Adab Menerima Berita

Di masyarakat, seringkali terdapat simpang siur berita. Ghibah dan fitnah yang ditujukan kepada seseorang, lalu membuat orang lain ikut menghakimi si korban tanpa mengetahui dengan jelas beritanya. Ini tentu sangat merusak silaturahmi dan kehormatan seorang mukmin.

Adab merupakan respon yang timbul dari pendidikan. Kita sebagai tholabul ‘ilmi wajib untuk belajar adab. Karena kita temui banyak orang berilmu yang adabnya masih kurang baik.
Tatsabbut artinya verifikasi atau pengecekan kebenaran dalam menerima berita. Boleh disebarkan jika memang benar dan mashalat untuk disebarkan. Jika tidak, lebih baik kita menutupinya.

Sedangkan, tabayyun artinya bergerak mencari kebenaran dari suatu berita hingga jelas. Dalam tabayyun ada pertimbangan, apakah ada pihak terdzolimi dalam suatu perkara.

Hal ini merupakan bagian dari adab dalam habluminannas.

Dalam kitab At-Tafsir wa Al-Bayan 4/2064, Syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi hafizhahullah mengatakan,

أمر الله بالتثبت في رواية الأخبار والأقوال، وكلما كان أثر الخبر عظيماً على الناس، كان التثبت فيه أعظم وأوجب، وأوجب الأقوال أن يُتثبّت فيها: هي الأقوال المنقولةُ عن الله ورسوله؛ وذلك أن أعظم الكذب هو الكذب على الله؛ قال تعالى :(انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِث
“Allah memerintahkan untuk melakukan verifikasi ketika menginformasikan suatu berita dan perkataan. Semakin besar pengaruh berita tersebut pada masyarakat, semakin ketat dan wajib untuk melakukan verifikasi. Dan perkataan yang paling wajib diverifikasi adalah perkataan yang dinukil dari Allah dan rasul-Nya, karena kedustaan terbesar adalah kedustaan yang mengatasnamakan Allah.” Semoga kita termasuk orang yang tidak suka melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. InsyaAllah.

Link: https://www.instagram.com/p/BiWIC1EA6Bk/?taken-by=ilmapratidina

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 4 Mei 2018

Satu Ayat, Empat Petunjuk

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Utsman Bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, pastilah hati kalian tidak akan kenyang dengan firman Allah (Alquran).” Di dalam Alquran, Allah telah menyempurnakan segala petunjuk kepada manusia. Petunjuk ini lengkap, sesuai dengan kebutuhan manusia.
Seperti petunjuk di dalam QS. Al-Qashash [28]: 77 ini; menyangkut bagaimana menyikapi dunia-akhirat dan habluminannas.
Jika kita tadabburi ayat tersebut, Allah memberikan kita firman-Nya mengenai 4 hal:
1. Hendaknya sumber daya yang dianugrahi Allah kepada kita digunakan untuk akhirat, yaitu: anugrah waktu, harta, dan tenaga. “Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas)

2. Nikmati apa yang dihalalkan Allah di dunia. Jangan lupakan bahwa kita juga punya bagian di dunia. Banyak perkara halal yang masih bisa kita nikmati bersama orang-orang terkasih. Maka, kata Allah nikmati apa yang diberikan Allah di dunia untuk kita.

3. Berbuat baik. Dalam habluminannas, berbuat baik termasuk bergaul dengan akhlak karim, membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan, serta tolong-menolong dalam kebajikan.

4. Jangan berbuat kerusakan. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas lalu berbuat kerusakan. Kita harus mampu mengontrol hawa nafsu, ego, dan emosi kita agar kita tidak mengarah pada kerusakan. Karena Allah tidak akan suka, tidak ridho, serta tidak akan menghormati mereka yang suka berbuat kerusakan.

MasyaAllah… Luar biasa sekali Allah memberikan ilmu-Nya dengan ayat ini. Semoga kita diberikan taufik dan hidayah untuk mengamalkan firman Allah. Aamiin yaa mujibassailin.

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 13 April 2018

Kita Tholabul Ilmi

Tatkala kita menulis dan berbagi kebaikan Qurani, sebagian kita sangsi apakah dirinya cukup layak untuk menulis?

Ketika kita mengetahui posisi kita, adab, serta ilmu menulis maka menyampaikan ayat Al-Qur’an menjadi salah satu bentuk taat dan menolong agama Allah

Thilabul ilmi maka akan bersemangat mencari ilmu, meluruskan niat dari segala yang mengotorinya, mengamalkan ilmu yang didapatkan, mengajak sholeh bersama, serta menyebarkan isi kajian. Tidak boleh dilakukan oleh seorang tholabul ilmi, yaitu: ikut serta dalam khilafiyah ulama atau perbedaan pendapat di antara ulama.

Hanya dengan adab-lah, ilmu akan dapat dipahami.
(Imam Yusuf bin Al Hussain Ar Roozi -rahimahullah-, Tholabul ‘Ilmi lidz Dzahabi 52)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc menulis bahwa
samudera ilmu merupakan dunia yang penuh dengan keindahan akhlak dan adab. Mutiara akhlak para ulama dan setiap penuntutnya menjadi kekayaan tak ternilai dalam dunia ilmu. Inilah yang membedakan dunia ilmu dengan sebagian dunia lainnya yang identik dengan sisi gelap atau kerasnya persaingan di dalamnya.
Semua ini dikarenakan hanya dengan akhlak dan adab-lah hakikat ilmu dapat dipahami.

Saudaraku,
Marilah… kita bersama (khususnya penggores pena catatan kecil ini) terus memperbaiki kekurangan adab dan attitude sebagai seorang penuntut ilmu. Karena tanpa adab, sebanyak apapun kajian yang telah kita ikuti, cita untuk meraih ilmu yang bermanfaat hanya menjadi angan belaka.

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 16 Maret 2018

Memupuk Semangat Kajian

Majelis ilmu merupakan salah satu cara untuk menjaga keistiqamahan kita. Dengan majelis ilmu, iman dan takwa kita terjaga. Dengan majelis ilmu kita diampuni Allah, dibukakan pintu surga, dan dihindarkan dari api neraka. Dengan majelis ilmu kita bisa mendapatkan keberkahan halaqah ilmu dan bertemu dengan orang-orang shaleh.

Dalam menjalani kehidupan harus selalu diwaspadai, akan terjadi hal-hal baru yang baik atau buruk, menguntungkan dan atau merugikan. Semua ini ada yang dapat diatasi dan diatur, ada yang tidak, terjadi secara spontan menurutkan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ada yang dapat diterima dan lebih sering tidak dapat diterima.

Maka, marilah kita bersemangat hadir ke majelis ilmu. Futur merupakan situasi dimana seseorang lemah dalam ibadah. Kita harus melawan rasa malas ini. Dengan cara: berlindung dari godaan setan, istighfar, dan memperkuat azzam untuk hadir ke majelis ilmu.

 

Dalil-dalil mengenai fadhilah tholabul ‘ilmi di antaranya:

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR.Bukhari).

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar [39]: 9)

“Barangsiapa keluar dalam rangka tholabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hadits ini bersanad hasan)

“Barangsiap menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Setiap manusia adalah makhluk pembelajar secara alamiah. Ketika bayi, dia belajar untuk mengenali hidup baru setelah berpindah dari rahim ibunya ke dunia. Setiap tahapan butuh pembelajaran baru, dan seterusnya.

Ayat pertama Al Qur’an menyebutkan; “Bacalah”. Surat Iqro’ atau surat Al ‘Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan pada Rasulullah. Surat tersebut adalah surat Makkiyyah. Di awal-awal surat berisi perintah membaca. Yang dengan membaca dapat diketahui perintah dan larangan Allah.

Allah berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5). Ada hal yang harus bertambah seiring usia kita. Allah berfirman kepada kekasihNya: dan katakanlah (wahai Muhammad); “Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS Thaahaa: 114)\

Maka Allah meminta agar Rasulullah memohon pada Allah agar bertambah ilmu Beliau. Lalu bagaimana kita sebagai umat Rasulullah? Tentu kita meneladaninya.

Imam Syafi’i menegaskan: “Ilmu bukanlah teori yang Anda hafal namun yang bermanfaat (diamalkan) dalam kehidupan Anda.” (Sumber: Baihaqi dalam Al Mad)

Kedudukan ilmu tidak hanya sebatas pengetahuan namun menjadi hal yang bermanfaat bagi kehidupan; membawa kita semakin bertaqwa pada Allah, semakin semangat ibadah, semakin santun dan baik pada sesama. Rezeki pengertian dan kefahaman, tidak hanya sekedar pengetahuan. Juga berupa: hidayah.

Beberapa kiat yang dibutuhkan seorang pembelajar agar mendapatkan tambahan rezeki pengertian dan kefahaman:

  1. Ikhlas

Seorang pembelajar harus memiliki niat ikhlas. Ikhlas juga membuatnya tidak menjadikan ilmu sebagai sarana bermegah-megahan. Ikhlas juga menjadikan sabar terhadap sikap guru yang keras ataupun berbagai cobaan dan gangguan.

  1. Rendah Hati

Seorang pembelajar butuh rendah hati, tidak merasa sudah tau sehingga tidak butuh tambah pengetahuan.

  1. Kesungguhan

Kesungguhan akan membuatnya rajin, tekun, dan menggunakan cara-cara dalam mengikat pengertian dan kefahaman yang dimiliki.

Semoga Allah menambahkan bagi kita rezeki pengertian dan kefahaman.

Semoga Allah tuntun langkah kaki kita untuk menuju rumah-Nya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Palembang, 22 Oktober 2017 / 2 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Menggapai Keberkahan Waktu


Dalam sehari setiap orang memperoleh jatah waktu yang sama oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu: 24 jam. Namun mengapa ada orang yang tujuan-tujuan penting hidupnya tercapai serta urusan-urusan primordial dalam kehidupannya lancar? Jawabannya adalah orang tersebut pandai memanfaatkan waktu sehingga waktu 24 jamnya berkah. Secara bahasa, berkah artinya kebaikan yang bertambah. Menurut bahasa, berkah berasal dari bahasa Arab: barokah, artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79).

Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia.

Ketika umat Islam datang ke Baitullah untuk menunaikan ibadah. Apakah yang sebenarnya disembah? Mengapa semuanya menghadap ka’bah untuk sujud? Ka’bah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS setelah mendapatkan petunjuk dari Allah Azza wa Jalla. Nenek moyang Nabi Ibrahim merupakan penyembah berhala. Ayah dari Nabi Ibrahim merupakan penjual patung berhala. Fondasi dari agama Islam adalah tauhid. Tauhid artinya mengesakan Allah atau menyembah kepada satu Tuhan, yaitu: Allah. Fondasi dalam agama inilah yang dinamakan aqidah. Sebagai mukmin, jangan kita menghabiskan usia kita untuk mendekati syirik besar maupun kecil. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah, karena menyekutukan Allah. Mengenai syirik, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48) Maka seorang mukmin wajib faham hal ini, agar perbuatannya di dunia menjadi tidak sia-sia.

Mukmin membaca Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat sebagai kitabullah yang memberikan petunjuk kepada keselamatan, pembeda yang haq dan yang batil serta mengambil hikmah dari kisah-kisah umat terdahulu. Dalam sehari, apakah kita sudah menyempatkan membaca Alquran? Alquran merupakan bukti cinta Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka, sempatkanlah. Bagilah waktu untuk membaca Alquran. Bacalah Al Qur’an minimal 1 hari 1 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/2 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/4 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 lembar,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 halaman,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 ayat,

Dan jika masih tidak sanggup, bercerminlah dan renungkan, “Ya Allah, apa dosa yang telah ‘ku perbuat sehingga aku tidak sanggup membaca Alquran 1 ayat pun? Salah satu keberkahan ibadah adalah kita diberi kesempatan membaca Alquran tiap hari. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Waktu istirahat terbagi menjadi beberapa waktu. Malam merupakan waktu utama untuk istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”. (QS. Ar Rum: 23).

Dalam sehari, Rasulullah menganjurkan beberapa waktu untuk istirahat. Ada waktu-waktu yang tidak dianjurkan dalam Islam untuk tidur, yaitu:

  1. Tidur selepas makan
  2. Tidur sepanjang hari
  3. Tidur pada waktu Ashar
  4. Tidur selepas Subuh atau waktu pagi
  5. Tidur sebelum waktu Isya’

Waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang berkah untuk aktivitas-aktivitas seperti: mencari rezeki, tholabul ‘ilmu, atau melayani keluarga. Tidur terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh kita, biasanya muncul sinyal-sinyal tubuh berupa pusing jika tidur sudah terlalu banyak. Untuk meraih potensi pahala, kita juga harus mengejarnya. Tidak boleh bermalas-malasan.

Allah berjanji demi masa QS. Al-Ashr 1-3;

  1. Demi massa
  2. Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Maka, manfaatkan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Manfaatkan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Dan manfaatkan waktu hidupmu sebelum datang matimu. Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam ketakwaan dan amal sholeh. Aamiin aamiin yaa mujibas sailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 20 Oktober 2017 / 30 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Referensi:

Apakah Dosa Syirik Dimpuni?

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Tidur Dalam Tatanan Sunnah

 

Memahami dan Mengamalkan Petunjuk Allah

Menjalani kehidupan dengan suka-duka, godaan, dan cobaannya pasti memerlukan petunjuk dari Allah Yang Maha Menciptakan serta Rasul-Nya.

Seorang dinamakan sholih(ah) jika memiliki hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan sesama (habluminannas). Dalam upaya menjaga serta memperbaiki, kita melakukan muhasabah (habluminafsi) agar jangan sampai kita menggunakan cara yang jauh dari yang ma’ruf, walau tujuan kita benar.

Menjaga perasaan serta kehormatan (marwah) orang lain juga merupakan akhlak kita, walau kita faham hukumnya. Maka pilihlah cara yang lembut namun jelas, sebagaimana kita juga ingin mendapatkan empati, penghargaan, dan kasih sayang. “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12]:90)

Palembang, 12 September 2017 / 21 Dzulhijjah 1438 H

Kaidah Belajar Agama

Mempelajari agama Islam dibutuhkan rujukan yang valid dan guru yang baik. Imam Syafi’i dalam kitab Ta’lim Muta’alim menyebutkan enam syarat menuntut ilmu, “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi 6 syarat, yaitu: kecerdasan, semangat, sabar, biaya, petunjuk (bimbingan) guru, dan dalam tempo waktu yang lama.”

Ketika pertanyaan-pertanyaan berikut muncul,
“Apakah sejatinya arti dari agama itu?”
“Mengapa orang mempelajari agama?”
“Bagaimana mempelajari agama dengan benar?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak seseorang yang memiliki rasa keingintauan yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Agama merupakan suatu tuntunan atau ajaran kehidupan dari Dzat Yang Menciptakan makhluk agar makhluk memiliki fondasi dan langkah-langkah untuk menjalani hidupnya. Agama merupakan bentuk dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Aturan-aturan agama bukanlah sesuatu yang mengekang kebebasan, namun sesuatu yang sesuai dengan blue print manusia agar hidupnya lancar, bahagia, dan selamat. Islam adalah agama yang dibawa oleh penyampai pesan kepada umat manusia, yaitu: Rasulullah SAW sebagai agama yang terakhir untuk semesta alam. Di dalam fitrah manusia, ada kesucian dan kebaikan budi yang membuat seseorang condong pada kebenaran. Di sinilah awal mula seseorang mempelajari agama. Kemudian, untuk mempelajari Islam dibutuhkan rujukan yang valid, yaitu: Kitabullah Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, dalam mencerna Al-Qur’an dan Al-Hadits, seseorang membutuhkan guru.

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Untuk memahami agama Islam dibutuhkan pertama kali adalah tauhid. Kalimat Laa Ilaha Ilallah di atas merupakan kalimat tauhid, yang artinya: mengesakan Allah. Inilah landasan aqidah atau keyakinan Islam.

Saya melampirkan di dalam tulisan ini sumber dari Rumaysho.com;

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dibutuhkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita.

Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.

Kitab Masalah Tauhid:

1. Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
3. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
4. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.

Kitab Akidah:

1. Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah.
3. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal.
4. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.
5. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
6. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz.

Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.

Kitab Tafsir:

1.Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat.
2. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah.
3. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
6. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir.
7. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i:

1. Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i.
2. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar.
3. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk.
4. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi.
5. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.

Kitab Fikih dari Ulama Belakangan:

1. Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
2. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
3. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq.
4. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
5. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
6. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

Kitab Hadits:

1. Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi.
2. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali.
3. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
4. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani.
6. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.

Kitab Sirah Nabawiyah:

1. Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
2. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
3. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.

Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab:

Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi.

Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin:

1. Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk.
2. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali.
3. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).

Kitab Akhlak:

1. Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari.
2. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
3. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.

Kitab Amalan:

1. Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali.
2. Al-Adzkar: Imam Nawawi.

Kitab Dosa Besar:

Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Sejarah Para Ulama:

Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf):

1. Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya.
2. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji.
3. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran.
4. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.

Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, kaidah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok.

Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik.

Disunting dan ditulis kembali oleh: Ilma Pratidina

Palembang, 12 Agustus 2017 / 20 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar
    https://rumaysho.com/12411-buku-referensi-belajar-islam-dari-dasar.html
  2. Ilustrasi Gambar
    Tadabbur Daily