Bersegeralah, Kurangi Banyak Pikiran

Banyak pikiran bisa membawa kita pada panjang angan dan suudzon. Maka, perbanyaklah berdzikir dan action. Olah pikir yang berlebihan juga menimbulkan kita kusut serta gelap pikiran, menghabiskan energi, terjebak dalam galau tidak tentu arah, dan stres. Ini bisa membawa pada penyakit psikosomatis.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah [94]: 7)

Dari Abu Hurairah RA beliau berkata: Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qoddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945).

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim).

Wallahu a’lam bishawab

Baiknya Amal

Ketika kita heran, mengapa ada yang kebaikannya tidak seperti yang selayaknya, lebih baik kita doakan. Mengapa? Muttarif bin Abdillah -rahimahullah- dalam Kitab Tahdzib Al Hilyah (1/359) memaparkan, “Baiknya hati karena baiknya amal; dan baiknya amal karena benarnya niat.” Allah berfirman dalam Alquran mengenai iman dan amal sholeh yang berpasangan. Iman selalu membawa pada amal saleh, amal saleh ada karena iman.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 29)

Maka, sebaliknya perbuatan dosa akan membawa ketidakbahagiaan dan tempat kembali yang buruk.

Jika terasa sempit hati kita, maka istighfarlah atas dosa-dosa yang kita lakukan. Karena Allah telah menjamin bahagia bagi mereka yang saleh.

Wallahu a’lam bishowab.

Sabarlah Dulu

“Bersabarlah dengan segala musibah dunia hingga Allah beserta para penghuni langit sendiri yang malu atas kesabaranmu.” Sudah cukup banyak saya menulis tentang kesabaran. Bagaimana tidak? Sabar adalah akhlak karimah dan dicintai oleh Allah. “Tidak ada rezeki yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang lebih luas dari sabar.” (HR. Al-Hakim 2/414, dishahihkan oleh Al Albani)

Namun Alquran berkata manusia bersifat tergesa-gesa. Hingga mudah marah dan putus asa jika usahanya tidak seperti yang diharapkan ataupun proses orang lain tidak segera.  Padahal, kebaikan itu membutuhkan sifat sabar, tenang, dan hati-hati. Maka, bersabarlah jika sudah mengetahui kecenderungan ini.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’ [17]: 11)

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 37)

Wallahu a’lam bishowab.

Membentuk Jiwa Takwa

Puasa membentuk kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa telah diterangkan Allah Ta’ala dalam QS. Ali-Imran [3]: 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Banyak sedekah, menahan amarah, dan memaafkan. Betapa kita lihat di sekeliling kita orang-orang bertengkar karena kekurangan jiwa takwa.

Memaafkan tidak menjadikan seseorang menjadi hina. Bahkan Allah Ta’ala telah berjanji untuk meningkatkan derajat orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain padanya.

Lalu bagaimana agar kita dapat memiliki jiwa takwa? Tentu diperlukan niat yang kuat, hijrah menuju kebajikan, dan istiqomah. Berteman dengan orang-orang yang sholeh serta menjauhi pertemanan dengan orang-orang jahil.

Mujahadah diperlukan untuk membentuk jiwa takwa. Perjuangan (jihad) dalam memerangi hawa nafsu itulah yang kita jalani di bulan puasa.

Apakah puasa kita sudah membentuk jiwa takwa? Ataukah kita masih terus dalam kubangan dosa dan hawa nafsu yang tidak disukai Allah?

Wallahu a’lam bishowab.

Satu Ayat, Empat Petunjuk

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Utsman Bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, pastilah hati kalian tidak akan kenyang dengan firman Allah (Alquran).” Di dalam Alquran, Allah telah menyempurnakan segala petunjuk kepada manusia. Petunjuk ini lengkap, sesuai dengan kebutuhan manusia.
Seperti petunjuk di dalam QS. Al-Qashash [28]: 77 ini; menyangkut bagaimana menyikapi dunia-akhirat dan habluminannas.
Jika kita tadabburi ayat tersebut, Allah memberikan kita firman-Nya mengenai 4 hal:
1. Hendaknya sumber daya yang dianugrahi Allah kepada kita digunakan untuk akhirat, yaitu: anugrah waktu, harta, dan tenaga. “Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas)

2. Nikmati apa yang dihalalkan Allah di dunia. Jangan lupakan bahwa kita juga punya bagian di dunia. Banyak perkara halal yang masih bisa kita nikmati bersama orang-orang terkasih. Maka, kata Allah nikmati apa yang diberikan Allah di dunia untuk kita.

3. Berbuat baik. Dalam habluminannas, berbuat baik termasuk bergaul dengan akhlak karim, membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan, serta tolong-menolong dalam kebajikan.

4. Jangan berbuat kerusakan. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas lalu berbuat kerusakan. Kita harus mampu mengontrol hawa nafsu, ego, dan emosi kita agar kita tidak mengarah pada kerusakan. Karena Allah tidak akan suka, tidak ridho, serta tidak akan menghormati mereka yang suka berbuat kerusakan.

MasyaAllah… Luar biasa sekali Allah memberikan ilmu-Nya dengan ayat ini. Semoga kita diberikan taufik dan hidayah untuk mengamalkan firman Allah. Aamiin yaa mujibassailin.

Wallahu a’lam bishawab.

Barakallah… InsightQuran
Jumat, 13 April 2018

Lepaskan Tuhan Selain ALLAH

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita. Niat seseorang merupakan perkara yang sangat penting. Niat yang salah, maka amal juga bisa rusak. Ketika seseorang hijrah karena wanita, maka ia tidak mendapatkan apa-apa selain wanita. Ketika seseorang hijrah karena harta, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harta. Dan ketika seseorang hijrah karena Allah, maka ridha Allah yang ia dapatkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di hati kita. Apakah ada tuhan-tuhan yang lain di hati kita? Apakah itu suami atau istri kita? Apakah itu pekerjaan kita? Apakah itu harta kita? Apakah itu anak-anak kita? Apakah tuhan kita adalah pujian orang? Apakah tuhan kita adalah dukungan/like/followers/ridho manusia? Allah Maha Mengetahui. Allah Tau bagaimana timbangan tuhan-tuhan di hati kita dibanding Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Subhanallah. Walaupun perbuatan kita secara dzahir itu baik, namun batin kita harus lurus kepada Allah. Apalagi jika perbuatan kita tidak baik atau melanggar aturan Allah, maka kita harus segera bertaubat.

Kemudian, jika kita tidak ikhlas kepada Allah; ternyata mudah bagi Allah untuk menegur kita semata-mata agar kita mengerti esensi penciptaan hidup. Bentuk teguran ini merupakan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin Allah selamatkan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Marilah kita periksa hati kita. Barangkali noda-nodanya terlalu banyak. Barangkali dosa dan hawa nafsu telah menghalangi pandangan hati kita dalam mengenali petunjuk-petunjuk Allah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 12 Februari 2018 / 26 Djumadil Awwal 1439H

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Sukses dengan Jalan Mentoring

Mentoring merupakan salah satu jalan menuju sukses di bidang kita. Bagian-bagian mentoring, yaitu: direction (arah), coaching (pembinaan), support (dukungan), goal (tujuan), training (pelatihan), motivation (menyemangati), advice (memberikan nasihat), dan success (keberhasilan). Tidak semua orang menyukai dan merasa butuh mentoring. Namun, seseorang yang peduli pada kemajuan pribadinya butuh mentor.

Di bidang pekerjaan saya sebelumnya, saya membutuhkan beberapa mentor, untuk mengarahkan, menegur saya jika saya berbuat kesalahan, serta memonitor progress (kemajuan) saya. Hal ini tidak saya dapatkan jika saya tidak memiliki mentor.

Untuk meraih kesuksesan dengan jalan mentoring, kita wajib kuasai langkah-langkahnya, yaitu:

  1. Pilih 1 bidang yang ingin dimentorkan

Dengan memilih 1 bidang tersebut, energi kita akan fokus ke sana. Bukan berarti kita hanya boleh memilih 1 bidang mentoring saja, namun berkonsentrasi pada 1 urusan akan lebih baik hasilnya. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

  1. Pastikan bidang itu sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani

Jangan menghabiskan energi kita pada hal yang tidak berguna. Pilihan bidang yang dimentorkan itu haruslah merupakan bidang yang sedang dibutuhkan, dipelajari, dan dijalani. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Mau bertumbuh dan jangan baper

Seseorang yang sedang proses mentoring, membutuhkan masukan. Terkadang, bisa berupa saran atau kritik yang pedas. Untuk menyikapi hal ini, jangan kita mudah baper (bawa perasaan), karena sikap itu akan menghalangi pertumbuhan kita. Imam Syafi’i berkata, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.”

 

  1. Jangan mudah puas, tetap rendah hati jika sudah meraih sukses

Setelah kita belajar dengan mentor, memperbaiki diri, serta melakukan langkah-langkah yang disarankan mentor, maka kita jangan mudah puas. Jangan merasa sombong jika telah berhasil. Tetaplah rendah hati. Karena kita bisa faham hal tersebut atas izin Allah. Rasulullah tidak mengetahui perkara ghaib berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS Al A’raaf [7]:188) “

 

Dikutip dari situs Wikipedia, dalam Islam ada yang disebut dengan mentoring Agama Islam. Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung (DSL). Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.

Kegiatan ini dianggap menjadi salah satu metode pendekatan pembinaan agama dan moral yang efektif, karena cara dan bentuk pengajarannya yang berbeda dengan pendidikan agama secara formal di kelas-kelas sekolah. Di beberapa sekolah dan daerah, kegiatan ini terbukti dapat mencegah tawuran pelajar sekolah.

Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor (bahasa Inggris: penasehat), sedangkan peserta mentoring disebut mentee (baca: menti).

Mentoring di luar Agama Islam, bisa seperti: mentor menulis, mentor dalam karir atau pekerjaan, mentor dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 28 Oktober 2017 / 8 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator  Academy

Komunitas Insan Qurani

Rasulullah bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Hadits tersebut membuat saya tergugah untuk berbuat sesuatu. Rasanya, amal yang telah saya lakukan selama ini belumlah  cukup. Pasti ada kesalahan dan kesempurnaan. Pasti tercampur dengan noda-noda. Astaghfirullahal adziim…

Seorang praktisi dan pemerhati pendidikan Islam, KH Mohammad Hidayat mengaku prihatin dengan rendahnya kemampuan umat Islam Indonesia dalam baca tulis Alquran. Di kota-kota besar saja, hanya mencapai 70 persen masyarakat yang melek Alquran. “Angka 70 persen itu mereka yang hanya bisa membaca alif, ba, ta, tsa secara terputus. Sementara yang bisa membaca huruf al-Qur`an secara tersambung masih sedikit. Bahkan yang membaca sesuai tajwid hanya beberapa persen saja,” jelas KH Mohammad Hidayat yang juga menjabat Ketua Dewan Pendiri dan Pembina Yayasan Majelis Taklim Al Washiyyah itu.

Kemuliaan Alquran yang luar biasa harus kita jaga. Berikut kutipan dari para guru kita, ulama-ulama klasik mengenal mukjizat Alquran,

Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Alquran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Alquran.”

Berkata Al-Imam Qurtubi:

“Barang siapa yang membaca Alquran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun.”

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah:

“Perbanyaklah membaca Alquran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan dimudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:

“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Alquran,  maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:

“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Alquran”.

Berkata Shaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah Ta’ala”.

“Bergantunglah pada Alquran niscaya kau akan mendapatkan keberkahan”.

Berkata sebagian ahli tafsir:

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Alquran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia.”

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Alquran dan mengamalkan kandungannya.”

Bila Anda cinta pada Alquran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Alquran maka pahala akan mengalir pada anda.

Itulah mengapa, saya lalu membentuk Komunitas Insan Qurani di tahun 2015. Memang hal ini merupakan cita-cita sekaligus passion saya sejak dulu. Komunitas Insan Qurani memilliki kegiatan menyalurkan Iqro’ dan Alquran kepada anak-anak yang membutuhkan. Targetnya kepada anak-anak yang memiliki pendampingan. Artinya, anak-anak tersebut memiliki guru baca Alquran.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Komunitas Insan Qurani, yaitu:

  1. Kolaborasi dengan lembaga amal

Kami bekerja sama dengan TPA, Pondok Pesantren, dan lembaga penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf lainnya. Dari Rumah Zakat, Rumah Buku Ilmi, TPA, Pondok Pesantren, dan masjid-masjid yang membutuhkan.

  1. Memanfaatkan media sosial untuk menggalang bantuan wakaf

Di era media sosial, kami juga menggunakan sarana Facebook, Instagram, dan Path untuk mengumumkan dibukanya donasi wakaf. Biasanya setelah itu, ada saja teman-teman yang tergerak hatinya untuk ikut berdonasi.

  1. Menginformasi amanah wakaf yang sudah disalurkan

Wakaf yang sudah disalurkan, diinformasikan melalui sebuah akun WordPress, termasuk jumlah Iqro’ dan Alquran, lokasi penerimaan wakaf, dan foto-foto kegiatan. Biasanya kami juga sudah update di blog untuk rencana wakaf selanjutnya.

  1. Memperhatikan daerah-daerah terpencil yang membutuhkan

Biasanya, tempat-tempat yang kami pilih memang merupakan tempat-tempat yang layak untuk diberikan wakaf. Tidak hanya di pulau Jawa saja, namun tersebar di seluruh Indonesia.

  1. Saling mendukung dan menyemangati satu sama lain

Ada kalanya relawan kami mengalami kejenuhan. Ada kalanya off untuk berkonsentrasi mengajar TPA, memperkuat hafalan, atau urusan-urusan lain. Namun, kami saling mendukung dan menyemangati agar istiqomah di jalan ini.

Komunitas Insan Qurani memang baru berusia 2 tahun, namun sejauh ini Alhamdulillah dukungan terus mengalir walaupun sedikit. Kami berharap agar komunitas ini istiqomah dalam berkhidmad kepada ummat Islam. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Dirimu Panglimamu


Pernahkah kita mengalami kegamangan dalam menentukan pilihan hidup? Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Bagaimana kita menyikapi kegagalan-kegagalan yang menyertai langkah kita?

Seorang sahabat saya bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu, bahwa ia pindah ke kota kelahirannya dari Jakarta untuk merintis karir dia sebagai notaris dan merawat orang tuanya. Sebelumnya, dia tinggal di Jakarta selama lebih dari 15 tahun. Sahabat saya itu merupakan orang yang berani tegas terhadap apa yang dicita-citakan, namun ia juga melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di dalam perjalanan. Begitulah dia yang berani menjadi panglima dalam diri sendiri. Tentu saja hal itu dilakukan dengan izin dan ridho Allah.

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.

Dalam hadits tersebut, dinyatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab pada apapun pilihan hidup kita. Berani memilih dan berani bertanggung jawab akan membuat kita bahagia dan tidak tertekan. Kita akan menjadi pribadi dewasa karena hal tersebut.

Lalu, bagaimana cara untuk menjadi panglima dalam hidup kita sendiri?

Pertama, tentukanlah goal setting di dunia dan di akhirat.

Kedua, jadikan goal setting tersebut sebagai visi kita. Dan buatlah misi-misi untuk menuju ke sana.

Ketiga, perbaikilah attitude kita. Rendahkanlah hati, jadilah pribadi yang sopan santun, pribadi sabar dan lemah lembut.

Keempat, monitorlah kemajuan kita. Dari situ kita bisa mengerti mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan.

Dalam Riyadhush Shalihin disebutkan tentang kewajiban menegakkan keadilan. Adil dalam dirinya dengan tidak memberatkan pada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah, dia harus memperhatikannya hingga kepada masalah kebaikan, jangan memberatkan dan membebankannya terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.

Panglima artinya dia juga akan memimpin peperangan. Perang di sini merupakan perang terhadap musuh-musuh ataupun tantangan-tantangan yang bisa menghalangi tujuannya. Musuh tidak selalu merupakan orang lain. Misalnya, dia masih malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Maka, dia berperang untuk memotivasi diri, untuk tidak mudah patang arang, dan untuk tidak mudah bosan.

Semua orang di dalam perjalanan hidup akan menghadapi titik jenuh. Di sinilah dia butuh refreshing atau memetakan kembali arah hidup. Ada aspirasi-aspirasi dan kesempatan-kesempatan yang datang juga jangan ditampik, namun dipertimbangkan.  Terkadang, seseorang terlalu fokus pada suatu pekerjaan, sehingga dia lupa apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ini juga bukan hal yang baik. Karena menjadikan seseorang kaku dan egois. Yang terbaik adalah, kita tetap peduli dan tanggap pada lingkungan. Ini menjadikan kita manusia yang efektif, yang tidak hanya mencapai keberhasilan pribadi namun mampu memberdayakan dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Seorang panglima, pasti punya pasukan. Jika kita sudah beres dengan diri kita sendiri dan arah hidup kita, maka akan lebih mudah kita memiliki orang-orang yang mau diajak bahu-membahu dalam membangun visi. Bukankah manusia terbaik merupakan manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 26 Oktober 2017 / 6 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

 

Hijrah dan Keterasingan

Subhanallah. Sudah lazim bahwa di negeri kita; apa yang berbeda sedikit akan disorot. Masih banyak hal-hal yang sesuai tuntunan Rasulullah namun disorot karena berbeda. Misalnya: kebiasaan tidak bersalaman dengan nonmuhrim, memakai hijab di depan ipar-ipar dan kerabat yang nonmuhrim, atau tidak melakukan ritual-ritual yang mengarah pada syirik seperti: perhitungan dan ramalan hari pernikahan, ataupun ritual meminta ke kuburan.

Sebenarnya fenomena keterasingan ini sudah dikatakan oleh Baginda Rasulullah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Maka, jika kebetulan kita merupakan pihak yang merasa asing atau dianggap asing; bersyukurlah. Jangan berkecil hati karena kita sedang mengamalkan Islam dengan kaffah. Islam yang kaffah artinya totalitas dan bersifat holistik terhadap ajaran Islam. Islam yang kaffah berarti menggunakan paradigma Alquran dalam menyikapi kehidupan. Islam yang kaffah berarti mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sebagai junjungan kita.

Masyaa Allah. Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Ternyata Islam memberikan kita solusi untuk berkumpul bersama teman-teman yang sholih. Bukankah teman itu besar pengaruhnya pada kita? Teman-teman yang dengan melihatnya kita bisa ingat kepada Allah Azza wa Jalla itulah yang menolong kita. Bahwa nanti di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan amal masing-masing, namun ada syafa’at dari teman-teman sholih jika kita bersama mereka dalam ketaatan.

Hadir ke majelis ilmu juga merupakan penguat dalam hijrah kita ke jalan Allah. Majelis ilmu akan menuntun keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Ilmu lalu amal. Begitulah alurnya. Setelah kita faham ilmunya, maka ilmu itu hanya akan bermanfaat jika digunakan, dipraktikkan, atau diamalkan.

Lantas, mengapa orang-orang antipati terhadap mereka yang berhijrah? Mari kita renungi dan turunkan ego untuk bermuhasabah. Bisa jadi itu karena akhlak mereka sendiri. Di saat mereka tidak ramah, merasa suci, merasa paling benar, merasa paling baik, hanya mau menolong yang sama atau segolongan dengan mereka; maka itulah kerusakannya. Itulah yang menyebabkan orang-orang tidak simpatik. Astaghfirullahal adziim… Jangan pernah merasa sombong dan angkuh dengan keimanan kita, jangan bersikap melangit karena ketaaatan kita. Karena setitik sifat sombong akan menghalangi kita dari surga. Hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak memiliki kesombongan.

Berhijrah juga membutuhkan doa agar diberikan istiqamah. Karena kita tau bagaimana syaitan menggoda kita dari segala arah. Dan kita wajib berdoa untuk husnul khotimah.

Apabila langkah-langkah tersebut kita jalankan dengan sabar dan ikhlas mengharap pada ridho dan pahala Allah, maka In syaa Allah kita akan mendapati ketenteraman hidup. Kita menjadi lebih tawakkal setelah ikhtiar. Bahwa apapun yang diberikan Allah Azza wa Jalla merupakan nikmat yang sangat indah. Mengenal Islam itu indah.

Semoga kita senantiasa dibantu Allah agar istiqamah dalam hijrah. Aamiin aamiin ya mujibassailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 24 Oktober 2017 / 4 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash