Membentuk Jiwa Takwa

Puasa membentuk kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa telah diterangkan Allah Ta’ala dalam QS. Ali-Imran [3]: 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Banyak sedekah, menahan amarah, dan memaafkan. Betapa kita lihat di sekeliling kita orang-orang bertengkar karena kekurangan jiwa takwa.

Memaafkan tidak menjadikan seseorang menjadi hina. Bahkan Allah Ta’ala telah berjanji untuk meningkatkan derajat orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain padanya.

Lalu bagaimana agar kita dapat memiliki jiwa takwa? Tentu diperlukan niat yang kuat, hijrah menuju kebajikan, dan istiqomah. Berteman dengan orang-orang yang sholeh serta menjauhi pertemanan dengan orang-orang jahil.

Mujahadah diperlukan untuk membentuk jiwa takwa. Perjuangan (jihad) dalam memerangi hawa nafsu itulah yang kita jalani di bulan puasa.

Apakah puasa kita sudah membentuk jiwa takwa? Ataukah kita masih terus dalam kubangan dosa dan hawa nafsu yang tidak disukai Allah?

Wallahu a’lam bishowab.

Hikmah Kehidupan Desa yang Tenteram

Apa yang ada di pikiran kita membayangkan suasana desa? Jawabannya bisa berbeda-beda. Sebagian akan menjawab hidup di pedesaan itu tenteram, suasananya sangat kekeluargaan, orang-orangnya suka menolong, mereka tidak berpikir macam-macam, alias sederhana. Ada juga yang menjawab, pedesaan adalah lokasi dimana terdapat ketertinggalan dan berlawanan dengan kemajuan zaman. Ini disebabkan karena jangkauan jarak yang jauh dari pusat aktivitas manusia serta kondisi ekonomi masyarakat pedesaan.

Kalau kita bisa menggali, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita peroleh dengan belajar pada kehidupan di desa untuk diterapkan dimana saja kita tinggal. Mengapa demikian?

Banyak orang stres hidup di kota-kota besar. Ini disebabkan oleh tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan hidup di kota besar. Saat ini jasa mindfulness, healer, hipnoterapi, ataupun psikolog-psikiater banyak dibutuhkan di kota-kota besar. Manusia butuh merasa tenteram.

Jika kondisi manusia sudah tenteram, dia akan merasa bahagia dan dan merasa  baik dalam hubungannya dalam kehidupaan ini. Ini bisa didapatkan dengan mencontoh nilai-nilai yang berdasarkan pada nurani, yang jauh dari nafsu-ego berlebihan, dan yang sesuai dengan apa yang Allah cintai serta Rasulullah ajarkan.

Berikut merupakan cara-cara yang bisa dilakukan untuk hidup tenteram:

  1. Qona’ah.

Qona’ah merupakan sikap merasa cukup dengan rezeki Allah. Ini berbeda dengan sikap malas, tidak mau berusaha, ataupun bergantung kepada orang lain. Qona’ah membuat kita tenteram karena kita tidak mengejar ambisi secara berlebihan. Karena pada hakikatnya, semua merupakan urusan dunia. ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qona’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

  1. Rendah hati.

Betapa beruntungnya orang yang dikaruniai sifat rendah hati. Dia mudah bergaul dengan segala kalangan dan orang-orang pun menyukainya. Sifat rendah hati atau low profile merupakan kebalikan dari sifat sombong atau tinggi hati. Kehidupan di pedesaan gotong-royong, mereka saling membutuhkan. Maka tidak heran, jika masyarakatnya memiliki sifat rendah hati.

  1. Peduli pada lingkungan sekitar, sehingga menambah teman dan persaudaraan.

Kepedulian kita pada orang lain merupakan wujud kita menghormati, menghargai, serta berkasih sayang kepada orang lain.

  1. Menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, tidak mengganggu.

Bermasyarakat butuh saling menjaga. Ini berupa kebersihan dan ketertiban lingkungan. Tentu kita tidak suka jika di waktu tidur, ada suara bising yang mengganggu. Begitu pula jika ada tetangga membuang sampah di halaman rumah, tentu semua orang juga tidak suka. Hal-hal inilah yang perlu kita mengerti dan kita jaga.

  1. Budayakan senyum, sapa, salam, sedekah.

Ketika bertemu dengan orang lain, usahakan selalu tersenyum, menyapa, dan mengucapkan salam. Ini sebuah bentuk sopan santun serta menjaga keharmonisan. Juga, jadilah orang yang suka bersedekah. Sedekah ini bisa berupa apa saja, namun prioritaskan yang dekat dan mendesak.

 

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Hadits di atas menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah ada dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya. Lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, hlm. 160.

Kehidupan di pedesaan tidak banyak menuntut. Ini seperti nilai dari hadits Rasulullah tersebut, untuk mudah merasa senang dan puas dengan berkah yang telah diberikan Allah dalam kehidupan kita. Dengan begitu, kita merasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

Jakarta, 27 Oktober 2017 / 7 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Sumber Hadits dan Kitab: Meraih Sifat Qana’ah

Sumber Gambar: Brilio

Seni Bermuamalah

Menghadapi manusia dengan segala jenis latar belakang, watak, dan perilakunya butuh ilmu, keterampilan, pengalaman, dimana semuanya itu merupakan seni bermuamalah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Suatu ketika, Aisyah Radhiyallahu ‘anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah, jawaban Beliau, “Akhlak Rasulullah adalah Alquran.”

Salah satu akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang paling mulia yaitu seorang pemaaf. Rasulullah tidak mudah sakit hati walau diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun.

Diriwayatkan, setiap kali Rasulullah pulang dari masjid beliau diludahi oleh seorang kafir. Suatu hari Rasulullah tidak mendapati orang tersebut, ketika ia mengetahui orang itu ternyata sakit, beliau bergegas menjenguknya. Dan karena sebab itulah orang tersebut masuk Islam.

Dalam perjalanan dakwah ke Taif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam  hadapi. Rasulullah ditolak oleh pemimpin Tsaqiif, bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah.

Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah menolak bahkan mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Diceritakan oleh Anas, salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bahwa ada seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah dengan membawa seekor kambing (bakar) yang telah diracuni. Kemudian beliau memakan sebagian darinya. Lalu Rasulullah mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah segera bertanya kepadanya tentang hal itu.

Wanita itu menjawab, “Saya ingin membunuhmu.”

Para sahabat berkata, “Perlukah kita membunuh wanita ini?”

“Jangan!” jawab Rasulullah.

 

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat bekas racun itu senantiasa berada di langit-langit mulut Rasulullah.” (Hadist Riwayat Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan lainnya). Hadist tersebut menceritakan kejadian setelah Rasulullah mengalahkan yahudi di Madinah pada Perang Khaibar. Wanita yahudi tersebut sangat memusuhi Rasulullah. Ia yakin bahwa dengan meracuni hidangan untuk Rasulullah maka ia akan sukses membalas kekalahan yang dialami oleh Kaum Yahudi.

Saat ditanya alasannya meracuni daging kambing tersebut, ia tidak membantah bahwa ia ingin meracuni Rasulullah dan menjawab, “ Saya pikir jika engkau memang benar seorang nabi, maka racun tersebut tidak akan berbahaya untukmu. Namun apabila engkau seorang raja, maka engkau memang pantas untuk dibunuh”.

Di banyak negara, jika ada seseorang yang tertangkap berusaha membunuh pemimpinnya maka akan ditanggapi secara serius dan akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Namun, reaksi Rasulullah saat mendengar alasan wanita itu justru melarang para sahabat untuk membunuh wanita tersebut.

Walaupun wanita tersebut tidak dihukum mati karena telah meracuni makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak hadist yang mengatakan bahwa ia dikenakan hukum mati karena daging kambing beracun itu sebelum dimakan oleh Rasulullah, dimakan oleh salah satu sahabat nabi, Bishr Ibn Al-Baraa, hingga akhirnya ia wafat. Tindakan ini diambil karena dalam islam pembunuhan tidak dapat ditoleransi. Walaupun Rasulullah akan selalu memaafkan segala perlakuan buruk terhadap dirinya, beliau tetap tidak akan melanggar hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah..

Kisah-kisah tersebut merupakan contoh bagaimana pemaafnya Rasulullah. Beliau merupakan orang yang dermawan, murah senyum, santun, lembut, serta pemaaf. Walaupun air susu dibalas dengan air tuba pun, Beliau tidak mendendam. Justru Beliau membalas dengan doa. Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Dalam bermuamalah, sikap sabar dan memaafkan merupakan hal yang penting. Tanpa kesabaran dan pemaafan, bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan harmonis dan saling menghargai satu sama lain? Allah Azza wa Jalla juga berfirman, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS: As-Syuraa: 43)

Para penghuni surga merupakan orang bertakwa dan akhlak mulia. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam  ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, kemudian Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.”” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Semoga kita bisa meneladani akhlak mulia dari utusan Allah yang termulia ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan membantu kita memperbaiki akhlak. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Palembang, 21 Oktober 2017 / 1 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Referensi:

Sikap Pemaaf Rasulullah dan Seorang Kafir yang Meludahinya

Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga

Takdir Ikhtiar dan Berserah Diri

Tafakur merupakan ibadah dalam diam. Ketika kita mentafakuri tempat dimana kita berpijak saat ini, kita merenung kehidupan kita ini lebih banyak sesuai dengan rencana kita atau ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai rencana kita? Saya kerap mengobrol dengan suami tercinta, bahwa saya tidak pernah memiliki ide atau keinginan untuk tinggal di Palembang. Begitu pula dengan suami saya. Suami saya sebelumnya pernah tinggal di kota Pontianak.

Bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi idaman di Jakarta Selatan merupakan impian saya sejak lulus kuliah. Tinggal di Jakarta merupakan impian saya yang sudah menjadi kenyataan selama 10 tahun. Alhamdulillah, departemen saya bekerja juga merupakan impian saya. Alhamdulillah, Allah izinkan cita-cita saya tersebut sejalan dengan skenario Allah.

Namun, bagaimana pertemuan saya dengan suami bukanlah merupakan rencana saya. Kami dikenalkan oleh salah seorang sahabat saya dan ternyata kami berjodoh. Proses jodoh kami tidak didapatkan dengan mudah, namun berliku-liku. Allah Azza wa Jalla telah mengatur bagaimana cerita hidup suami saya harus menjadi dosen di sebuah universitas di Pontianak untuk menjadi rekan sejawat sahabat saya tersebut. Ini tidak akan terjadi jika sebelumnya suami tidak mengambil kuliah S2 Farmakologi di Fakultas Kedokteran. Masya Allah, sungguh semua yang terjadi dalam kehidupan kami telah tersusun dengan detil oleh Allah Azza wa Jalla.

Dalam sebuah tausiyahnya, Ustadz Arifin Jayadiningrat berkata bahwa garis hidup manusia adalah ujian. Pun begitu banyak peristiwa dalam hidup yang tidak terduga. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam Surat Al-Mulk;

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Lantas, bagaimana cara kita menyikapi kehidupan ini? Ternyata, menurut Allah dan tuntunan Rasulullah, kita diperintahkan ikhtiar untuk mengubah keadaan, kita diperintahkan untuk takwa, dan pada akhirnya seorang mukmin adalah orang yang berserah.

Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Rad:11)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Kita tidak boleh tergoda untuk melakukan cara-cara yang menyimpang dari apa yang disukai dan diridhoi Allah. Ketika ujian itu sedang di puncak-puncaknya, hingga membuat kita jatuh dan mengalami masa-masa gelap, ingatlah bahwa semakin gelap malam adalah pertanda pagi segera hadir. Hari ada pagi, ada siang, ada sore, dan ada malam. Musim di negara tropis seperti kita ada musim kemarau dan musim hujan. Lalu, bandingkan bahwa yang kita alami masih belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang dialami para Nabi.

Ketika hadir suatu ujian, maka yang pertama kita lakukan adalah sabar menerima. Sabar adalah pada hentakan pertama. Di situlah kita mendapatkan pahala kesabaran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berkata, ”Menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya.” Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang yang berkata tadi adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita ini berkata, ”Aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Ujian di dalam kehidupan ini bisa membuat kita mulia dan bisa membuat kita hina. Ketika kita diuji dengan keluarga, diuji dengan pasangan hidup, diuji dengan sakit, diuji dalam lingkungan, diuji dalam proses belajar, diuji dengan pekerjaan dan ekonomi, maka yakinlah bahwa semua itu merupakan tanda-tanda cinta Allah pada kita. Mengapa demikian? Karena Allah rindu kita bangun di sepertiga malam, Allah rindu doa-doa kita, Allah ingin kita taubat dari dosa-dosa yang kita lakukan sebelumnya, Allah ingin kita sadar dari kelalaian kita selama ini. “Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani)

Balasan tertinggi dari ini semua adalah kecintaan Allah. Siapakah di alam semesta ini yang tidak mau dicintai Allah?

Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi,” (Muttafaqun Alaih).

Doa di dalam Islam merupakan inti ibadah. Justru Allah akan marah jika hamba-Nya tidak pernah berdoa. Salah satu doa yang sering dibaca oleh Rasulullah, yaitu:

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik

Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam kehidupan ini, tugas kita hanyalah taat pada Allah dan mengikuti utusan Allah yang terakhir, yaitu: Nabi Muhammad. Bukan di sini bahagia kita yang sebenarnya. Bagi seorang mukmin hatinya akan terpaut pada akhirat. Dunia merupakan tempat berbekal menuju kampung halaman akhirat yang abadi. Wallahu a’lam bish-shawab

Palembang, 17 Oktober 2017 / 27 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Cahaya Kebahagiaan Bagian 2

Kesenangan dan Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan keberuntungan dalam hidup yang secara naluriah diidam-idamkan oleh semua makhluk. Tidak hanya manusia, hewan pun juga butuh bahagia.

Allah telah berfirman dalam Alquran bahwa kebahagiaan didapat ketika manusia bertakwa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa yang mengandung unsur hati-hati, takwa yang merupakan kesadaran Islami untuk melakukan hanya pada hal-hal yang disukai Allah. Takwa mengandung unsur melakukan kontrol diri dan mengerem pada hawa nafsu yang cenderung mendorong ke arah keburukan.

Maka kebahagiaan berbeda maknanya dengan kesenangan. Mengapa? Karena kesenangan bisa positif dan bisa negatif. Kesenangan akan menjadi positif jika berdampak pada passion yang baik, menjadi bersemangat kerja atau melakukan amal sholeh, atau menjadi husnudzon kepada Allah. Namun kesenangan juga bisa bermakna negatif.

Kesenangan cenderung memuaskan dorongan, kebahagiaan ada unsur mengerem dorongan karena takwa.

Manusia sebagai khalifah (pemimpin atau penguasa) di muka bumi membutuhkan dorongan untuk membentuk bumi. Dorongan ini jika tidak digunakan di jalan yang Allah ridhoi maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran.

Di dalam Alquran, Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf AS.

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Yusuf: 53)

Manusia yang bertakwa akan berhati-hati dalam mengawal nafsu. Dia menggunakan wahyu dan ilmu dalam menjalani kehidupan yang tidak jarang dipenuhi godaan. Hal ini dilatih oleh dirinya melalui amal ibadah.

Ridho Allah yang menjadi tujuan utama kehidupannya. Maka, dia akan mengesampingkan nafsu untuk melakukan hal-hal yang Allah sukai. Ini dilakukannya dengan kesadaran dan kecintaan. Dia tidak mau jauh-jauh dari petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah.

Inilah bahagia yang sejati.
Bahagia dalam pelukan Allah karena ketakwaan.

Palembang, 9 Oktober 2017 / 19 Muharram 1439H

Referensi:
Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Cahaya Kebahagiaan Bagian 1

Definisi Kebahagiaan

Menurut saya, kebahagiaan adalah sebuah kondisi dalam hidup di mana ada kepuasan, kesenangan, ketenteraman atau kedamaian, serta kesejahteraan atau kebebasan dari rasa sengsara atau penderitaan. Kebahagiaan bersifat lahir dan batin. Kebahagiaan bisa subyektif bisa obyektif, karena menyangkut kebutuhan dan keinginan. Disebut subyektif karena masing-masing manusia memiliki kebutuhan yang belum tentu sama. Disebut obyektif karena secara fitrah, manusia memiliki hal-hal dasar atau primordial dalam menjalankan roda kehidupannya.

Mengapa Bahagia itu Penting

Secara psikologi, kondisi psikis atau kejiwaan seseorang akan sangat berpengaruh kepada kesehatan dan performa sehari-hari dalam menjalani aktivitasnya. Seorang yang content, yang terpenuhi kebutuhannya, yang enjoy, yang damai, yang happy akan lebih mampu bersikap efektif dalam hidup dan efisien dalam bekerja.

Cara Meraih Kebahagiaan

Kesenangan itu berbeda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih jika manusia mengikuti perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Palembang, 20 Agustus 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H

Merasakan Surga di Dunia

Bagi seorang mukmin, segala yang dia lakukan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu: akhirat. Segala amal ibadah serta harapan digantungkan pada 1 cita-cita, yaitu: surga. Level surga itu berbeda-beda, namun keselamatan dari siksa kubur dan siksa neraka adalah harapan bagi mereka yang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)” ( QS.Ad- Dukhaan: 51-55 )

Ibnu Taimiyah berkata kepada Ibnu Qayyim bahwa orang-orang yang beriman dan mengikuti ajaran Rasulullah akan merasakan surga dunia sebelum surga akhirat. Hal tersebut membuat seorang mukmin yang mencintai dan dicintai Allah sudah merasakan kenikmatan surga dunia.

Apa itu surga dunia? Surga dunia adalah memiliki qalbun salim (hati yang selamat) serta nafs muthnainah (jiwa yang tenteram). Hati yang selamat akan bersih dari penyakit hati, merasa qona’ah, serta ridho terhadap takdir. Jiwa yang tenteram tidak akan was-was, gelisah, ataupun stres berlebihan dalam menghadapi hidup.

Dalam bermuamalah dari berkeluarga serta bermasyarakat, dia memberikan kebaikan bagi lingkungannya. Ketika melakukan kekhilafan, dia cepat kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Ma syaa Allah, betapa nikmatnya orang yang telah merasakan surga sebelum surga itu ada. Semoga kita dibimbing Allah menjadi golongan orang-orang yang beruntung.

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 4 Agustus 2017 / 11 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Merasakan Surga di Dunia
    https://www.instagram.com/p/BXXxXn2hsaA/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    https://www.instagram.com/p/BXhnQptDl36/?tagged=surga

 

 

Tiap Cobaan Ada Batas Expirednya

Ketika Allah Azza wa Jalla memberikan cobaan kepada hambaNya, maka Allah juga sudah menakdirkan jatah waktu cobaan tersebut diangkat olehNya. HambaNya yang mendapat cobaan itu pun sudah diukur dan dinilai mampu untuk mengemban cobaan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Dinukil dari kisah Nabi Ayub AS; Al Quran memuji Nabi Ayub sebagai seorang yang sabar (bahkan bisa dikatakan sangat sabar menerima cobaan).  Dalam 3 hari kenikmatan dunianya diambil oleh Allah; anak-anaknya meninggal, perkebunannya hancur, sakit hingga diasingkan oleh masyarakat padahal sebelumnya Beliau adalah seorang pemimpin. Namun Nabi Ayub sabar hingga batas waktu expirednya cobaan tersebut. Ketika istrinya menyuruh Nabi Ayub untuk meminta kepada Allah dihentikan cobaannya, Nabi Ayub masih malu meminta kepada Allah. Nabi Ayub mempertimbangkan lamanya waktu Allah berikan nikmat kepada dirinya dan keluarganya. Dan cobaan yang diberikan Allah ini belum impas jika dibandingkan nikmat Allah. Masya Allah.. Hingga akhirnya air mengalir dari bawah tempat tidur Beliau, dan air ini yang menyembuhkan sakit kulit Nabi Ayub.

Kemudian balasan kesabaran dari Allah bagaikan banjir rezeki yang tidak terbendung. Istri Nabi Ayub kemudian hamil tiap tahun melahirkan anak kembar, sehingga Allah mengganti 2x lipat jumlah anak Beliau, kekayaan, perkebunan, dan kedudukan di masyarakat pun kembali. Lebih banyak dan lebih besar.

Ketika kita merasa cobaan di hidup kita berat, bawalah kepada Allah. Allah yang berikan, Allah pula yang mengangkat cobaan tersebut. Sabar hingga batas waktu expired cobaan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ

لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Wa’allahu alam bishowab.

Semoga bermanfaat bagi iman Islam kita. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan pada kita. Aamiin yaa Mujibassailin…

Palembang, 21 Januari 2017

Referensi:

  1. Kajian Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA tentang “Sang Penyabar – Dasyatnya Cobaan Nabi Ayub”
  2. Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah pada Waktu Malam https://rumaysho.com/11085-keutamaan-membaca-dua-ayat-terakhir-surat-al-baqarah-pada-waktu-malam.html
  3. Ilustrasi Gambar
    http://davitputra.net/2013/10/kita-adalah-cobaan-bagi-orang-lain-juga-sebaliknya/