita secara dzahir itu baik, namun batin kita harus lurus kepada Allah. Apalagi jika perbuatan kita tidak baik atau melanggar aturan Allah, maka kita harus segera bertaubat.

Kemudian, jika kita tidak ikhlas kepada Allah; ternyata mudah bagi Allah untuk menegur kita semata-mata agar kita mengerti esensi penciptaan hidup. Bentuk teguran ini merupakan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin Allah selamatkan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Marilah kita periksa hati kita. Barangkali noda-nodanya terlalu banyak. Barangkali dosa dan hawa nafsu telah menghalangi pandangan hati kita dalam mengenali petunjuk-petunjuk Allah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 12 Februari 2018 / 26 Djumadil Awwal 1439H

Ilustrasi Gambar: Unsplash