Lepaskan Tuhan Selain ALLAH

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita. Niat seseorang merupakan perkara yang sangat penting. Niat yang salah, maka amal juga bisa rusak. Ketika seseorang hijrah karena wanita, maka ia tidak mendapatkan apa-apa selain wanita. Ketika seseorang hijrah karena harta, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain harta. Dan ketika seseorang hijrah karena Allah, maka ridha Allah yang ia dapatkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di hati kita. Apakah ada tuhan-tuhan yang lain di hati kita? Apakah itu suami atau istri kita? Apakah itu pekerjaan kita? Apakah itu harta kita? Apakah itu anak-anak kita? Apakah tuhan kita adalah pujian orang? Apakah tuhan kita adalah dukungan/like/followers/ridho manusia? Allah Maha Mengetahui. Allah Tau bagaimana timbangan tuhan-tuhan di hati kita dibanding Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Subhanallah. Walaupun perbuatan kita secara dzahir itu baik, namun batin kita harus lurus kepada Allah. Apalagi jika perbuatan kita tidak baik atau melanggar aturan Allah, maka kita harus segera bertaubat.

Kemudian, jika kita tidak ikhlas kepada Allah; ternyata mudah bagi Allah untuk menegur kita semata-mata agar kita mengerti esensi penciptaan hidup. Bentuk teguran ini merupakan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin Allah selamatkan.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Marilah kita periksa hati kita. Barangkali noda-nodanya terlalu banyak. Barangkali dosa dan hawa nafsu telah menghalangi pandangan hati kita dalam mengenali petunjuk-petunjuk Allah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 12 Februari 2018 / 26 Djumadil Awwal 1439H

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Komunitas Insan Qurani

Rasulullah bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Hadits tersebut membuat saya tergugah untuk berbuat sesuatu. Rasanya, amal yang telah saya lakukan selama ini belumlah  cukup. Pasti ada kesalahan dan kesempurnaan. Pasti tercampur dengan noda-noda. Astaghfirullahal adziim…

Seorang praktisi dan pemerhati pendidikan Islam, KH Mohammad Hidayat mengaku prihatin dengan rendahnya kemampuan umat Islam Indonesia dalam baca tulis Alquran. Di kota-kota besar saja, hanya mencapai 70 persen masyarakat yang melek Alquran. “Angka 70 persen itu mereka yang hanya bisa membaca alif, ba, ta, tsa secara terputus. Sementara yang bisa membaca huruf al-Qur`an secara tersambung masih sedikit. Bahkan yang membaca sesuai tajwid hanya beberapa persen saja,” jelas KH Mohammad Hidayat yang juga menjabat Ketua Dewan Pendiri dan Pembina Yayasan Majelis Taklim Al Washiyyah itu.

Kemuliaan Alquran yang luar biasa harus kita jaga. Berikut kutipan dari para guru kita, ulama-ulama klasik mengenal mukjizat Alquran,

Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Alquran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Alquran.”

Berkata Al-Imam Qurtubi:

“Barang siapa yang membaca Alquran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun.”

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah:

“Perbanyaklah membaca Alquran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan dimudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:

“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Alquran,  maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:

“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Alquran”.

Berkata Shaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah Ta’ala”.

“Bergantunglah pada Alquran niscaya kau akan mendapatkan keberkahan”.

Berkata sebagian ahli tafsir:

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Alquran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia.”

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Alquran dan mengamalkan kandungannya.”

Bila Anda cinta pada Alquran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Alquran maka pahala akan mengalir pada anda.

Itulah mengapa, saya lalu membentuk Komunitas Insan Qurani di tahun 2015. Memang hal ini merupakan cita-cita sekaligus passion saya sejak dulu. Komunitas Insan Qurani memilliki kegiatan menyalurkan Iqro’ dan Alquran kepada anak-anak yang membutuhkan. Targetnya kepada anak-anak yang memiliki pendampingan. Artinya, anak-anak tersebut memiliki guru baca Alquran.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Komunitas Insan Qurani, yaitu:

  1. Kolaborasi dengan lembaga amal

Kami bekerja sama dengan TPA, Pondok Pesantren, dan lembaga penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf lainnya. Dari Rumah Zakat, Rumah Buku Ilmi, TPA, Pondok Pesantren, dan masjid-masjid yang membutuhkan.

  1. Memanfaatkan media sosial untuk menggalang bantuan wakaf

Di era media sosial, kami juga menggunakan sarana Facebook, Instagram, dan Path untuk mengumumkan dibukanya donasi wakaf. Biasanya setelah itu, ada saja teman-teman yang tergerak hatinya untuk ikut berdonasi.

  1. Menginformasi amanah wakaf yang sudah disalurkan

Wakaf yang sudah disalurkan, diinformasikan melalui sebuah akun WordPress, termasuk jumlah Iqro’ dan Alquran, lokasi penerimaan wakaf, dan foto-foto kegiatan. Biasanya kami juga sudah update di blog untuk rencana wakaf selanjutnya.

  1. Memperhatikan daerah-daerah terpencil yang membutuhkan

Biasanya, tempat-tempat yang kami pilih memang merupakan tempat-tempat yang layak untuk diberikan wakaf. Tidak hanya di pulau Jawa saja, namun tersebar di seluruh Indonesia.

  1. Saling mendukung dan menyemangati satu sama lain

Ada kalanya relawan kami mengalami kejenuhan. Ada kalanya off untuk berkonsentrasi mengajar TPA, memperkuat hafalan, atau urusan-urusan lain. Namun, kami saling mendukung dan menyemangati agar istiqomah di jalan ini.

Komunitas Insan Qurani memang baru berusia 2 tahun, namun sejauh ini Alhamdulillah dukungan terus mengalir walaupun sedikit. Kami berharap agar komunitas ini istiqomah dalam berkhidmad kepada ummat Islam. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Dirimu Panglimamu


Pernahkah kita mengalami kegamangan dalam menentukan pilihan hidup? Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Bagaimana kita menyikapi kegagalan-kegagalan yang menyertai langkah kita?

Seorang sahabat saya bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu, bahwa ia pindah ke kota kelahirannya dari Jakarta untuk merintis karir dia sebagai notaris dan merawat orang tuanya. Sebelumnya, dia tinggal di Jakarta selama lebih dari 15 tahun. Sahabat saya itu merupakan orang yang berani tegas terhadap apa yang dicita-citakan, namun ia juga melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di dalam perjalanan. Begitulah dia yang berani menjadi panglima dalam diri sendiri. Tentu saja hal itu dilakukan dengan izin dan ridho Allah.

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.

Dalam hadits tersebut, dinyatakan bahwa setiap diri adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab pada apapun pilihan hidup kita. Berani memilih dan berani bertanggung jawab akan membuat kita bahagia dan tidak tertekan. Kita akan menjadi pribadi dewasa karena hal tersebut.

Lalu, bagaimana cara untuk menjadi panglima dalam hidup kita sendiri?

Pertama, tentukanlah goal setting di dunia dan di akhirat.

Kedua, jadikan goal setting tersebut sebagai visi kita. Dan buatlah misi-misi untuk menuju ke sana.

Ketiga, perbaikilah attitude kita. Rendahkanlah hati, jadilah pribadi yang sopan santun, pribadi sabar dan lemah lembut.

Keempat, monitorlah kemajuan kita. Dari situ kita bisa mengerti mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan.

Dalam Riyadhush Shalihin disebutkan tentang kewajiban menegakkan keadilan. Adil dalam dirinya dengan tidak memberatkan pada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah, dia harus memperhatikannya hingga kepada masalah kebaikan, jangan memberatkan dan membebankannya terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.

Panglima artinya dia juga akan memimpin peperangan. Perang di sini merupakan perang terhadap musuh-musuh ataupun tantangan-tantangan yang bisa menghalangi tujuannya. Musuh tidak selalu merupakan orang lain. Misalnya, dia masih malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Maka, dia berperang untuk memotivasi diri, untuk tidak mudah patang arang, dan untuk tidak mudah bosan.

Semua orang di dalam perjalanan hidup akan menghadapi titik jenuh. Di sinilah dia butuh refreshing atau memetakan kembali arah hidup. Ada aspirasi-aspirasi dan kesempatan-kesempatan yang datang juga jangan ditampik, namun dipertimbangkan.  Terkadang, seseorang terlalu fokus pada suatu pekerjaan, sehingga dia lupa apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ini juga bukan hal yang baik. Karena menjadikan seseorang kaku dan egois. Yang terbaik adalah, kita tetap peduli dan tanggap pada lingkungan. Ini menjadikan kita manusia yang efektif, yang tidak hanya mencapai keberhasilan pribadi namun mampu memberdayakan dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Seorang panglima, pasti punya pasukan. Jika kita sudah beres dengan diri kita sendiri dan arah hidup kita, maka akan lebih mudah kita memiliki orang-orang yang mau diajak bahu-membahu dalam membangun visi. Bukankah manusia terbaik merupakan manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 26 Oktober 2017 / 6 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

 

Hijrah dan Keterasingan

Subhanallah. Sudah lazim bahwa di negeri kita; apa yang berbeda sedikit akan disorot. Masih banyak hal-hal yang sesuai tuntunan Rasulullah namun disorot karena berbeda. Misalnya: kebiasaan tidak bersalaman dengan nonmuhrim, memakai hijab di depan ipar-ipar dan kerabat yang nonmuhrim, atau tidak melakukan ritual-ritual yang mengarah pada syirik seperti: perhitungan dan ramalan hari pernikahan, ataupun ritual meminta ke kuburan.

Sebenarnya fenomena keterasingan ini sudah dikatakan oleh Baginda Rasulullah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Maka, jika kebetulan kita merupakan pihak yang merasa asing atau dianggap asing; bersyukurlah. Jangan berkecil hati karena kita sedang mengamalkan Islam dengan kaffah. Islam yang kaffah artinya totalitas dan bersifat holistik terhadap ajaran Islam. Islam yang kaffah berarti menggunakan paradigma Alquran dalam menyikapi kehidupan. Islam yang kaffah berarti mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sebagai junjungan kita.

Masyaa Allah. Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal ini? Ternyata Islam memberikan kita solusi untuk berkumpul bersama teman-teman yang sholih. Bukankah teman itu besar pengaruhnya pada kita? Teman-teman yang dengan melihatnya kita bisa ingat kepada Allah Azza wa Jalla itulah yang menolong kita. Bahwa nanti di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan amal masing-masing, namun ada syafa’at dari teman-teman sholih jika kita bersama mereka dalam ketaatan.

Hadir ke majelis ilmu juga merupakan penguat dalam hijrah kita ke jalan Allah. Majelis ilmu akan menuntun keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Ilmu lalu amal. Begitulah alurnya. Setelah kita faham ilmunya, maka ilmu itu hanya akan bermanfaat jika digunakan, dipraktikkan, atau diamalkan.

Lantas, mengapa orang-orang antipati terhadap mereka yang berhijrah? Mari kita renungi dan turunkan ego untuk bermuhasabah. Bisa jadi itu karena akhlak mereka sendiri. Di saat mereka tidak ramah, merasa suci, merasa paling benar, merasa paling baik, hanya mau menolong yang sama atau segolongan dengan mereka; maka itulah kerusakannya. Itulah yang menyebabkan orang-orang tidak simpatik. Astaghfirullahal adziim… Jangan pernah merasa sombong dan angkuh dengan keimanan kita, jangan bersikap melangit karena ketaaatan kita. Karena setitik sifat sombong akan menghalangi kita dari surga. Hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak memiliki kesombongan.

Berhijrah juga membutuhkan doa agar diberikan istiqamah. Karena kita tau bagaimana syaitan menggoda kita dari segala arah. Dan kita wajib berdoa untuk husnul khotimah.

Apabila langkah-langkah tersebut kita jalankan dengan sabar dan ikhlas mengharap pada ridho dan pahala Allah, maka In syaa Allah kita akan mendapati ketenteraman hidup. Kita menjadi lebih tawakkal setelah ikhtiar. Bahwa apapun yang diberikan Allah Azza wa Jalla merupakan nikmat yang sangat indah. Mengenal Islam itu indah.

Semoga kita senantiasa dibantu Allah agar istiqamah dalam hijrah. Aamiin aamiin ya mujibassailiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 24 Oktober 2017 / 4 Safar 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Unsplash

Takdir Ikhtiar dan Berserah Diri

Tafakur merupakan ibadah dalam diam. Ketika kita mentafakuri tempat dimana kita berpijak saat ini, kita merenung kehidupan kita ini lebih banyak sesuai dengan rencana kita atau ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai rencana kita? Saya kerap mengobrol dengan suami tercinta, bahwa saya tidak pernah memiliki ide atau keinginan untuk tinggal di Palembang. Begitu pula dengan suami saya. Suami saya sebelumnya pernah tinggal di kota Pontianak.

Bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi idaman di Jakarta Selatan merupakan impian saya sejak lulus kuliah. Tinggal di Jakarta merupakan impian saya yang sudah menjadi kenyataan selama 10 tahun. Alhamdulillah, departemen saya bekerja juga merupakan impian saya. Alhamdulillah, Allah izinkan cita-cita saya tersebut sejalan dengan skenario Allah.

Namun, bagaimana pertemuan saya dengan suami bukanlah merupakan rencana saya. Kami dikenalkan oleh salah seorang sahabat saya dan ternyata kami berjodoh. Proses jodoh kami tidak didapatkan dengan mudah, namun berliku-liku. Allah Azza wa Jalla telah mengatur bagaimana cerita hidup suami saya harus menjadi dosen di sebuah universitas di Pontianak untuk menjadi rekan sejawat sahabat saya tersebut. Ini tidak akan terjadi jika sebelumnya suami tidak mengambil kuliah S2 Farmakologi di Fakultas Kedokteran. Masya Allah, sungguh semua yang terjadi dalam kehidupan kami telah tersusun dengan detil oleh Allah Azza wa Jalla.

Dalam sebuah tausiyahnya, Ustadz Arifin Jayadiningrat berkata bahwa garis hidup manusia adalah ujian. Pun begitu banyak peristiwa dalam hidup yang tidak terduga. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam Surat Al-Mulk;

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Lantas, bagaimana cara kita menyikapi kehidupan ini? Ternyata, menurut Allah dan tuntunan Rasulullah, kita diperintahkan ikhtiar untuk mengubah keadaan, kita diperintahkan untuk takwa, dan pada akhirnya seorang mukmin adalah orang yang berserah.

Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS. Ar-Rad:11)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Kita tidak boleh tergoda untuk melakukan cara-cara yang menyimpang dari apa yang disukai dan diridhoi Allah. Ketika ujian itu sedang di puncak-puncaknya, hingga membuat kita jatuh dan mengalami masa-masa gelap, ingatlah bahwa semakin gelap malam adalah pertanda pagi segera hadir. Hari ada pagi, ada siang, ada sore, dan ada malam. Musim di negara tropis seperti kita ada musim kemarau dan musim hujan. Lalu, bandingkan bahwa yang kita alami masih belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang dialami para Nabi.

Ketika hadir suatu ujian, maka yang pertama kita lakukan adalah sabar menerima. Sabar adalah pada hentakan pertama. Di situlah kita mendapatkan pahala kesabaran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berkata, ”Menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya.” Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang yang berkata tadi adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita ini berkata, ”Aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Ujian di dalam kehidupan ini bisa membuat kita mulia dan bisa membuat kita hina. Ketika kita diuji dengan keluarga, diuji dengan pasangan hidup, diuji dengan sakit, diuji dalam lingkungan, diuji dalam proses belajar, diuji dengan pekerjaan dan ekonomi, maka yakinlah bahwa semua itu merupakan tanda-tanda cinta Allah pada kita. Mengapa demikian? Karena Allah rindu kita bangun di sepertiga malam, Allah rindu doa-doa kita, Allah ingin kita taubat dari dosa-dosa yang kita lakukan sebelumnya, Allah ingin kita sadar dari kelalaian kita selama ini. “Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani)

Balasan tertinggi dari ini semua adalah kecintaan Allah. Siapakah di alam semesta ini yang tidak mau dicintai Allah?

Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi,” (Muttafaqun Alaih).

Doa di dalam Islam merupakan inti ibadah. Justru Allah akan marah jika hamba-Nya tidak pernah berdoa. Salah satu doa yang sering dibaca oleh Rasulullah, yaitu:

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik

Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Dalam kehidupan ini, tugas kita hanyalah taat pada Allah dan mengikuti utusan Allah yang terakhir, yaitu: Nabi Muhammad. Bukan di sini bahagia kita yang sebenarnya. Bagi seorang mukmin hatinya akan terpaut pada akhirat. Dunia merupakan tempat berbekal menuju kampung halaman akhirat yang abadi. Wallahu a’lam bish-shawab

Palembang, 17 Oktober 2017 / 27 Muharram 1439H

Ditulis khusus untuk: Kelas Artikel (Ketik) 6, Inspirator Academy

Ilustrasi Gambar: Amazing Wallpaperz

Memahami dan Mengamalkan Petunjuk Allah

Menjalani kehidupan dengan suka-duka, godaan, dan cobaannya pasti memerlukan petunjuk dari Allah Yang Maha Menciptakan serta Rasul-Nya.

Seorang dinamakan sholih(ah) jika memiliki hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan sesama (habluminannas). Dalam upaya menjaga serta memperbaiki, kita melakukan muhasabah (habluminafsi) agar jangan sampai kita menggunakan cara yang jauh dari yang ma’ruf, walau tujuan kita benar.

Menjaga perasaan serta kehormatan (marwah) orang lain juga merupakan akhlak kita, walau kita faham hukumnya. Maka pilihlah cara yang lembut namun jelas, sebagaimana kita juga ingin mendapatkan empati, penghargaan, dan kasih sayang. “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12]:90)

Palembang, 12 September 2017 / 21 Dzulhijjah 1438 H

Kaidah Belajar Agama

Mempelajari agama Islam dibutuhkan rujukan yang valid dan guru yang baik. Imam Syafi’i dalam kitab Ta’lim Muta’alim menyebutkan enam syarat menuntut ilmu, “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi 6 syarat, yaitu: kecerdasan, semangat, sabar, biaya, petunjuk (bimbingan) guru, dan dalam tempo waktu yang lama.”

Ketika pertanyaan-pertanyaan berikut muncul,
“Apakah sejatinya arti dari agama itu?”
“Mengapa orang mempelajari agama?”
“Bagaimana mempelajari agama dengan benar?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak seseorang yang memiliki rasa keingintauan yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Agama merupakan suatu tuntunan atau ajaran kehidupan dari Dzat Yang Menciptakan makhluk agar makhluk memiliki fondasi dan langkah-langkah untuk menjalani hidupnya. Agama merupakan bentuk dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Aturan-aturan agama bukanlah sesuatu yang mengekang kebebasan, namun sesuatu yang sesuai dengan blue print manusia agar hidupnya lancar, bahagia, dan selamat. Islam adalah agama yang dibawa oleh penyampai pesan kepada umat manusia, yaitu: Rasulullah SAW sebagai agama yang terakhir untuk semesta alam. Di dalam fitrah manusia, ada kesucian dan kebaikan budi yang membuat seseorang condong pada kebenaran. Di sinilah awal mula seseorang mempelajari agama. Kemudian, untuk mempelajari Islam dibutuhkan rujukan yang valid, yaitu: Kitabullah Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, dalam mencerna Al-Qur’an dan Al-Hadits, seseorang membutuhkan guru.

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Untuk memahami agama Islam dibutuhkan pertama kali adalah tauhid. Kalimat Laa Ilaha Ilallah di atas merupakan kalimat tauhid, yang artinya: mengesakan Allah. Inilah landasan aqidah atau keyakinan Islam.

Saya melampirkan di dalam tulisan ini sumber dari Rumaysho.com;

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dibutuhkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita.

Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.

Kitab Masalah Tauhid:

1. Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.
3. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
4. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.

Kitab Akidah:

1. Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi.
2. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah.
3. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal.
4. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.
5. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
6. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz.

Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.

Kitab Tafsir:

1.Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat.
2. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah.
3. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.
6. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir.
7. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i:

1. Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i.
2. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar.
3. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk.
4. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi.
5. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.

Kitab Fikih dari Ulama Belakangan:

1. Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
2. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
3. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq.
4. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
5. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
6. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

Kitab Hadits:

1. Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi.
2. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali.
3. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
4. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
5. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani.
6. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.

Kitab Sirah Nabawiyah:

1. Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
2. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
3. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.

Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab:

Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi.

Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin:

1. Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk.
2. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali.
3. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).

Kitab Akhlak:

1. Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari.
2. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah.
3. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.

Kitab Amalan:

1. Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali.
2. Al-Adzkar: Imam Nawawi.

Kitab Dosa Besar:

Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Sejarah Para Ulama:

Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.

Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf):

1. Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya.
2. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji.
3. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran.
4. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.

Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, kaidah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok.

Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik.

Disunting dan ditulis kembali oleh: Ilma Pratidina

Palembang, 12 Agustus 2017 / 20 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar
    https://rumaysho.com/12411-buku-referensi-belajar-islam-dari-dasar.html
  2. Ilustrasi Gambar
    Tadabbur Daily

Merasakan Surga di Dunia

Bagi seorang mukmin, segala yang dia lakukan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu: akhirat. Segala amal ibadah serta harapan digantungkan pada 1 cita-cita, yaitu: surga. Level surga itu berbeda-beda, namun keselamatan dari siksa kubur dan siksa neraka adalah harapan bagi mereka yang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)” ( QS.Ad- Dukhaan: 51-55 )

Ibnu Taimiyah berkata kepada Ibnu Qayyim bahwa orang-orang yang beriman dan mengikuti ajaran Rasulullah akan merasakan surga dunia sebelum surga akhirat. Hal tersebut membuat seorang mukmin yang mencintai dan dicintai Allah sudah merasakan kenikmatan surga dunia.

Apa itu surga dunia? Surga dunia adalah memiliki qalbun salim (hati yang selamat) serta nafs muthnainah (jiwa yang tenteram). Hati yang selamat akan bersih dari penyakit hati, merasa qona’ah, serta ridho terhadap takdir. Jiwa yang tenteram tidak akan was-was, gelisah, ataupun stres berlebihan dalam menghadapi hidup.

Dalam bermuamalah dari berkeluarga serta bermasyarakat, dia memberikan kebaikan bagi lingkungannya. Ketika melakukan kekhilafan, dia cepat kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Ma syaa Allah, betapa nikmatnya orang yang telah merasakan surga sebelum surga itu ada. Semoga kita dibimbing Allah menjadi golongan orang-orang yang beruntung.

Baarakallahu fiikum. Wallahu a’lam bish-shawab.

Palembang, 4 Agustus 2017 / 11 Dzulqa’idah 1438 H

Referensi:

  1. Merasakan Surga di Dunia
    https://www.instagram.com/p/BXXxXn2hsaA/?taken-by=ilmapratidina
  2. Ilustrasi Gambar
    https://www.instagram.com/p/BXhnQptDl36/?tagged=surga