Menggapai Keberkahan Waktu


Dalam sehari setiap orang memperoleh jatah waktu yang sama oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu: 24 jam. Namun mengapa ada orang yang tujuan-tujuan penting hidupnya tercapai serta urusan-urusan primordial dalam kehidupannya lancar? Jawabannya adalah orang tersebut pandai memanfaatkan waktu sehingga waktu 24 jamnya berkah. Secara bahasa, berkah artinya kebaikan yang bertambah. Menurut bahasa, berkah berasal dari bahasa Arab: barokah, artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79).

Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia.

Ketika umat Islam datang ke Baitullah untuk menunaikan ibadah. Apakah yang sebenarnya disembah? Mengapa semuanya menghadap ka’bah untuk sujud? Ka’bah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS setelah mendapatkan petunjuk dari Allah Azza wa Jalla. Nenek moyang Nabi Ibrahim merupakan penyembah berhala. Ayah dari Nabi Ibrahim merupakan penjual patung berhala. Fondasi dari agama Islam adalah tauhid. Tauhid artinya mengesakan Allah atau menyembah kepada satu Tuhan, yaitu: Allah. Fondasi dalam agama inilah yang dinamakan aqidah. Sebagai mukmin, jangan kita menghabiskan usia kita untuk mendekati syirik besar maupun kecil. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah, karena menyekutukan Allah. Mengenai syirik, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48) Maka seorang mukmin wajib faham hal ini, agar perbuatannya di dunia menjadi tidak sia-sia.

Mukmin membaca Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat sebagai kitabullah yang memberikan petunjuk kepada keselamatan, pembeda yang haq dan yang batil serta mengambil hikmah dari kisah-kisah umat terdahulu. Dalam sehari, apakah kita sudah menyempatkan membaca Alquran? Alquran merupakan bukti cinta Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka, sempatkanlah. Bagilah waktu untuk membaca Alquran. Bacalah Al Qur’an minimal 1 hari 1 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/2 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1/4 juz,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 lembar,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 halaman,

Jika tidak sanggup, bacalah 1 ayat,

Dan jika masih tidak sanggup, bercerminlah dan renungkan, “Ya Allah, apa dosa yang telah ‘ku perbuat sehingga aku tidak sanggup membaca Alquran 1 ayat pun? Salah satu keberkahan ibadah adalah kita diberi kesempatan membaca Alquran tiap hari. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Waktu istirahat terbagi menjadi beberapa waktu. Malam merupakan waktu utama untuk istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”. (QS. Ar Rum: 23).

Dalam sehari, Rasulullah menganjurkan beberapa waktu untuk istirahat. Ada waktu-waktu yang tidak dianjurkan dalam Islam untuk tidur, yaitu:

  1. Tidur selepas makan
  2. Tidur sepanjang hari
  3. Tidur pada waktu Ashar
  4. Tidur selepas Subuh atau waktu pagi
  5. Tidur sebelum waktu Isya’

Waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang berkah untuk aktivitas-aktivitas seperti: mencari rezeki, tholabul ‘ilmu, atau melayani keluarga. Tidur terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh kita, biasanya muncul sinyal-sinyal tubuh berupa pusing jika tidur sudah terlalu banyak. Untuk meraih potensi pahala, kita juga harus mengejarnya. Tidak boleh bermalas-malasan.

Allah berjanji demi masa QS. Al-Ashr 1-3;

  1. Demi massa
  2. Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Maka, manfaatkan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Manfaatkan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Dan manfaatkan waktu hidupmu sebelum datang matimu. Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam ketakwaan dan amal sholeh. Aamiin aamiin yaa mujibas sailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 20 Oktober 2017 / 30 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Referensi:

Apakah Dosa Syirik Dimpuni?

Keutamaan Membaca Al Qur’an

Tidur Dalam Tatanan Sunnah

 

Memahami dan Mengamalkan Petunjuk Allah

Menjalani kehidupan dengan suka-duka, godaan, dan cobaannya pasti memerlukan petunjuk dari Allah Yang Maha Menciptakan serta Rasul-Nya.

Seorang dinamakan sholih(ah) jika memiliki hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan sesama (habluminannas). Dalam upaya menjaga serta memperbaiki, kita melakukan muhasabah (habluminafsi) agar jangan sampai kita menggunakan cara yang jauh dari yang ma’ruf, walau tujuan kita benar.

Menjaga perasaan serta kehormatan (marwah) orang lain juga merupakan akhlak kita, walau kita faham hukumnya. Maka pilihlah cara yang lembut namun jelas, sebagaimana kita juga ingin mendapatkan empati, penghargaan, dan kasih sayang. “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12]:90)

Palembang, 12 September 2017 / 21 Dzulhijjah 1438 H

Berbuat yang Terbaik dalam Ibadah


Saudaraku yang dicintai Allah,
Pernahkah mendengar atau bahkan terbersit di hati kecil kita pertanyaan-pertanyaan seperti;
“Mengapa begitu ngotot tentang agama?”
“Mengapa begitu ngotot ibadah?”
“Mengapa begitu semangat dengan amalan?”
“Apa tidak capek?”
“Mengapa tidak santai sedikit saja?”

Mari coba kita telaah karena orang yang ringan hisabnya di hari akhirat adalah orang yang menghisab dirinya ketika ada di dunia.
Ketika kita beramal, kita tentu punya salah. Aqidah tauhid kita; apakah tauhid kita bersih atau tercemar. Shalat kita, zakat kita, dan puasa kita; apakah sudah tertunaikan rukun-rukunnya. Ibadah ke tanah suci; bagaimana niat dan perilaku kita. Sedekah kita; apakah sudah dilakukan dengan cara yang ma’ruf. Bagaimana kita hadir ke majelis ilmu; apa sebenarnya niat kita ke majelis. Akhlak-adab kita dan segala perbuatan kita tentu ada salah; baik itu ketika niat sebelum mengerjakan, sewaktu mengerjakan amalan tersebut, maupun sesudah kita mengerjakannya.

Jadi, ngotot atau mengerahkan tenaga dan usaha saja belum tentu diterima jika tidak ikhlas mengharap ridho Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Dalam QS Al Ma’un (107) ayat 4-5 disebutkan;

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,”

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”

Rasulullah SAW pernah melihat sahabat shalat tidak sempurna, lalu Beliau menyuruh sahabat Beliau mengulangi shalatnya lagi. Maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh…

Apalagi jika kita membandingkan dengan dosa-dosa kita…
Padahal saat kita berbuat dosa Allah melihat, malaikat mencatat, kita berbuat di bumi Allah dengan fasilitas Allah… Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih… Betapa malunya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sebagai hambaNya, kita malu jika hanya memberikan yang biasa-biasa saja, padahal Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang sikap Ihsan di ayat berikut.

QS Al Kahfi (18): 7

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

QS Al Mulk (67): 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Maka marilah kita bersemangat dalam kebaikan (catatan: kebajikan = perbuatannya), sebelum hadir masa di mana buku amal kita sudah diberikan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 7 Ramadhan 1438H / 2 Juni 2017

Referensi:

  1. Faedah Istighfar dan Taubat oleh: Ustadz Firanda Andirja
    https://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/388-faedah-istigfar-dan-taubat
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. TafirQ
    https://tafsirq.com
  4. Ilustrasi Gambar
    https://kaahil.wordpress.com/2013/11/20/makalah-makna-dalil-contoh-berlomba-lomba-dalam-kebaikankebajikan-fastabiqul-khoiroot-albaqoroh-148