Akhlak Bagaikan Rezeki

Niat di hati adalah suatu amalan hati yang berubah-ubah. Niat yang ikhlas bukan perkara sederhana, ketika kita berusaha memperbaiki niat kita, maka bisa saja ada saja timbul penyakit-penyakit hati. Ada kalanya kita merasa sudah melakukan suatu amalan dengan benar, lalu timbul rasa ujub di hati kita, juga timbul rasa ingin dipuji, diakui, dan dihargai. Atau kita ini merasa sudah tidak sombong, padahal merasa tidak sombong juga sombong. Atau seseorang terhadap orang yang lebih dianggap rendah kedudukannya, merasa sah-sah saja bersikap seenaknya sendiri, semena-mena bahkan sampai menginjak-injak orang lain. Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih. Semoga kita dijauhkan dari sifat demikian dan dimudahkan meluruskan niat kita.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Berikut tips untuk mengobati ujub serta nafsu amarah agar kita memiliki akhlaqul karimah:

  1. Tips mengobati ujub terhadap amal; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku bangga dengan amalku, sementara maksiat yang kulakukan masih menempel dalam ingatanku, cemas dan harap apakah taubatku diterima.
  2. Tips mengobati ujub terhadap ilmu; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku bangga dengan ilmuku, kepandaianku, kecerdasanku, kehandalanku, keberhasilanku sedang aku bisa mengalami bertahun-tahun otakku seakan beku, semua pelajaran tak mampu kupahami. Ilmu kita hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah, Allah berikan karena Allah izinkan kita memahami ilmu tersebut.
  3. Tips menahan marah; katakan pada diri: bagaimana mungkin aku marah pada orang lain, sedang aku sendiri terkadang tidak ridho dengan diriku sendiri.

Allah Azza wa Jalla membagi akhlak seperti membagi rezeki, bersemangatlah memperbaiki akhlak seperti mencari rezeki yang halal dariNya. Barakallahu fiikum.

Wa’allahu alam bishowab.

Palembang, 23 Januari 2017

Referensi:

  1. Jauhilah Sikap Sombong
    https://muslim.or.id/3536-jauhi-sikap-sombong.html
  2. Ilustrasi Gambar
    http://www.amazingwallpaperz.com/photography-background-hd-wallpapers/

Tiap Cobaan Ada Batas Expirednya

Ketika Allah Azza wa Jalla memberikan cobaan kepada hambaNya, maka Allah juga sudah menakdirkan jatah waktu cobaan tersebut diangkat olehNya. HambaNya yang mendapat cobaan itu pun sudah diukur dan dinilai mampu untuk mengemban cobaan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Dinukil dari kisah Nabi Ayub AS; Al Quran memuji Nabi Ayub sebagai seorang yang sabar (bahkan bisa dikatakan sangat sabar menerima cobaan).  Dalam 3 hari kenikmatan dunianya diambil oleh Allah; anak-anaknya meninggal, perkebunannya hancur, sakit hingga diasingkan oleh masyarakat padahal sebelumnya Beliau adalah seorang pemimpin. Namun Nabi Ayub sabar hingga batas waktu expirednya cobaan tersebut. Ketika istrinya menyuruh Nabi Ayub untuk meminta kepada Allah dihentikan cobaannya, Nabi Ayub masih malu meminta kepada Allah. Nabi Ayub mempertimbangkan lamanya waktu Allah berikan nikmat kepada dirinya dan keluarganya. Dan cobaan yang diberikan Allah ini belum impas jika dibandingkan nikmat Allah. Masya Allah.. Hingga akhirnya air mengalir dari bawah tempat tidur Beliau, dan air ini yang menyembuhkan sakit kulit Nabi Ayub.

Kemudian balasan kesabaran dari Allah bagaikan banjir rezeki yang tidak terbendung. Istri Nabi Ayub kemudian hamil tiap tahun melahirkan anak kembar, sehingga Allah mengganti 2x lipat jumlah anak Beliau, kekayaan, perkebunan, dan kedudukan di masyarakat pun kembali. Lebih banyak dan lebih besar.

Ketika kita merasa cobaan di hidup kita berat, bawalah kepada Allah. Allah yang berikan, Allah pula yang mengangkat cobaan tersebut. Sabar hingga batas waktu expired cobaan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ

لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Wa’allahu alam bishowab.

Semoga bermanfaat bagi iman Islam kita. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita. Aamiin yaa Mujibassailin…

Palembang, 21 Januari 2017

Referensi:

  1. Kajian Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA tentang “Sang Penyabar – Dasyatnya Cobaan Nabi Ayub”
  2. Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah pada Waktu Malam https://rumaysho.com/11085-keutamaan-membaca-dua-ayat-terakhir-surat-al-baqarah-pada-waktu-malam.html
  3. Ilustrasi Gambar
    http://davitputra.net/2013/10/kita-adalah-cobaan-bagi-orang-lain-juga-sebaliknya/