Cahaya Kebahagiaan Bagian 2

Kesenangan dan Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan keberuntungan dalam hidup yang secara naluriah diidam-idamkan oleh semua makhluk. Tidak hanya manusia, hewan pun juga butuh bahagia.

Allah telah berfirman dalam Alquran bahwa kebahagiaan didapat ketika manusia bertakwa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa yang mengandung unsur hati-hati, takwa yang merupakan kesadaran Islami untuk melakukan hanya pada hal-hal yang disukai Allah. Takwa mengandung unsur melakukan kontrol diri dan mengerem pada hawa nafsu yang cenderung mendorong ke arah keburukan.

Maka kebahagiaan berbeda maknanya dengan kesenangan. Mengapa? Karena kesenangan bisa positif dan bisa negatif. Kesenangan akan menjadi positif jika berdampak pada passion yang baik, menjadi bersemangat kerja atau melakukan amal sholeh, atau menjadi husnudzon kepada Allah. Namun kesenangan juga bisa bermakna negatif.

Kesenangan cenderung memuaskan dorongan, kebahagiaan ada unsur mengerem dorongan karena takwa.

Manusia sebagai khalifah (pemimpin atau penguasa) di muka bumi membutuhkan dorongan untuk membentuk bumi. Dorongan ini jika tidak digunakan di jalan yang Allah ridhoi maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran.

Di dalam Alquran, Allah menceritakan kisah Nabi Yusuf AS.

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Yusuf: 53)

Manusia yang bertakwa akan berhati-hati dalam mengawal nafsu. Dia menggunakan wahyu dan ilmu dalam menjalani kehidupan yang tidak jarang dipenuhi godaan. Hal ini dilatih oleh dirinya melalui amal ibadah.

Ridho Allah yang menjadi tujuan utama kehidupannya. Maka, dia akan mengesampingkan nafsu untuk melakukan hal-hal yang Allah sukai. Ini dilakukannya dengan kesadaran dan kecintaan. Dia tidak mau jauh-jauh dari petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah.

Inilah bahagia yang sejati.
Bahagia dalam pelukan Allah karena ketakwaan.

Palembang, 9 Oktober 2017 / 19 Muharram 1439H

Referensi:
Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Cahaya Kebahagiaan Bagian 1

Definisi Kebahagiaan

Menurut saya, kebahagiaan adalah sebuah kondisi dalam hidup di mana ada kepuasan, kesenangan, ketenteraman atau kedamaian, serta kesejahteraan atau kebebasan dari rasa sengsara atau penderitaan. Kebahagiaan bersifat lahir dan batin. Kebahagiaan bisa subyektif bisa obyektif, karena menyangkut kebutuhan dan keinginan. Disebut subyektif karena masing-masing manusia memiliki kebutuhan yang belum tentu sama. Disebut obyektif karena secara fitrah, manusia memiliki hal-hal dasar atau primordial dalam menjalankan roda kehidupannya.

Mengapa Bahagia itu Penting

Secara psikologi, kondisi psikis atau kejiwaan seseorang akan sangat berpengaruh kepada kesehatan dan performa sehari-hari dalam menjalani aktivitasnya. Seorang yang content, yang terpenuhi kebutuhannya, yang enjoy, yang damai, yang happy akan lebih mampu bersikap efektif dalam hidup dan efisien dalam bekerja.

Cara Meraih Kebahagiaan

Kesenangan itu berbeda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih jika manusia mengikuti perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Palembang, 20 Agustus 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H

Merasakan Surga di Dunia

Bagi seorang mukmin, segala yang dia lakukan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu: akhirat. Segala amal ibadah serta harapan digantungkan pada 1 cita-cita, yaitu: surga. Level surga itu berbeda-beda, namun keselamatan dari siksa kubur dan siksa neraka adalah harapan bagi mereka yang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)” ( QS.Ad- Dukhaan: 51-55 )

Ibnu Taimiyah berkata kepada Ibnu Qayyim bahwa orang-orang yang beriman dan mengikuti ajaran Rasulullah akan merasakan surga dunia sebelum surga akhirat. Hal tersebut membuat seorang mukmin yang mencintai dan dicintai Allah sudah merasakan kenikmatan surga dunia.

Apa itu surga dunia? Surga dunia adalah memiliki qalbun salim (hati yang selamat) serta nafs muthnainah (jiwa yang tenteram). Hati yang selamat akan bersih dari penyakit hati, merasa qona’ah, serta ridho terhadap takdir. Jiwa yang tenteram tidak akan was-was, gelisah, ataupun stres berlebihan dalam menghadapi hidup.

Dalam bermuamalah dari berkeluarga serta bermasyarakat, dia memberikan kebaikan bagi lingkungannya. Ketika melakukan kekhilafan, dia cepat kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Ma syaa Allah, betapa nikmatnya orang yang telah merasakan surga sebelum surga itu ada. Semoga kita dibimbing Allah menjadi golongan orang-orang yang beruntung.

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 4 Agustus 2017 / 11 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Merasakan Surga di Dunia
    https://www.instagram.com/p/BXXxXn2hsaA/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    https://www.instagram.com/p/BXhnQptDl36/?tagged=surga

 

 

Apapun dari Allah Pasti Terbaik

Hikmah Umar bin Khattab 1
Kebanyakan orang suka sifat menyejukkan karena ada rasa nyaman. Namun sifat sejuk seperti angin sepoi-sepoi yang bergerak dengan tempo yang pas itu bisa membuat ngantuk. Lalu tidur. Apakah tidur hal yang baik? Ya, jika ada maslahat. Atau seperti air yang sejuk menyegarkan orang yang sedang haus. Maslahatnya adalah menghilangkan haus.
Namun jika kita sedang harus terjaga, maka rasa kantuk berpotensi melalaikan.
Kebanyakan orang tidak suka panas matahari yang menyengat. Tidak nyaman. Namun, ketika hujan turun maka matahari dirindukan. Kemana hilangnya matahari.
Jadi, tidak selalu panas yang dirasa itu buruk. Hujan juga belum tentu buruk.
Jika memang Allah kehendaki itu terjadi, maka itulah yang terbaik. Walaupun berbeda dengan prinsip dan selera kita. Barangsiapa yang mampu menaklukkan syahwat dunia, maka setan akan lari darinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Wa’allahu alam bishowab.

Banjarmasin, 18 April 2017