Jauhi Sifat Pendendam


Dalam pergaulan, tidak sedikit kita mengalami gesekan-gesekan. Ketika kita mengucapkan sebuah kalimat namun kalimat tersebut diterima orang lain dengan pesan yang berbeda. Seperti misalnya, “Hari ini saya tidak masuk ke kantor, saya merasa tidak enak badan.” Namun pernyataan tersebut didengar, “Hari ini saya tidak masuk ke kantor, saya merasa tidak enak.” Satu kata yang tidak ditangkap atau dimengerti dengan tepat akan berpotensi timbul kesalahfahaman. Bisa saja, kata tidak enak kemudian diartikan sebagai tidak enak dengan bosnya atau lingkungan kerjanya atau bisa juga tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya. Lalu akan timbul prasangka, dan disinilah setan akan masuk. Setan akan menggoda pada sikap antipati dan rusaknya hubungan. Memang begitulah tugas setan. Naudzubillahi min dzalik.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan (menggoda) kepada anak Adam (manusia) laksana aliran darah.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Kisah gesekan lain, misalnya: kita telah mempercayakan uang kita pada sebuah travel umroh-haji, namun pada saat jadwal keberangkatan tiba ternyata travel tersebut bermasalah. Dana jamaah digunakan untuk keperluan lain atau menutup hutang, sehingga biaya keberangkatan sudah tidak mencukupi lagi. Apa yang dirasakan jamaah tersebut? Mereka akan merasa dibohongi karena janji yang tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka akan merasa bahwa travel tersebut tidak bisa dipercaya karena tidak menepati apa yang dikatakan oleh karyawan travel. Apalagi jika dana ibadah tersebut tidak diberikan, mereka akan merasa didzolimi. “Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR. Bukhori)

Ada juga seseorang yang bercerita kepada kita atau mencurahkan isi hati. Namun, respon yang kita berikan terhadap permasalahannya tidak memuaskan hatinya. Karena kita merespon secara obyektif dan tidak disukai oleh egonya. Alih-alih berterima kasih, orang tersebut malah berubah sikap kepada kita, menempatkan kita di posisi tidak nyaman, dan bahkan berkata-kata kasar terhadap kita. Hal ini disebabkan nafsu amarah yang tidak terkontrol. Muslim yang sejati tidak akan menggunakan lidahnya untuk ucapan yang sia-sia, tidak berkata kasar atau keji, tidak berkata kotor, apalagi sampai melaknat. “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok.” (HR. Bukhori)

Berkenaan dengan masalah lidah, ada sebuah kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Muadz bin Jabal berkata, “Aku berkendara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sampai lututku bersentuhan dengan lututnya, kami berkendara bersama, kemudian aku bertanya kepadanya beberapa pertanyaan tentang shalat, sedekah, dan iman. Wahai Nabi Allah, katakanlah kepadaku tentang amal baik yang akan mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Muadz, sesungguhnya kau telah bertanya tentang sesuatu yang baik. Haruskah aku memberitahumu sesuatu, yang mencakup semua yang kusebutkan?”

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berpikir, “Tentu saja, ya Rasulullah. Amal apakah itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan jarinya yang mulia, menunjuk ke arah lidahnya dan berkata kepada Muadz bin Jabal “Jagalah ini.”

Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dipertanggungjawabkan dan ditanyakan perihal lidah kita?” Dia bertanya karena terkejut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda “Wahai Muadz, kupikir kau adalah orang yang paling pintar. Apakah ada sebab yang akan menyebabkan wajah orang-orang terjatuh ke dalam neraka jahannam, selain apa yang lidah mereka ucapkan?” Begitulah baginda Rasulullah menjelaskan mengenai keutamaan menjaga lisan.

Di dalam habluminannas, urusan menjaga lidah berbeda makna dengan membiarkan sebuah permasalahan berlarut-larut. Jangan karena kita takut tidak bisa menjaga lidah, kita kemudian mendiamkan permasalahan. Ada permasalahan yang timbul dengan sendirinya tanpa kita undang, semata-mata sebagai bentuk pengalaman. Allah memberikan permasalahan tersebut agar kita menjadi lebih sabar, dewasa, kuat, serta mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Berikut merupakan langkah-langkah dalam menghindari kesalahfahaman:

  1. Selesaikan masalah, bicarakan, serta jangan ditunda karena akan membawa beban sesak di dada dan bisa menimbulkan perselisihan.
  2. Gunakan kata-kata yang santun, lembut, dan bijak.
  3. Jauhi dari prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat (49): 12)
  4. Lihatlah dari banyak sudut pandang. Apa yang menurut kita cocok, belum tentu itu yang terbaik bagi orang lain. Apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu kita menyadarinya. Apa yang menjadi selera orang lain, belum tentu cocok di kita. Dan sebaliknya. Toleransi dan pengertian akan menjadi solusi dari hal ini.

Sebagai orang yang beriman, janganlah kita menjadi pendendam, karena tidak menerima suatu peristiwa yang telah terjadi atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, jika orang lain memusuhi kita, maka Alquran memberikan petunjuk mengenai hal ini. “Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat (41): 34-35). Walaupun, sebenarnya kita bisa membalas, namun memaafkan lebih utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Apabila seseorang menghina dan melecehkanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada pada dirimu maka jangan engkau balas dengan apa-apa yang engkau ketahui terdapat pada dirinya. Biarlah akibat buruk menjadi tanggungannya.” (Shahih, HR. Abu Daud: 4084; At-Tirmidzi: 2722). Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu orang yang perkataannya keji ataupun orang yang berusaha berkata keji, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa; tetapi beliau memaafkan dan mengampuni kesalahan.” (HR. Ahmad dan Al-Tirmidzi).

Mudahkan orang lain maka akan hidup kita akan dimudahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Memaklumi dan memaafkan merupakan sebuah cara memudahkan orang lain. Dengan memudahkan orang lain, maka aliran rezeki kita juga akan dimudahkan. Ini berkaitan dengan kesehatan, penghidupan yang baik, serta keharmonisan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyandingkan sifat pemaaf ini dengan karakteristik takwa.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).” (QS Ali Imran (3): 133-134).

Begitulah keindahan akhlak seorang mukmin. Semoga kita bisa mengamalkannya di kehidupan sehari-hari hingga menutup mata. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 18 Oktober 2017 / 28 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Takdir Ikhtiar dan Berserah Diri

Tafakur merupakan ibadah dalam diam. Ketika kita mentafakuri tempat dimana kita berpijak saat ini, kita merenung kehidupan kita ini lebih banyak sesuai dengan rencana kita atau ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai rencana kita? Saya kerap mengobrol dengan suami tercinta, bahwa saya tidak pernah memiliki ide atau keinginan untuk tinggal di Palembang. Begitu pula dengan suami saya. Suami saya sebelumnya pernah tinggal di kota Pontianak.

Bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi idaman di Jakarta Selatan merupakan impian saya sejak lulus kuliah. Tinggal di Jakarta merupakan impian saya yang sudah menjadi kenyataan selama 10 tahun. Alhamdulillah, departemen saya bekerja juga merupakan impian saya. Alhamdulillah, Allah izinkan cita-cita saya tersebut sejalan dengan skenario Allah.

Namun, bagaimana pertemuan saya dengan suami bukanlah merupakan rencana saya. Kami dikenalkan oleh salah seorang sahabat saya dan ternyata kami berjodoh. Proses jodoh kami tidak didapatkan dengan mudah, namun berliku-liku. Allah Azza wa Jalla telah mengatur bagaimana cerita hidup suami saya harus menjadi dosen di sebuah universitas di Pontianak untuk menjadi rekan sejawat sahabat saya tersebut. Ini tidak akan terjadi jika sebelumnya suami tidak mengambil kuliah S2 Farmakologi di Fakultas Kedokteran. Masya Allah, sungguh semua yang terjadi dalam kehidupan kami telah tersusun dengan detil oleh Allah Azza wa Jalla.

Dalam sebuah tausiyahnya, Ustadz Arifin Jayadiningrat berkata bahwa garis hidup manusia adalah ujian. Pun begitu banyak peristiwa dalam hidup yang tidak terduga. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam Surat Al-Mulk;

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Lantas, bagaimana cara kita menyikapi kehidupan ini? Ternyata, menurut Allah dan tuntunan Rasulullah, kita diperintahkan ikhtiar untuk mengubah keadaan, kita diperintahkan untuk takwa, dan pada akhirnya seorang mukmin adalah orang yang berserah.

Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Rad:11)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Kita tidak boleh tergoda untuk melakukan cara-cara yang menyimpang dari apa yang disukai dan diridhoi Allah. Ketika ujian itu sedang di puncak-puncaknya, hingga membuat kita jatuh dan mengalami masa-masa gelap, ingatlah bahwa semakin gelap malam adalah pertanda pagi segera hadir. Hari ada pagi, ada siang, ada sore, dan ada malam. Musim di negara tropis seperti kita ada musim kemarau dan musim hujan. Lalu, bandingkan bahwa yang kita alami masih belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang dialami para Nabi.

Ketika hadir suatu ujian, maka yang pertama kita lakukan adalah sabar menerima. Sabar adalah pada hentakan pertama. Di situlah kita mendapatkan pahala kesabaran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berkata, ”Menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya.” Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang yang berkata tadi adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita ini berkata, ”Aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Ujian di dalam kehidupan ini bisa membuat kita mulia dan bisa membuat kita hina. Ketika kita diuji dengan keluarga, diuji dengan pasangan hidup, diuji dengan sakit, diuji dalam lingkungan, diuji dalam proses belajar, diuji dengan pekerjaan dan ekonomi, maka yakinlah bahwa semua itu merupakan tanda-tanda cinta Allah pada kita. Mengapa demikian? Karena Allah rindu kita bangun di sepertiga malam, Allah rindu doa-doa kita, Allah ingin kita taubat dari dosa-dosa yang kita lakukan sebelumnya, Allah ingin kita sadar dari kelalaian kita selama ini. “Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani)

Balasan tertinggi dari ini semua adalah kecintaan Allah. Siapakah di alam semesta ini yang tidak mau dicintai Allah?

Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi,” (Muttafaqun Alaih).

Doa di dalam Islam merupakan inti ibadah. Justru Allah akan marah jika hamba-Nya tidak pernah berdoa. Salah satu doa yang sering dibaca oleh Rasulullah, yaitu:

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik

Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam kehidupan ini, tugas kita hanyalah taat pada Allah dan mengikuti utusan Allah yang terakhir, yaitu: Nabi Muhammad. Bukan di sini bahagia kita yang sebenarnya. Bagi seorang mukmin hatinya akan terpaut pada akhirat. Dunia merupakan tempat berbekal menuju kampung halaman akhirat yang abadi. Wallahu a’lam bish-shawab

Palembang, 17 Oktober 2017 / 27 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Cahaya Kebahagiaan Bagian 2

Kesenangan dan Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan keberuntungan dalam hidup yang secara naluriah diidam-idamkan oleh semua makhluk. Tidak hanya manusia, hewan pun juga butuh bahagia.

Allah telah berfirman dalam Alquran bahwa kebahagiaan didapat ketika manusia bertakwa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa yang mengandung unsur hati-hati, takwa yang merupakan kesadaran Islami untuk melakukan hanya pada hal-hal yang disukai Allah. Takwa mengandung unsur melakukan kontrol diri dan mengerem pada hawa nafsu yang cenderung mendorong ke arah keburukan.

Maka kebahagiaan berbeda maknanya dengan kesenangan. Mengapa? Karena kesenangan bisa positif dan bisa negatif. Kesenangan akan menjadi positif jika berdampak pada passion yang baik, menjadi bersemangat kerja atau melakukan amal sholeh, atau menjadi husnudzon kepada Allah. Namun kesenangan juga bisa bermakna negatif.

Kesenangan cenderung memuaskan dorongan, kebahagiaan ada unsur mengerem dorongan karena takwa.

Manusia sebagai khalifah (pemimpin atau penguasa) di muka bumi membutuhkan dorongan untuk membentuk bumi. Dorongan ini jika tidak digunakan di jalan yang Allah ridhoi maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran.

Di dalam Alquran, Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf AS.

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Yusuf: 53)

Manusia yang bertakwa akan berhati-hati dalam mengawal nafsu. Dia menggunakan wahyu dan ilmu dalam menjalani kehidupan yang tidak jarang dipenuhi godaan. Hal ini dilatih oleh dirinya melalui amal ibadah.

Ridho Allah yang menjadi tujuan utama kehidupannya. Maka, dia akan mengesampingkan nafsu untuk melakukan hal-hal yang Allah sukai. Ini dilakukannya dengan kesadaran dan kecintaan. Dia tidak mau jauh-jauh dari petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah.

Inilah bahagia yang sejati.
Bahagia dalam pelukan Allah karena ketakwaan.

Palembang, 9 Oktober 2017 / 19 Muharram 1439H

Referensi:
Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Memahami dan Mengamalkan Petunjuk Allah

Menjalani kehidupan dengan suka-duka, godaan, dan cobaannya pasti memerlukan petunjuk dari Allah Yang Maha Menciptakan serta Rasul-Nya.

Seorang dinamakan sholih(ah) jika memiliki hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan sesama (habluminannas). Dalam upaya menjaga serta memperbaiki, kita melakukan muhasabah (habluminafsi) agar jangan sampai kita menggunakan cara yang jauh dari yang ma’ruf, walau tujuan kita benar.

Menjaga perasaan serta kehormatan (marwah) orang lain juga merupakan akhlak kita, walau kita faham hukumnya. Maka pilihlah cara yang lembut namun jelas, sebagaimana kita juga ingin mendapatkan empati, penghargaan, dan kasih sayang. “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12]:90)

Palembang, 12 September 2017 / 21 Dzulhijjah 1438 H

Cahaya Kebahagiaan Bagian 1

Definisi Kebahagiaan

Menurut saya, kebahagiaan adalah sebuah kondisi dalam hidup di mana ada kepuasan, kesenangan, ketenteraman atau kedamaian, serta kesejahteraan atau kebebasan dari rasa sengsara atau penderitaan. Kebahagiaan bersifat lahir dan batin. Kebahagiaan bisa subyektif bisa obyektif, karena menyangkut kebutuhan dan keinginan. Disebut subyektif karena masing-masing manusia memiliki kebutuhan yang belum tentu sama. Disebut obyektif karena secara fitrah, manusia memiliki hal-hal dasar atau primordial dalam menjalankan roda kehidupannya.

Mengapa Bahagia itu Penting

Secara psikologi, kondisi psikis atau kejiwaan seseorang akan sangat berpengaruh kepada kesehatan dan performa sehari-hari dalam menjalani aktivitasnya. Seorang yang content, yang terpenuhi kebutuhannya, yang enjoy, yang damai, yang happy akan lebih mampu bersikap efektif dalam hidup dan efisien dalam bekerja.

Cara Meraih Kebahagiaan

Kesenangan itu berbeda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih jika manusia mengikuti perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Palembang, 20 Agustus 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H

Kaidah Belajar Agama

Mempelajari agama Islam dibutuhkan rujukan yang valid dan guru yang baik. Imam Syafi’i dalam kitab Ta’lim Muta’alim menyebutkan enam syarat menuntut ilmu, “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi 6 syarat, yaitu: kecerdasan, semangat, sabar, biaya, petunjuk (bimbingan) guru, dan dalam tempo waktu yang lama.”

Ketika pertanyaan-pertanyaan berikut muncul,
“Apakah sejatinya arti dari agama itu?”
“Mengapa orang mempelajari agama?”
“Bagaimana mempelajari agama dengan benar?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak seseorang yang memiliki rasa keingintauan yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Agama merupakan suatu tuntunan atau ajaran kehidupan dari Dzat Yang Menciptakan makhluk agar makhluk memiliki fondasi dan langkah-langkah untuk menjalani hidupnya. Agama merupakan bentuk dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Aturan-aturan agama bukanlah sesuatu yang mengekang kebebasan, namun sesuatu yang sesuai dengan blue print manusia agar hidupnya lancar, bahagia, dan selamat. Islam adalah agama yang dibawa oleh penyampai pesan kepada umat manusia, yaitu: Rasulullah SAW sebagai agama yang terakhir untuk semesta alam. Di dalam fitrah manusia, ada kesucian dan kebaikan budi yang membuat seseorang condong pada kebenaran. Di sinilah awal mula seseorang mempelajari agama. Kemudian, untuk mempelajari Islam dibutuhkan rujukan yang valid, yaitu: Kitabullah Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, dalam mencerna Al-Qur’an dan Al-Hadits, seseorang membutuhkan guru.

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Untuk memahami agama Islam dibutuhkan pertama kali adalah tauhid. Kalimat Laa Ilaha Ilallah di atas merupakan kalimat tauhid, yang artinya: mengesakan Allah. Inilah landasan aqidah atau keyakinan Islam.

Saya melampirkan di dalam tulisan ini sumber dari Rumaysho.com;

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dibutuhkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita.

Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.

Kitab Masalah Tauhid:

1. Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
3. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
4. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.

Kitab Akidah:

1. Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah.
3. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal.
4. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.
5. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
6. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz.

Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.

Kitab Tafsir:

1.Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat.
2. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah.
3. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
6. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir.
7. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i:

1. Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i.
2. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar.
3. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk.
4. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi.
5. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.

Kitab Fikih dari Ulama Belakangan:

1. Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
2. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
3. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq.
4. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
5. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
6. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

Kitab Hadits:

1. Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi.
2. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali.
3. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
4. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani.
6. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.

Kitab Sirah Nabawiyah:

1. Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
2. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
3. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.

Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab:

Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi.

Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin:

1. Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk.
2. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali.
3. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).

Kitab Akhlak:

1. Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari.
2. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
3. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.

Kitab Amalan:

1. Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali.
2. Al-Adzkar: Imam Nawawi.

Kitab Dosa Besar:

Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Sejarah Para Ulama:

Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf):

1. Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya.
2. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji.
3. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran.
4. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.

Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, kaidah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok.

Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik.

Disunting dan ditulis kembali oleh: Ilma Pratidina

Palembang, 12 Agustus 2017 / 20 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar
    https://rumaysho.com/12411-buku-referensi-belajar-islam-dari-dasar.html
  2. Ilustrasi Gambar
    Tadabbur Daily

Merasakan Surga di Dunia

Bagi seorang mukmin, segala yang dia lakukan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu: akhirat. Segala amal ibadah serta harapan digantungkan pada 1 cita-cita, yaitu: surga. Level surga itu berbeda-beda, namun keselamatan dari siksa kubur dan siksa neraka adalah harapan bagi mereka yang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)” ( QS.Ad- Dukhaan: 51-55 )

Ibnu Taimiyah berkata kepada Ibnu Qayyim bahwa orang-orang yang beriman dan mengikuti ajaran Rasulullah akan merasakan surga dunia sebelum surga akhirat. Hal tersebut membuat seorang mukmin yang mencintai dan dicintai Allah sudah merasakan kenikmatan surga dunia.

Apa itu surga dunia? Surga dunia adalah memiliki qalbun salim (hati yang selamat) serta nafs muthnainah (jiwa yang tenteram). Hati yang selamat akan bersih dari penyakit hati, merasa qona’ah, serta ridho terhadap takdir. Jiwa yang tenteram tidak akan was-was, gelisah, ataupun stres berlebihan dalam menghadapi hidup.

Dalam bermuamalah dari berkeluarga serta bermasyarakat, dia memberikan kebaikan bagi lingkungannya. Ketika melakukan kekhilafan, dia cepat kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Ma syaa Allah, betapa nikmatnya orang yang telah merasakan surga sebelum surga itu ada. Semoga kita dibimbing Allah menjadi golongan orang-orang yang beruntung.

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 4 Agustus 2017 / 11 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Merasakan Surga di Dunia
    https://www.instagram.com/p/BXXxXn2hsaA/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    https://www.instagram.com/p/BXhnQptDl36/?tagged=surga

 

 

Menjadi Pemaaf Seperti Rasulullah

Islam mengajarkan konsep ihsan bahwa berbuat baik itu bukan karena orang tersebut berbuat baik pada kita, namun karena Allah. Berbuat baik sebagaimana Allah senantiasa berbuat baik pada kita.

Rasulullah SAW bersabda;
“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.” (HR. Thabrani)

Hakikat Memaafkan

Memaafkan artinya suatu perbuatan, kejadian, atau pelaku tidak lagi mempengaruhi kondisi hati. Tidak ada lagi rasa marah, jengkel, kecewa, sedih, maupun dendam.

Proses memaafkan bisa dipermudah dengan beberapa cara, yaitu:
1. Menerima
2. Meyakini ini yang terbaik
3. Mendoakan orang lain tanpa pilih kasih, termasuk yang pernah merugikan, mendzolimi, menyakiti
4. Memperbanyak sedekah

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 25 Juli 2017 / 1 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Manfaat Memaafkan Itu untuk Diri Sendiri
    https://www.instagram.com/p/BWmP7BMBqVT/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    http://www.instagram.com/Tausiyahku_

 

Doa Akhlakul Karimah

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallaahu’anhu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ،…

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummahdinii li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdii li ahsanihaa illaa anta,

washrif ‘annii sayyi ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi ahaa illaa anta

“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukannya selain Engkau.

Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.”

(HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Membalas dengan Kebaikan

Berkenaan dengan muamalah kepada sesama manusia atau habluminannas dapat digolongkan sebagai aktivitas memberi dan menerima. Di dalam kita berinteraksi selalu berusaha untuk memberi yang terbaik. Termasuk dalam memberikan respon yang terbaik kepada orang lain.

Ketika seseorang berbuat baik pada kita, sudah sewajarnya kita juga berbuat baik padanya. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan kepada kita malah kita balas dengan keburukan. Dinamakan orang yang bersyukur adalah orang yang tau berterima kasih kepada manusia.

Namun iman kita mulai diuji ketika menerima perbuatan buruk yang menyakiti hati kita. Hal ini bisa berupa: fitnah, olok-olokan, hak kita diambil atau tidak ditunaikan, makian, dan sebagainya yang bisa menyakiti hati kita dan melukai perasaan kita.

Marah itu reaksi yang wajar. Namun, Allah Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dalam QS Ali Imran (3): 133-134;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).”

Ayat tersebut menunjukkan karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu: berinfak dan bersedekah, menahan amarah, memaafkan, dan berbuat kebajikan.

Ada 2 cara dalam menanggapi perbuatan buruk, yaitu:

  1. Adil
  2. Ihsan

Dalilnya adalah QS An Nahl (16):90;

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Akhlak di atas adalah termasuk hal-hal yang diutamakan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, siapa yang tidak bisa menjaga akhlaknya, maka ia tidak bisa menjaga agamanya. Akhlak adalah suatu perilaku dan sikap yang dilakukan secara spontan. Junjungan kita Rasulullah SAW diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka, marilah kita menahan diri, memohon ampun kepada Allah, menahan hawa nafsu dan berlindung kepada Allah agar kita senantiasa mampu menyikapi setiap peristiwa dengan ketakwaan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 16 Ramadhan 1438H / 11 Juni 2017

Referensi:

  1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2016/05/11/94647/akhlak-menahan-amarah-dan-suka-memaafkan.html
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. Ilustrasi Gambar
    http://www.renunganislam.com/2016/03/inilah-nikmat-memaafkan-dalam-Islam.html