Cahaya Kebahagiaan Bagian 1

Definisi Kebahagiaan

Menurut saya, kebahagiaan adalah sebuah kondisi dalam hidup di mana ada kepuasan, kesenangan, ketenteraman atau kedamaian, serta kesejahteraan atau kebebasan dari rasa sengsara atau penderitaan. Kebahagiaan bersifat lahir dan batin. Kebahagiaan bisa subyektif bisa obyektif, karena menyangkut kebutuhan dan keinginan. Disebut subyektif karena masing-masing manusia memiliki kebutuhan yang belum tentu sama. Disebut obyektif karena secara fitrah, manusia memiliki hal-hal dasar atau primordial dalam menjalankan roda kehidupannya.

Mengapa Bahagia itu Penting

Secara psikologi, kondisi psikis atau kejiwaan seseorang akan sangat berpengaruh kepada kesehatan dan performa sehari-hari dalam menjalani aktivitasnya. Seorang yang content, yang terpenuhi kebutuhannya, yang enjoy, yang damai, yang happy akan lebih mampu bersikap efektif dalam hidup dan efisien dalam bekerja.

Cara Meraih Kebahagiaan

Kesenangan itu berbeda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih jika manusia mengikuti perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Palembang, 20 Agustus 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H

Kaidah Belajar Agama

Mempelajari agama Islam dibutuhkan rujukan yang valid dan guru yang baik. Imam Syafi’i dalam kitab Ta’lim Muta’alim menyebutkan enam syarat menuntut ilmu, “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi 6 syarat, yaitu: kecerdasan, semangat, sabar, biaya, petunjuk (bimbingan) guru, dan dalam tempo waktu yang lama.”

Ketika pertanyaan-pertanyaan berikut muncul,
“Apakah sejatinya arti dari agama itu?”
“Mengapa orang mempelajari agama?”
“Bagaimana mempelajari agama dengan benar?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak seseorang yang memiliki rasa keingintauan yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Agama merupakan suatu tuntunan atau ajaran kehidupan dari Dzat Yang Menciptakan makhluk agar makhluk memiliki fondasi dan langkah-langkah untuk menjalani hidupnya. Agama merupakan bentuk dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Aturan-aturan agama bukanlah sesuatu yang mengekang kebebasan, namun sesuatu yang sesuai dengan blue print manusia agar hidupnya lancar, bahagia, dan selamat. Islam adalah agama yang dibawa oleh penyampai pesan kepada umat manusia, yaitu: Rasulullah SAW sebagai agama yang terakhir untuk semesta alam. Di dalam fitrah manusia, ada kesucian dan kebaikan budi yang membuat seseorang condong pada kebenaran. Di sinilah awal mula seseorang mempelajari agama. Kemudian, untuk mempelajari Islam dibutuhkan rujukan yang valid, yaitu: Kitabullah Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, dalam mencerna Al-Qur’an dan Al-Hadits, seseorang membutuhkan guru.

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Untuk memahami agama Islam dibutuhkan pertama kali adalah tauhid. Kalimat Laa Ilaha Ilallah di atas merupakan kalimat tauhid, yang artinya: mengesakan Allah. Inilah landasan aqidah atau keyakinan Islam.

Saya melampirkan di dalam tulisan ini sumber dari Rumaysho.com;

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dibutuhkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita.

Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.

Kitab Masalah Tauhid:

1. Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
3. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
4. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.

Kitab Akidah:

1. Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah.
3. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal.
4. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.
5. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
6. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz.

Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.

Kitab Tafsir:

1.Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat.
2. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah.
3. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
6. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir.
7. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i:

1. Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i.
2. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar.
3. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk.
4. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi.
5. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.

Kitab Fikih dari Ulama Belakangan:

1. Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
2. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
3. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq.
4. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
5. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
6. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

Kitab Hadits:

1. Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi.
2. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali.
3. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
4. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani.
6. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.

Kitab Sirah Nabawiyah:

1. Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
2. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
3. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.

Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab:

Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi.

Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin:

1. Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk.
2. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali.
3. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).

Kitab Akhlak:

1. Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari.
2. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
3. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.

Kitab Amalan:

1. Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali.
2. Al-Adzkar: Imam Nawawi.

Kitab Dosa Besar:

Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Sejarah Para Ulama:

Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf):

1. Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya.
2. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji.
3. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran.
4. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.

Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, kaidah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok.

Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik.

Disunting dan ditulis kembali oleh: Ilma Pratidina

Palembang, 12 Agustus 2017 / 20 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar
    https://rumaysho.com/12411-buku-referensi-belajar-islam-dari-dasar.html
  2. Ilustrasi Gambar
    Tadabbur Daily

Merasakan Surga di Dunia

Bagi seorang mukmin, segala yang dia lakukan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu: akhirat. Segala amal ibadah serta harapan digantungkan pada 1 cita-cita, yaitu: surga. Level surga itu berbeda-beda, namun keselamatan dari siksa kubur dan siksa neraka adalah harapan bagi mereka yang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)” ( QS.Ad- Dukhaan: 51-55 )

Ibnu Taimiyah berkata kepada Ibnu Qayyim bahwa orang-orang yang beriman dan mengikuti ajaran Rasulullah akan merasakan surga dunia sebelum surga akhirat. Hal tersebut membuat seorang mukmin yang mencintai dan dicintai Allah sudah merasakan kenikmatan surga dunia.

Apa itu surga dunia? Surga dunia adalah memiliki qalbun salim (hati yang selamat) serta nafs muthnainah (jiwa yang tenteram). Hati yang selamat akan bersih dari penyakit hati, merasa qona’ah, serta ridho terhadap takdir. Jiwa yang tenteram tidak akan was-was, gelisah, ataupun stres berlebihan dalam menghadapi hidup.

Dalam bermuamalah dari berkeluarga serta bermasyarakat, dia memberikan kebaikan bagi lingkungannya. Ketika melakukan kekhilafan, dia cepat kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Ma syaa Allah, betapa nikmatnya orang yang telah merasakan surga sebelum surga itu ada. Semoga kita dibimbing Allah menjadi golongan orang-orang yang beruntung.

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 4 Agustus 2017 / 11 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Merasakan Surga di Dunia
    https://www.instagram.com/p/BXXxXn2hsaA/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    https://www.instagram.com/p/BXhnQptDl36/?tagged=surga

 

 

Menjadi Pemaaf Seperti Rasulullah

Islam mengajarkan konsep ihsan bahwa berbuat baik itu bukan karena orang tersebut berbuat baik pada kita, namun karena Allah. Berbuat baik sebagaimana Allah senantiasa berbuat baik pada kita.

Rasulullah SAW bersabda;
“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.” (HR. Thabrani)

Hakikat Memaafkan

Memaafkan artinya suatu perbuatan, kejadian, atau pelaku tidak lagi mempengaruhi kondisi hati. Tidak ada lagi rasa marah, jengkel, kecewa, sedih, maupun dendam.

Proses memaafkan bisa dipermudah dengan beberapa cara, yaitu:
1. Menerima
2. Meyakini ini yang terbaik
3. Mendoakan orang lain tanpa pilih kasih, termasuk yang pernah merugikan, mendzolimi, menyakiti
4. Memperbanyak sedekah

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 25 Juli 2017 / 1 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Manfaat Memaafkan Itu untuk Diri Sendiri
    https://www.instagram.com/p/BWmP7BMBqVT/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    http://www.instagram.com/Tausiyahku_

 

Doa Akhlakul Karimah

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallaahu’anhu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ،…

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummahdinii li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdii li ahsanihaa illaa anta,

washrif ‘annii sayyi ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi ahaa illaa anta

“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukannya selain Engkau.

Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.”

(HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Membalas dengan Kebaikan

Berkenaan dengan muamalah kepada sesama manusia atau habluminannas dapat digolongkan sebagai aktivitas memberi dan menerima. Di dalam kita berinteraksi selalu berusaha untuk memberi yang terbaik. Termasuk dalam memberikan respon yang terbaik kepada orang lain.

Ketika seseorang berbuat baik pada kita, sudah sewajarnya kita juga berbuat baik padanya. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan kepada kita malah kita balas dengan keburukan. Dinamakan orang yang bersyukur adalah orang yang tau berterima kasih kepada manusia.

Namun iman kita mulai diuji ketika menerima perbuatan buruk yang menyakiti hati kita. Hal ini bisa berupa: fitnah, olok-olokan, hak kita diambil atau tidak ditunaikan, makian, dan sebagainya yang bisa menyakiti hati kita dan melukai perasaan kita.

Marah itu reaksi yang wajar. Namun, Allah Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dalam QS Ali Imran (3): 133-134;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).”

Ayat tersebut menunjukkan karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu: berinfak dan bersedekah, menahan amarah, memaafkan, dan berbuat kebajikan.

Ada 2 cara dalam menanggapi perbuatan buruk, yaitu:

  1. Adil
  2. Ihsan

Dalilnya adalah QS An Nahl (16):90;

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Akhlak di atas adalah termasuk hal-hal yang diutamakan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, siapa yang tidak bisa menjaga akhlaknya, maka ia tidak bisa menjaga agamanya. Akhlak adalah suatu perilaku dan sikap yang dilakukan secara spontan. Junjungan kita Rasulullah SAW diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka, marilah kita menahan diri, memohon ampun kepada Allah, menahan hawa nafsu dan berlindung kepada Allah agar kita senantiasa mampu menyikapi setiap peristiwa dengan ketakwaan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 16 Ramadhan 1438H / 11 Juni 2017

Referensi:

  1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2016/05/11/94647/akhlak-menahan-amarah-dan-suka-memaafkan.html
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. Ilustrasi Gambar
    http://www.renunganislam.com/2016/03/inilah-nikmat-memaafkan-dalam-Islam.html

Apapun dari Allah Pasti Terbaik

Hikmah Umar bin Khattab 1
Kebanyakan orang suka sifat menyejukkan karena ada rasa nyaman. Namun sifat sejuk seperti angin sepoi-sepoi yang bergerak dengan tempo yang pas itu bisa membuat ngantuk. Lalu tidur. Apakah tidur hal yang baik? Ya, jika ada maslahat. Atau seperti air yang sejuk menyegarkan orang yang sedang haus. Maslahatnya adalah menghilangkan haus.
Namun jika kita sedang harus terjaga, maka rasa kantuk berpotensi melalaikan.
Kebanyakan orang tidak suka panas matahari yang menyengat. Tidak nyaman. Namun, ketika hujan turun maka matahari dirindukan. Kemana hilangnya matahari.
Jadi, tidak selalu panas yang dirasa itu buruk. Hujan juga belum tentu buruk.
Jika memang Allah kehendaki itu terjadi, maka itulah yang terbaik. Walaupun berbeda dengan prinsip dan selera kita. Barangsiapa yang mampu menaklukkan syahwat dunia, maka setan akan lari darinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 18 April 2017

Berbuat yang Terbaik dalam Ibadah


Saudaraku yang dicintai Allah,
Pernahkah mendengar atau bahkan terbersit di hati kecil kita pertanyaan-pertanyaan seperti;
“Mengapa begitu ngotot tentang agama?”
“Mengapa begitu ngotot ibadah?”
“Mengapa begitu semangat dengan amalan?”
“Apa tidak capek?”
“Mengapa tidak santai sedikit saja?”

Mari coba kita telaah karena orang yang ringan hisabnya di hari akhirat adalah orang yang menghisab dirinya ketika ada di dunia.
Ketika kita beramal, kita tentu punya salah. Aqidah tauhid kita; apakah tauhid kita bersih atau tercemar. Shalat kita, zakat kita, dan puasa kita; apakah sudah tertunaikan rukun-rukunnya. Ibadah ke tanah suci; bagaimana niat dan perilaku kita. Sedekah kita; apakah sudah dilakukan dengan cara yang ma’ruf. Bagaimana kita hadir ke majelis ilmu; apa sebenarnya niat kita ke majelis. Akhlak-adab kita dan segala perbuatan kita tentu ada salah; baik itu ketika niat sebelum mengerjakan, sewaktu mengerjakan amalan tersebut, maupun sesudah kita mengerjakannya.

Jadi, ngotot atau mengerahkan tenaga dan usaha saja belum tentu diterima jika tidak ikhlas mengharap ridho Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Dalam QS Al Ma’un (107) ayat 4-5 disebutkan;

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,”

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”

Rasulullah SAW pernah melihat sahabat shalat tidak sempurna, lalu Beliau menyuruh sahabat Beliau mengulangi shalatnya lagi. Maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh…

Apalagi jika kita membandingkan dengan dosa-dosa kita…
Padahal saat kita berbuat dosa Allah melihat, malaikat mencatat, kita berbuat di bumi Allah dengan fasilitas Allah… Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih… Betapa malunya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sebagai hambaNya, kita malu jika hanya memberikan yang biasa-biasa saja, padahal Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang sikap Ihsan di ayat berikut.

QS Al Kahfi (18): 7

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

QS Al Mulk (67): 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Maka marilah kita bersemangat dalam kebaikan (catatan: kebajikan = perbuatannya), sebelum hadir masa di mana buku amal kita sudah diberikan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 7 Ramadhan 1438H / 2 Juni 2017

Referensi:

  1. Faedah Istighfar dan Taubat oleh: Ustadz Firanda Andirja
    https://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/388-faedah-istigfar-dan-taubat
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. TafirQ
    https://tafsirq.com
  4. Ilustrasi Gambar
    https://kaahil.wordpress.com/2013/11/20/makalah-makna-dalil-contoh-berlomba-lomba-dalam-kebaikankebajikan-fastabiqul-khoiroot-albaqoroh-148

Akhlak Bagaikan Rezeki

Niat di hati adalah suatu amalan hati yang berubah-ubah. Niat yang ikhlas bukan perkara sederhana, ketika kita berusaha memperbaiki niat kita, maka bisa saja ada saja timbul penyakit-penyakit hati. Ada kalanya kita merasa sudah melakukan suatu amalan dengan benar, lalu timbul rasa ujub di hati kita, juga timbul rasa ingin dipuji, diakui, dan dihargai. Atau kita ini merasa sudah tidak sombong, padahal merasa tidak sombong juga sombong. Atau seseorang terhadap orang yang lebih dianggap rendah kedudukannya, merasa sah-sah saja bersikap seenaknya sendiri, semena-mena bahkan sampai menginjak-injak orang lain. Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih. Semoga kita dijauhkan dari sifat demikian dan dimudahkan meluruskan niat kita.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Berikut tips untuk mengobati ujub serta nafsu amarah agar kita memiliki akhlaqul karimah:

  1. Tips mengobati ujub terhadap amal; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku bangga dengan amalku, sementara maksiat yang kulakukan masih menempel dalam ingatanku, cemas dan harap apakah taubatku diterima.
  2. Tips mengobati ujub terhadap ilmu; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku bangga dengan ilmuku, kepandaianku, kecerdasanku, kehandalanku, keberhasilanku sedang aku bisa mengalami bertahun-tahun otakku seakan beku, semua pelajaran tak mampu kupahami. Ilmu kita hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah, Allah berikan karena Allah izinkan kita memahami ilmu tersebut.
  3. Tips menahan marah; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku marah pada orang lain, sedang aku sendiri terkadang tidak ridho dengan diriku sendiri.

Allah Azza wa Jalla membagi akhlak seperti membagi rezeki, bersemangatlah memperbaiki akhlak seperti mencari rezeki yang halal dariNya. Barakallahu fiikum.

Wa’allahu alam bishowab.

Palembang, 23 Januari 2017

Referensi:

  1. Jauhilah Sikap Sombong
    https://muslim.or.id/3536-jauhi-sikap-sombong.html
  2. Ilustrasi Gambar
    http://www.amazingwallpaperz.com/photography-background-hd-wallpapers/

Tiap Cobaan Ada Batas Expirednya

Ketika Allah Azza wa Jalla memberikan cobaan kepada hambaNya, maka Allah juga sudah menakdirkan jatah waktu cobaan tersebut diangkat olehNya. HambaNya yang mendapat cobaan itu pun sudah diukur dan dinilai mampu untuk mengemban cobaan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Dinukil dari kisah Nabi Ayub AS; Al Quran memuji Nabi Ayub sebagai seorang yang sabar (bahkan bisa dikatakan sangat sabar menerima cobaan).  Dalam 3 hari kenikmatan dunianya diambil oleh Allah; anak-anaknya meninggal, perkebunannya hancur, sakit hingga diasingkan oleh masyarakat padahal sebelumnya Beliau adalah seorang pemimpin. Namun Nabi Ayub sabar hingga batas waktu expirednya cobaan tersebut. Ketika istrinya menyuruh Nabi Ayub untuk meminta kepada Allah dihentikan cobaannya, Nabi Ayub masih malu meminta kepada Allah. Nabi Ayub mempertimbangkan lamanya waktu Allah berikan nikmat kepada dirinya dan keluarganya. Dan cobaan yang diberikan Allah ini belum impas jika dibandingkan nikmat Allah. Masya Allah.. Hingga akhirnya air mengalir dari bawah tempat tidur Beliau, dan air ini yang menyembuhkan sakit kulit Nabi Ayub.

Kemudian balasan kesabaran dari Allah bagaikan banjir rezeki yang tidak terbendung. Istri Nabi Ayub kemudian hamil tiap tahun melahirkan anak kembar, sehingga Allah mengganti 2x lipat jumlah anak Beliau, kekayaan, perkebunan, dan kedudukan di masyarakat pun kembali. Lebih banyak dan lebih besar.

Ketika kita merasa cobaan di hidup kita berat, bawalah kepada Allah. Allah yang berikan, Allah pula yang mengangkat cobaan tersebut. Sabar hingga batas waktu expired cobaan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ

لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Wa’allahu alam bishowab.

Semoga bermanfaat bagi iman Islam kita. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita. Aamiin yaa Mujibassailin…

Palembang, 21 Januari 2017

Referensi:

  1. Kajian Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA tentang “Sang Penyabar – Dasyatnya Cobaan Nabi Ayub”
  2. Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah pada Waktu Malam https://rumaysho.com/11085-keutamaan-membaca-dua-ayat-terakhir-surat-al-baqarah-pada-waktu-malam.html
  3. Ilustrasi Gambar
    http://davitputra.net/2013/10/kita-adalah-cobaan-bagi-orang-lain-juga-sebaliknya/