Beramal Kemudian Lupakan

Setiap hari kita bangun dari tidur, apa yang pertama kali kita ingat dan lakukan? Sebagian dari kita akan langsung bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat. Namun, apa yang bisa kita lakukan sebelum itu? Ustadz Arifin Jayadiningrat, dalam salah satu ceramahnya, Beliau berkata, “Sewaktu membuka mata dari tidur, ucapkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Karena ruh kita telah dikembalikan. Bayangkanlah, jika hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kita.”

Jika seorang mukmin memiliki paradigma bahwa setiap hari bisa saja merupakan hari dimana malaikat maut bisa menjemput ajalnya, maka ia akan bersungguh-sungguh memanfaatkan hari itu sebaik-baiknya. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan, “Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka akan bersegera melakukan amal sholeh. Kita berazzam untuk bangun tahajud dengan istiqamah, karena kemuliaan tahajud. Kita tunaikan puasa wajib dan sunnah, merapikan shalat dan menambah dengan shalat sunnah, berbakti pada orang tua, sedekah, membaca serta menghafal Alquran, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah jika ada yang meninggal, memenuhi undangan jika ada undangan, kita berikan akhlak mulia kepada siapa saja yang bertemu dengan kita. Masyaa Allah. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.” (QS. As-Sajdah: 16-17).

Ketika kita merasa bahwa bisa saja ini hari terakhir kita, maka yang kita pikirkan adalah “Sudah cukupkah amalku untuk menghadap Allah?” Inilah yang seharusnya menjadi niat kita dalam beramal. Para salafush shalih dulu berlomba-lomba menyembunyikan amal, sedangkan fenomena yang terjadi pada saat ini kita malah menampakkan amal-amal kita. Al-Imam Ja’far al-Shadiq ‘alaihissalaam berkata, “Kebaikan kepada orang lain itu tidak sempurna kecuali dengan tiga hal, menyegerakannya, menganggapnya kecil dan menutupinya.” (Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya juz 3 halaman 198).

Betapa banyak anjuran untuk beramal lalu menganggap amalan tersebut ringan, menyembunyikan, dan melupakannya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merasa kuatir apabila umatnya terjangkit penyakit riya’. Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi, riya’ merupakan amalan yang tidak ikhlas menghadap wajah Allah atau memurnikan karena Allah karena ingin mendapatkan pandangan, sanjungan, dan pujian dari manusia. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Di dalam bersedekahpun Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“ (QS. Al Baqarah: 264). Ayat tersebut menjelaskan kepada kita mengenai 3 hal yang dapat menghapus pahala sedekah, yaitu:

  1. Menyebut-nyebut pemberian sedekah.
  2. Menyakiti orang yang diberi sedekah.
  3. Perbuatan riya’ terhadap amal.

Sebagai mukmin yang menyadari bahwa tugasnya di dunia adalah beribadah kepada Allah dan senantiasa mengingat kematian, maka in syaa Allah perbuatan tersebut bisa dijauhi. Kita memohon dalam doa agar diberikan amalan yang diterima, maka caranya adalah dengan menganggap amalan kita tersebut belum ada apa-apanya. Di dalam dzikir dan doa pagi, kita berdoa, “Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an wa rizqon thoyyiban wa a’malan mutaqobalan.Ya Allah, aku mohon kepadamu berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima di sisi-Mu.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa kepada kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat, yaitu: ilmu agama berupa Alquran dan Sunnah. Rizki yang baik merupakan rizki yang halal dan bermanfaat, berupa: makanan dan minuman yang halal dan baik, tempat tinggal, kendaraan, dan segala keperluan dalam kehidupan. Amalan yang diterima merupakan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan dilakukan secara ikhlas untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa dikotori dengan riya’ dan sum’ah (catatan: riya’ adalah ingin dilihat, sum’ah adalah ingin didengar). Adanya riya’ dan sum’ah akan membawa seseorang pada sifat ujub atau berbangga diri, dan sifat takabur atau tinggi hati. Naudzubillahi min dzalik.

Kita bisa beramal, sebenarnya karena Allah Azza wa Jalla membuka pintu amal tersebut untuk kita dan mengizinkan kita melakukan amalan tersebut. Jika tidak karena rahmat-Nya, kita tidak bisa melakukan amalan tersebut. Semoga hati kita senantiasa dibimbing oleh Allah untuk mengarah pada hal-hal yang Allah sukai. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 19 Oktober 2017  / 29 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Referensi:

 

Doa Akhlakul Karimah

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallaahu’anhu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ،…

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummahdinii li ahsanil akhlaaq, fa innahu laa yahdii li ahsanihaa illaa anta,

washrif ‘annii sayyi ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi ahaa illaa anta

“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukannya selain Engkau.

Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.”

(HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Membalas dengan Kebaikan

Berkenaan dengan muamalah kepada sesama manusia atau habluminannas dapat digolongkan sebagai aktivitas memberi dan menerima. Di dalam kita berinteraksi selalu berusaha untuk memberi yang terbaik. Termasuk dalam memberikan respon yang terbaik kepada orang lain.

Ketika seseorang berbuat baik pada kita, sudah sewajarnya kita juga berbuat baik padanya. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan kepada kita malah kita balas dengan keburukan. Dinamakan orang yang bersyukur adalah orang yang tau berterima kasih kepada manusia.

Namun iman kita mulai diuji ketika menerima perbuatan buruk yang menyakiti hati kita. Hal ini bisa berupa: fitnah, olok-olokan, hak kita diambil atau tidak ditunaikan, makian, dan sebagainya yang bisa menyakiti hati kita dan melukai perasaan kita.

Marah itu reaksi yang wajar. Namun, Allah Azza wa Jalla telah memberikan petunjuk dalam QS Ali Imran (3): 133-134;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (catatan: kebajikan adalah perbuatannya, kebaikan adalah sifatnya).”

Ayat tersebut menunjukkan karakter orang-orang yang bertakwa, yaitu: berinfak dan bersedekah, menahan amarah, memaafkan, dan berbuat kebajikan.

Ada 2 cara dalam menanggapi perbuatan buruk, yaitu:

  1. Adil
  2. Ihsan

Dalilnya adalah QS An Nahl (16):90;

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Akhlak di atas adalah termasuk hal-hal yang diutamakan.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, siapa yang tidak bisa menjaga akhlaknya, maka ia tidak bisa menjaga agamanya. Akhlak adalah suatu perilaku dan sikap yang dilakukan secara spontan. Junjungan kita Rasulullah SAW diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka, marilah kita menahan diri, memohon ampun kepada Allah, menahan hawa nafsu dan berlindung kepada Allah agar kita senantiasa mampu menyikapi setiap peristiwa dengan ketakwaan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 16 Ramadhan 1438H / 11 Juni 2017

Referensi:

  1. Perintah Memaafkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2016/05/11/94647/akhlak-menahan-amarah-dan-suka-memaafkan.html
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. Ilustrasi Gambar
    http://www.renunganislam.com/2016/03/inilah-nikmat-memaafkan-dalam-Islam.html

Berbuat yang Terbaik dalam Ibadah


Saudaraku yang dicintai Allah,
Pernahkah mendengar atau bahkan terbersit di hati kecil kita pertanyaan-pertanyaan seperti;
“Mengapa begitu ngotot tentang agama?”
“Mengapa begitu ngotot ibadah?”
“Mengapa begitu semangat dengan amalan?”
“Apa tidak capek?”
“Mengapa tidak santai sedikit saja?”

Mari coba kita telaah karena orang yang ringan hisabnya di hari akhirat adalah orang yang menghisab dirinya ketika ada di dunia.
Ketika kita beramal, kita tentu punya salah. Aqidah tauhid kita; apakah tauhid kita bersih atau tercemar. Shalat kita, zakat kita, dan puasa kita; apakah sudah tertunaikan rukun-rukunnya. Ibadah ke tanah suci; bagaimana niat dan perilaku kita. Sedekah kita; apakah sudah dilakukan dengan cara yang ma’ruf. Bagaimana kita hadir ke majelis ilmu; apa sebenarnya niat kita ke majelis. Akhlak-adab kita dan segala perbuatan kita tentu ada salah; baik itu ketika niat sebelum mengerjakan, sewaktu mengerjakan amalan tersebut, maupun sesudah kita mengerjakannya.

Jadi, ngotot atau mengerahkan tenaga dan usaha saja belum tentu diterima jika tidak ikhlas mengharap ridho Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Dalam QS Al Ma’un (107) ayat 4-5 disebutkan;

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,”

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”

Rasulullah SAW pernah melihat sahabat shalat tidak sempurna, lalu Beliau menyuruh sahabat Beliau mengulangi shalatnya lagi. Maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh…

Apalagi jika kita membandingkan dengan dosa-dosa kita…
Padahal saat kita berbuat dosa Allah melihat, malaikat mencatat, kita berbuat di bumi Allah dengan fasilitas Allah… Astaghfirullah wa ‘aatubu ilaih… Betapa malunya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sebagai hambaNya, kita malu jika hanya memberikan yang biasa-biasa saja, padahal Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang sikap Ihsan di ayat berikut.

QS Al Kahfi (18): 7

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

QS Al Mulk (67): 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Maka marilah kita bersemangat dalam kebaikan (catatan: kebajikan = perbuatannya), sebelum hadir masa di mana buku amal kita sudah diberikan.

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 7 Ramadhan 1438H / 2 Juni 2017

Referensi:

  1. Faedah Istighfar dan Taubat oleh: Ustadz Firanda Andirja
    https://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/388-faedah-istigfar-dan-taubat
  2. Khalifah Center
    http://khalifahcenter.com
  3. TafirQ
    https://tafsirq.com
  4. Ilustrasi Gambar
    https://kaahil.wordpress.com/2013/11/20/makalah-makna-dalil-contoh-berlomba-lomba-dalam-kebaikankebajikan-fastabiqul-khoiroot-albaqoroh-148

Tiap Cobaan Ada Batas Expirednya

Ketika Allah Azza wa Jalla memberikan cobaan kepada hambaNya, maka Allah juga sudah menakdirkan jatah waktu cobaan tersebut diangkat olehNya. HambaNya yang mendapat cobaan itu pun sudah diukur dan dinilai mampu untuk mengemban cobaan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Dinukil dari kisah Nabi Ayub AS; Al Quran memuji Nabi Ayub sebagai seorang yang sabar (bahkan bisa dikatakan sangat sabar menerima cobaan).  Dalam 3 hari kenikmatan dunianya diambil oleh Allah; anak-anaknya meninggal, perkebunannya hancur, sakit hingga diasingkan oleh masyarakat padahal sebelumnya Beliau adalah seorang pemimpin. Namun Nabi Ayub sabar hingga batas waktu expirednya cobaan tersebut. Ketika istrinya menyuruh Nabi Ayub untuk meminta kepada Allah dihentikan cobaannya, Nabi Ayub masih malu meminta kepada Allah. Nabi Ayub mempertimbangkan lamanya waktu Allah berikan nikmat kepada dirinya dan keluarganya. Dan cobaan yang diberikan Allah ini belum impas jika dibandingkan nikmat Allah. Masya Allah.. Hingga akhirnya air mengalir dari bawah tempat tidur Beliau, dan air ini yang menyembuhkan sakit kulit Nabi Ayub.

Kemudian balasan kesabaran dari Allah bagaikan banjir rezeki yang tidak terbendung. Istri Nabi Ayub kemudian hamil tiap tahun melahirkan anak kembar, sehingga Allah mengganti 2x lipat jumlah anak Beliau, kekayaan, perkebunan, dan kedudukan di masyarakat pun kembali. Lebih banyak dan lebih besar.

Ketika kita merasa cobaan di hidup kita berat, bawalah kepada Allah. Allah yang berikan, Allah pula yang mengangkat cobaan tersebut. Sabar hingga batas waktu expired cobaan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ

لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Wa’allahu alam bishowab.

Semoga bermanfaat bagi iman Islam kita. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita. Aamiin yaa Mujibassailin…

Palembang, 21 Januari 2017

Referensi:

  1. Kajian Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA tentang “Sang Penyabar – Dasyatnya Cobaan Nabi Ayub”
  2. Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah pada Waktu Malam https://rumaysho.com/11085-keutamaan-membaca-dua-ayat-terakhir-surat-al-baqarah-pada-waktu-malam.html
  3. Ilustrasi Gambar
    http://davitputra.net/2013/10/kita-adalah-cobaan-bagi-orang-lain-juga-sebaliknya/