Membalas dengan Kebaikan

Berkenaan dengan muamalah kepada sesama manusia atau habluminannas dapat digolongkan sebagai aktivitas memberi dan menerima. Di dalam kita berinteraksi selalu berusaha untuk memberi yang terbaik. Termasuk dalam memberikan respon yang terbaik kepada orang lain.

Ketika seseorang berbuat baik pada kita, sudah sewajarnya kita juga berbuat baik padanya. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan kepada kita malah kita balas dengan keburukan. Dinamakan orang yang bersyukur adalah orang yang tau berterima kasih kepada manusia.

Namun iman kita mulai diuji ketika menerima perbuatan buruk yang menyakiti hati kita. Hal ini bisa berupa: fitnah, olok-olokan, hak kita diambil atau tidak ditunaikan, makian, dan sebagainya yang bisa menyakiti hati kita dan melukai perasaan kita.

Marah itu reaksi yang wajar. Namun, Allah Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dalam QS Ali Imran (3): 133-134;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).”

Ayat tersebut menunjukkan karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu: berinfak dan bersedekah, menahan amarah, memaafkan, dan berbuat kebajikan.

Ada 2 cara dalam menanggapi perbuatan buruk, yaitu:

  1. Adil
  2. Ihsan

Dalilnya adalah QS An Nahl (16):90;

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Akhlak di atas adalah termasuk hal-hal yang diutamakan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, siapa yang tidak bisa menjaga akhlaknya, maka ia tidak bisa menjaga agamanya. Akhlak adalah suatu perilaku dan sikap yang dilakukan secara spontan. Junjungan kita Rasulullah SAW diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka, marilah kita menahan diri, memohon ampun kepada Allah, menahan hawa nafsu dan berlindung kepada Allah agar kita senantiasa mampu menyikapi setiap peristiwa dengan ketakwaan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 16 Ramadhan 1438H / 11 Juni 2017

Referensi:

  1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2016/05/11/94647/akhlak-menahan-amarah-dan-suka-memaafkan.html
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. Ilustrasi Gambar
    http://www.renunganislam.com/2016/03/inilah-nikmat-memaafkan-dalam-Islam.html

Apapun dari Allah Pasti Terbaik

Hikmah Umar bin Khattab 1
Kebanyakan orang suka sifat menyejukkan karena ada rasa nyaman. Namun sifat sejuk seperti angin sepoi-sepoi yang bergerak dengan tempo yang pas itu bisa membuat ngantuk. Lalu tidur. Apakah tidur hal yang baik? Ya, jika ada maslahat. Atau seperti air yang sejuk menyegarkan orang yang sedang haus. Maslahatnya adalah menghilangkan haus.
Namun jika kita sedang harus terjaga, maka rasa kantuk berpotensi melalaikan.
Kebanyakan orang tidak suka panas matahari yang menyengat. Tidak nyaman. Namun, ketika hujan turun maka matahari dirindukan. Kemana hilangnya matahari.
Jadi, tidak selalu panas yang dirasa itu buruk. Hujan juga belum tentu buruk.
Jika memang Allah kehendaki itu terjadi, maka itulah yang terbaik. Walaupun berbeda dengan prinsip dan selera kita. Barangsiapa yang mampu menaklukkan syahwat dunia, maka setan akan lari darinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 18 April 2017