Penilaian, Penghargaan, dan Pujian

Ibrahim bin Adham berkata,
“Siapa yang ingin tenang, hendaklah dia mengeluarkan (penilaian) makhluk dari hatinya, niscaya dia kan tenang” (Siyar Salaf, al Asbahani)

Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Bagaimana manusia berlaku pada kita seharusnya tidak mempengaruhi kita. Karena Rasulullah mencontohkan demikian. Kepada pengemis buta yang selalu mencela, Beliau menyuapi dengan penuh kelembutan.

Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 22)

Wallahu a’lam bishowab.

Link: Penilaian, Penghargaan, dan Pujian
Wordpress: kajianilma
Instagram: ilmapratidina

Perwujudan Shalat dalam Keseharian

Setiap hari berapa banyak shalat yang kita kerjakan? Shalat wajib dan sunnah.

Lalu, apakah kita sudah mengevaluasi shalat kita?

Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan tuma’ninah tentu akan membekas. Shalat sendiri menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 45). Apakah sudah shalat tapi masih kasar dalam mulut, tangan, atau perilaku?
Apakah sudah shalat namun masih sulit meninggalkan dosa?
Apakah sudah shalat masih berzina?
Apakah sudah shalat namun masih gemar berbicara keburukan orang lain?
Apakah sudah shalat namun perilaku pada keluarga, tetangga, dan sesama makhluk Allah masih buruk?

Jika masih demikian, maka segeralah berlari menuju Allah. Pahami syarat sah shalat, rukun-rukun shalat, serta bagaimana pelaksanaan shalat sesuai sunnah.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita tidak hanya dalam menegakkan ibadah shalat namun juga berperilaku shalat. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Wallahu a’lam bishowab.

Link: Perwujudan Shalat dalam Keseharian
Wordpress: kajianilma
Instagram: ilmapratidina

Baiknya Amal

Ketika kita heran, mengapa ada yang kebaikannya tidak seperti yang selayaknya, lebih baik kita doakan. Mengapa? Muttarif bin Abdillah -rahimahullah- dalam Kitab Tahdzib Al Hilyah (1/359) memaparkan, “Baiknya hati karena baiknya amal; dan baiknya amal karena benarnya niat.” Allah berfirman dalam Alquran mengenai iman dan amal sholeh yang berpasangan. Iman selalu membawa pada amal saleh, amal saleh ada karena iman.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 29)

Maka, sebaliknya perbuatan dosa akan membawa ketidakbahagiaan dan tempat kembali yang buruk.

Jika terasa sempit hati kita, maka istighfarlah atas dosa-dosa yang kita lakukan. Karena Allah telah menjamin bahagia bagi mereka yang saleh.

Wallahu a’lam bishowab.

Membentuk Jiwa Takwa

Puasa membentuk kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa telah diterangkan Allah Ta’ala dalam QS. Ali-Imran [3]: 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Banyak sedekah, menahan amarah, dan memaafkan. Betapa kita lihat di sekeliling kita orang-orang bertengkar karena kekurangan jiwa takwa.

Memaafkan tidak menjadikan seseorang menjadi hina. Bahkan Allah Ta’ala telah berjanji untuk meningkatkan derajat orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain padanya.

Lalu bagaimana agar kita dapat memiliki jiwa takwa? Tentu diperlukan niat yang kuat, hijrah menuju kebajikan, dan istiqomah. Berteman dengan orang-orang yang sholeh serta menjauhi pertemanan dengan orang-orang jahil.

Mujahadah diperlukan untuk membentuk jiwa takwa. Perjuangan (jihad) dalam memerangi hawa nafsu itulah yang kita jalani di bulan puasa.

Apakah puasa kita sudah membentuk jiwa takwa? Ataukah kita masih terus dalam kubangan dosa dan hawa nafsu yang tidak disukai Allah?

Wallahu a’lam bishowab.

Lepaskan Tuhan Selain ALLAH

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita. Niat seseorang merupakan perkara yang sangat penting. Niat yang salah, maka amal juga bisa rusak. Ketika seseorang hijrah karena wanita, maka ia tidak mendapatkan apa-apa selain wanita. Ketika seseorang hijrah karena harta, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harta. Dan ketika seseorang hijrah karena Allah, maka ridha Allah yang ia dapatkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di hati kita. Apakah ada tuhan-tuhan yang lain di hati kita? Apakah itu suami atau istri kita? Apakah itu pekerjaan kita? Apakah itu harta kita? Apakah itu anak-anak kita? Apakah tuhan kita adalah pujian orang? Apakah tuhan kita adalah dukungan/like/followers/ridho manusia? Allah Maha Mengetahui. Allah Tau bagaimana timbangan tuhan-tuhan di hati kita dibanding Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Subhanallah. Walaupun perbuatan kita secara dzahir itu baik, namun batin kita harus lurus kepada Allah. Apalagi jika perbuatan kita tidak baik atau melanggar aturan Allah, maka kita harus segera bertaubat.

Kemudian, jika kita tidak ikhlas kepada Allah; ternyata mudah bagi Allah untuk menegur kita semata-mata agar kita mengerti esensi penciptaan hidup. Bentuk teguran ini merupakan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin Allah selamatkan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Marilah kita periksa hati kita. Barangkali noda-nodanya terlalu banyak. Barangkali dosa dan hawa nafsu telah menghalangi pandangan hati kita dalam mengenali petunjuk-petunjuk Allah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 12 Februari 2018 / 26 Djumadil Awwal 1439H

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Komunitas Insan Qurani

Rasulullah bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Hadits tersebut membuat saya tergugah untuk berbuat sesuatu. Rasanya, amal yang telah saya lakukan selama ini belumlah  cukup. Pasti ada kesalahan dan kesempurnaan. Pasti tercampur dengan noda-noda. Astaghfirullahal adziim…

Seorang praktisi dan pemerhati pendidikan Islam, KH Mohammad Hidayat mengaku prihatin dengan rendahnya kemampuan umat Islam Indonesia dalam baca tulis Alquran. Di kota-kota besar saja, hanya mencapai 70 persen masyarakat yang melek Alquran. “Angka 70 persen itu mereka yang hanya bisa membaca alif, ba, ta, tsa secara terputus. Sementara yang bisa membaca huruf al-Qur`an secara tersambung masih sedikit. Bahkan yang membaca sesuai tajwid hanya beberapa persen saja,” jelas KH Mohammad Hidayat yang juga menjabat Ketua Dewan Pendiri dan Pembina Yayasan Majelis Taklim Al Washiyyah itu.

Kemuliaan Alquran yang luar biasa harus kita jaga. Berikut kutipan dari para guru kita, ulama-ulama klasik mengenal mukjizat Alquran,

Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Alquran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Alquran.”

Berkata Al-Imam Qurtubi:

“Barang siapa yang membaca Alquran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun.”

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah:

“Perbanyaklah membaca Alquran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan dimudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:

“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Alquran,  maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:

“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Alquran”.

Berkata Shaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah Ta’ala”.

“Bergantunglah pada Alquran niscaya kau akan mendapatkan keberkahan”.

Berkata sebagian ahli tafsir:

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Alquran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia.”

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Alquran dan mengamalkan kandungannya.”

Bila Anda cinta pada Alquran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Alquran maka pahala akan mengalir pada anda.

Itulah mengapa, saya lalu membentuk Komunitas Insan Qurani di tahun 2015. Memang hal ini merupakan cita-cita sekaligus passion saya sejak dulu. Komunitas Insan Qurani memilliki kegiatan menyalurkan Iqro’ dan Alquran kepada anak-anak yang membutuhkan. Targetnya kepada anak-anak yang memiliki pendampingan. Artinya, anak-anak tersebut memiliki guru baca Alquran.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Komunitas Insan Qurani, yaitu:

  1. Kolaborasi dengan lembaga amal

Kami bekerja sama dengan TPA, Pondok Pesantren, dan lembaga penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf lainnya. Dari Rumah Zakat, Rumah Buku Ilmi, TPA, Pondok Pesantren, dan masjid-masjid yang membutuhkan.

  1. Memanfaatkan media sosial untuk menggalang bantuan wakaf

Di era media sosial, kami juga menggunakan sarana Facebook, Instagram, dan Path untuk mengumumkan dibukanya donasi wakaf. Biasanya setelah itu, ada saja teman-teman yang tergerak hatinya untuk ikut berdonasi.

  1. Menginformasi amanah wakaf yang sudah disalurkan

Wakaf yang sudah disalurkan, diinformasikan melalui sebuah akun WordPress, termasuk jumlah Iqro’ dan Alquran, lokasi penerimaan wakaf, dan foto-foto kegiatan. Biasanya kami juga sudah update di blog untuk rencana wakaf selanjutnya.

  1. Memperhatikan daerah-daerah terpencil yang membutuhkan

Biasanya, tempat-tempat yang kami pilih memang merupakan tempat-tempat yang layak untuk diberikan wakaf. Tidak hanya di pulau Jawa saja, namun tersebar di seluruh Indonesia.

  1. Saling mendukung dan menyemangati satu sama lain

Ada kalanya relawan kami mengalami kejenuhan. Ada kalanya off untuk berkonsentrasi mengajar TPA, memperkuat hafalan, atau urusan-urusan lain. Namun, kami saling mendukung dan menyemangati agar istiqomah di jalan ini.

Komunitas Insan Qurani memang baru berusia 2 tahun, namun sejauh ini Alhamdulillah dukungan terus mengalir walaupun sedikit. Kami berharap agar komunitas ini istiqomah dalam berkhidmad kepada ummat Islam. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Hijrah dan Keterasingan

Subhanallah. Sudah lazim bahwa di negeri kita; apa yang berbeda sedikit akan disorot. Masih banyak hal-hal yang sesuai tuntunan Rasulullah namun disorot karena berbeda. Misalnya: kebiasaan tidak bersalaman dengan nonmuhrim, memakai hijab di depan ipar-ipar dan kerabat yang nonmuhrim, atau tidak melakukan ritual-ritual yang mengarah pada syirik seperti: perhitungan dan ramalan hari pernikahan, ataupun ritual meminta ke kuburan.

Sebenarnya fenomena keterasingan ini sudah dikatakan oleh Baginda Rasulullah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Maka, jika kebetulan kita merupakan pihak yang merasa asing atau dianggap asing; bersyukurlah. Jangan berkecil hati karena kita sedang mengamalkan Islam dengan kaffah. Islam yang kaffah artinya totalitas dan bersifat holistik terhadap ajaran Islam. Islam yang kaffah berarti menggunakan paradigma Alquran dalam menyikapi kehidupan. Islam yang kaffah berarti mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sebagai junjungan kita.

Masyaa Allah. Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Ternyata Islam memberikan kita solusi untuk berkumpul bersama teman-teman yang sholih. Bukankah teman itu besar pengaruhnya pada kita? Teman-teman yang dengan melihatnya kita bisa ingat kepada Allah Azza wa Jalla itulah yang menolong kita. Bahwa nanti di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan amal masing-masing, namun ada syafa’at dari teman-teman sholih jika kita bersama mereka dalam ketaatan.

Hadir ke majelis ilmu juga merupakan penguat dalam hijrah kita ke jalan Allah. Majelis ilmu akan menuntun keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Ilmu lalu amal. Begitulah alurnya. Setelah kita faham ilmunya, maka ilmu itu hanya akan bermanfaat jika digunakan, dipraktikkan, atau diamalkan.

Lantas, mengapa orang-orang antipati terhadap mereka yang berhijrah? Mari kita renungi dan turunkan ego untuk bermuhasabah. Bisa jadi itu karena akhlak mereka sendiri. Di saat mereka tidak ramah, merasa suci, merasa paling benar, merasa paling baik, hanya mau menolong yang sama atau segolongan dengan mereka; maka itulah kerusakannya. Itulah yang menyebabkan orang-orang tidak simpatik. Astaghfirullahal adziim… Jangan pernah merasa sombong dan angkuh dengan keimanan kita, jangan bersikap melangit karena ketaaatan kita. Karena setitik sifat sombong akan menghalangi kita dari surga. Hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak memiliki kesombongan.

Berhijrah juga membutuhkan doa agar diberikan istiqamah. Karena kita tau bagaimana syaitan menggoda kita dari segala arah. Dan kita wajib berdoa untuk husnul khotimah.

Apabila langkah-langkah tersebut kita jalankan dengan sabar dan ikhlas mengharap pada ridho dan pahala Allah, maka In syaa Allah kita akan mendapati ketenteraman hidup. Kita menjadi lebih tawakkal setelah ikhtiar. Bahwa apapun yang diberikan Allah Azza wa Jalla merupakan nikmat yang sangat indah. Mengenal Islam itu indah.

Semoga kita senantiasa dibantu Allah agar istiqamah dalam hijrah. Aamiin aamiin ya mujibassailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 24 Oktober 2017 / 4 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Beramal Kemudian Lupakan

Setiap hari kita bangun dari tidur, apa yang pertama kali kita ingat dan lakukan? Sebagian dari kita akan langsung bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat. Namun, apa yang bisa kita lakukan sebelum itu? Ustadz Arifin Jayadiningrat, dalam salah satu ceramahnya, Beliau berkata, “Sewaktu membuka mata dari tidur, ucapkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Karena ruh kita telah dikembalikan. Bayangkanlah, jika hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kita.”

Jika seorang mukmin memiliki paradigma bahwa setiap hari bisa saja merupakan hari dimana malaikat maut bisa menjemput ajalnya, maka ia akan bersungguh-sungguh memanfaatkan hari itu sebaik-baiknya. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka akan bersegera melakukan amal sholeh. Kita berazzam untuk bangun tahajud dengan istiqamah, karena kemuliaan tahajud. Kita tunaikan puasa wajib dan sunnah, merapikan shalat dan menambah dengan shalat sunnah, berbakti pada orang tua, sedekah, membaca serta menghafal Alquran, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah jika ada yang meninggal, memenuhi undangan jika ada undangan, kita berikan akhlak mulia kepada siapa saja yang bertemu dengan kita. Masyaa Allah. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.” (QS. As-Sajdah: 16-17).

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka yang kita pikirkan adalah “Sudah cukupkah amalku untuk menghadap Allah?” Inilah yang seharusnya menjadi niat kita dalam beramal. Para salafush shalih dulu berlomba-lomba menyembunyikan amal, sedangkan fenomena yang terjadi pada saat ini kita malah menampakkan amal-amal kita. Al-Imam Ja’far al-Shadiq ‘alaihissalaam berkata, “Kebaikan kepada orang lain itu tidak sempurna kecuali dengan tiga hal, menyegerakannya, menganggapnya kecil dan menutupinya.” (Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya juz 3 halaman 198).

Betapa banyak anjuran untuk beramal lalu menganggap amalan tersebut ringan, menyembunyikan, dan melupakannya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merasa kuatir apabila umatnya terjangkit penyakit riya’. Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi, riya’ merupakan amalan yang tidak ikhlas menghadap wajah Allah atau memurnikan karena Allah karena ingin mendapatkan pandangan, sanjungan, dan pujian dari manusia. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Di dalam bersedekahpun Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“ (QS. Al Baqarah: 264). Ayat tersebut menjelaskan kepada kita mengenai 3 hal yang dapat menghapus pahala sedekah, yaitu:

  1. Menyebut-nyebut pemberian sedekah.
  2. Menyakiti orang yang diberi sedekah.
  3. Perbuatan riya’ terhadap amal.

Sebagai mukmin yang menyadari bahwa tugasnya di dunia adalah beribadah kepada Allah dan senantiasa mengingat kematian, maka in syaa Allah perbuatan tersebut bisa dijauhi. Kita memohon dalam doa agar diberikan amalan yang diterima, maka caranya adalah dengan menganggap amalan kita tersebut belum ada apa-apanya. Di dalam dzikir dan doa pagi, kita berdoa, “Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an wa rizqon thoyyiban wa a’malan mutaqobalan.Ya Allah, aku mohon kepadamu berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima di sisi-Mu.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa kepada kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat, yaitu: ilmu agama berupa Alquran dan Sunnah. Rizki yang baik merupakan rizki yang halal dan bermanfaat, berupa: makanan dan minuman yang halal dan baik, tempat tinggal, kendaraan, dan segala keperluan dalam kehidupan. Amalan yang diterima merupakan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan dilakukan secara ikhlas untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa dikotori dengan riya’ dan sum’ah (catatan: riya’ adalah ingin dilihat, sum’ah adalah ingin didengar). Adanya riya’ dan sum’ah akan membawa seseorang pada sifat ujub atau berbangga diri, dan sifat takabur atau tinggi hati. Naudzubillahi min dzalik.

Kita bisa beramal, sebenarnya karena Allah Azza wa Jalla membuka pintu amal tersebut untuk kita dan mengizinkan kita melakukan amalan tersebut. Jika tidak karena rahmat-Nya, kita tidak bisa melakukan amalan tersebut. Semoga hati kita senantiasa dibimbing oleh Allah untuk mengarah pada hal-hal yang Allah sukai. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 19 Oktober 2017  / 29 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Referensi:

 

Doa Akhlakul Karimah

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallaahu’anhu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ،…

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummahdinii li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdii li ahsanihaa illaa anta,

washrif ‘annii sayyi ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi ahaa illaa anta

“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukannya selain Engkau.

Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.”

(HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Membalas dengan Kebaikan

Berkenaan dengan muamalah kepada sesama manusia atau habluminannas dapat digolongkan sebagai aktivitas memberi dan menerima. Di dalam kita berinteraksi selalu berusaha untuk memberi yang terbaik. Termasuk dalam memberikan respon yang terbaik kepada orang lain.

Ketika seseorang berbuat baik pada kita, sudah sewajarnya kita juga berbuat baik padanya. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan kepada kita malah kita balas dengan keburukan. Dinamakan orang yang bersyukur adalah orang yang tau berterima kasih kepada manusia.

Namun iman kita mulai diuji ketika menerima perbuatan buruk yang menyakiti hati kita. Hal ini bisa berupa: fitnah, olok-olokan, hak kita diambil atau tidak ditunaikan, makian, dan sebagainya yang bisa menyakiti hati kita dan melukai perasaan kita.

Marah itu reaksi yang wajar. Namun, Allah Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dalam QS Ali Imran (3): 133-134;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).”

Ayat tersebut menunjukkan karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu: berinfak dan bersedekah, menahan amarah, memaafkan, dan berbuat kebajikan.

Ada 2 cara dalam menanggapi perbuatan buruk, yaitu:

  1. Adil
  2. Ihsan

Dalilnya adalah QS An Nahl (16):90;

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Akhlak di atas adalah termasuk hal-hal yang diutamakan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, siapa yang tidak bisa menjaga akhlaknya, maka ia tidak bisa menjaga agamanya. Akhlak adalah suatu perilaku dan sikap yang dilakukan secara spontan. Junjungan kita Rasulullah SAW diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka, marilah kita menahan diri, memohon ampun kepada Allah, menahan hawa nafsu dan berlindung kepada Allah agar kita senantiasa mampu menyikapi setiap peristiwa dengan ketakwaan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 16 Ramadhan 1438H / 11 Juni 2017

Referensi:

  1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2016/05/11/94647/akhlak-menahan-amarah-dan-suka-memaafkan.html
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. Ilustrasi Gambar
    http://www.renunganislam.com/2016/03/inilah-nikmat-memaafkan-dalam-Islam.html